“Yasmin, kenapa aku harus seperti ini? Jika masih ada kamu di sini mungkin perasaan bersalahku pada Indra dan Raimas tidak akan ada.” Langit Bogor masih kelabu. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang melekat di udara. Di kamar vila yang temaram, Ibnu berbaring setengah duduk di sisi ranjang, menatap Raimas yang tertidur pulas di sampingnya. Rambut istrinya terurai berantakan di bantal, wajahnya tenang—seolah dunia di luar sana tak pernah menyentuh hatinya. Namun di jantung Ibnu, Nampak aka nada badai yang menerjang. Ia menatap wajah itu lama, dan di sela-sela diamnya, pikiran buruk datang silih berganti. Indra. Nama itu seperti gema yang tak mau berhenti di kepalanya. Meskipun kemarin ia masih baik menerika hadirnya Indra di studio, tapi sekarang bisikan-bisikan cembu

