"Kamu marah?" Untuk kesekian kalinya pertanyaan El-Fatih di abaikan oleh Niana. "Iya, kamu pasti marah." Putus El-Fatih begitu saja. Melihat keterdiaman Niana sejak tadi, tidak salah jika El-Fatih berpikir bahwa Niana memang marah kepadanya. Perempuan waras mana yang tidak akan marah jika tiba-tiba di datangi oleh perempuan lain yang mengaku sebagai pacar dari pacarnya. El-Fatih kembali mengacak rambutnya dengan frustasi, lalu duduk berjongkok di depan Niana yang tengah menonton tv dengan pandangan lurus. El-Fatih menggenggam kedua tangan Niana, tidak ada perlawanan dari perempuan itu. "Niana, kamu boleh tampar aku sekarang juga. Aku emang b******k, seharusnya aku nggak---" "Berapa banyak lagi perempuan seperti Stevia yang akan datang kayak tadi dan mempertanyakan keseriusan kamu?"

