Aurora tersenyum hangat mendengar ucapan Zean. “Terima kasih ya… kalian gak pernah maksa Mommy.” Zoya dan Zean kompak mengangguk, senyum mereka manis dan polos. Pemandangan kecil itu membuat hati Aurora seolah mencair hangat, tapi juga perih. Maaf, sayang… Mommy belum bisa kasih tahu siapa Daddy kalian. Dan… dia bukan pria yang bisa kalian banggakan sekarang… Untuk menutupi gejolak di dadanya, Aurora mencubit lembut pipi Zoya. “Kalian berdua ini, bisa gak sih berhenti bikin Mommy hampir nangis tiap pagi?” Zoya terkikik kecil. “Soalnya Mommy gampang banget terharu.” Aurora pura-pura melotot. “Iya ya, salah Mommy, punya duo tukang drama di rumah.” Belum sempat Aurora membalas lagi, Zean mengangkat tangan tenang seperti mau rapat. “Mom, boleh gak roti ini dikasih ke tetangga kita?” Aur

