bc

KETURUNAN TERLARANG

book_age16+
14
IKUTI
1K
BACA
dark
drama
tragedy
mystery
like
intro-logo
Uraian

Menjadi siswa sekolah elit yang masuk melalui jalur beasiswa tidaklah mudah. Amore, yang biasa dipanggil Ame, berjuang mendapatkan nilai terbaik dan mengikuti segala kegiatan dengan optimal. SMA Satria yang legendaris, begitulah sekolah tersebut dinamai. Seolah mewakili namanya, siswa di sekolah tersebut juga legendaris.

Adalah Ian dan si kembar El dan Jeroen, siswa yang menjabat sebagai kelompok elit di sekolah. Sebuah kelompok yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apa sebenarnya yang tersembunyi dari kelompok tersebut?

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Angel & Evil.  Adalah dua karakter yang sangat lumrah ada dalam diri manusia. Keduanya berperan tergantung pada mana yang lebih dominan dan mana yang dipilih oleh manusia itu sendiri. Lalu, bagaimana dengan menyembunyikan karakter yang terpilih itu di balik satu karakter yang ditunjukkan karena suatu paksaan? Mungkin saja itu taktik. Lantas, bagaimana bila seseorang masih berdiri dalam persimpangan tanpa tahu apa yang akan ia pilih, atau malah menyelam dalam dua perairan sekaligus dan mencicipi pahit manisnya dua karakter itu? Apakah bisa disebut plin-plan? Bukan! Statusnya masih sebagai Pencari. “He is still a seeker. Looking for himself on himself”  aku berbisik pada diriku sendiri. Begitulah aku menoba memahaminya, sekuat tenaga, semampu yang aku bisa. Dan aku tidak pernah mengandalkan yang lain selain Sang Waktu –untuk mengubahnya, menjadi seorang penemu. Bukan pencari lagi. ***** Sera masih betah berjalan dengan riangnya sambil merangkulku. Sepanjang menyusuri deretan lukisan mengagumkan yang terpajang di dinding, matanya  terus berbinar. Bahkan senyum dari bibirnya tidak pernah sekali pun luput untuk menyentuh matanya. Berbeda denganku yang dari tadi sibuk dengan kamera dan catatan kecil yang kukalungkan di leher. Apalagi kalau tidak untuk membuat laporan yang harus langsung dikumpulkan besok. Terkadang aku berpikir, apakah aku yang sok sibuk ataukah memang temanku yang kelewat santai. Ia bahkan belum membuat catatan secuil pun.               Ketika sampai di lantai paling atas, ia melepas tanganku dan meluncur cepat ke arah lukisan paling besar dan paling mencolok di tengah ruangan, lalu berbalik menghadapku lagi. Masih dengan senyum mengembang di seluruh wajahnya. Aku yang tidak terlalu cepat dan sejeli dia dalam memperhatikan lukisan, hanya mampu bertanya-tanya sendiri. Apa yang membuat Sera langsung meloncat dan hinggap di lukisan itu? Well, maksudku di depan lukisan itu. Pandanganku tertumbuk pada sebuah lukisan dengan pigura paling megah di depanku.              “Bagaimana menurutmu?” tanya Sera sambil melipat dua tangannya di depan d**a. Aku belum bereaksi lebih. Mataku masih terpanah. Tentu saja. Itu lukisan paling….. Ah yang terlontar di otakku hanyalah kata –wow-wow- dan..wow lagi. Aku melihat pria tua yang begitu nyata terbingkai di depan mataku. Tua, namun sangat hidup… bahkan kurasa daya dan tenaga yang terpancar dari tubuhnya bisa memporak- porandakan bangunan ini dalam sekali hentak. Tentunya jika ia tidak terkurung dalam kanvas dan bingkai berukir naga itu. Tapi.. tetap saja, energinya bisa kurasakan di tempatku berdiri. “Wow..” Benar bukan? Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutku. Sera mendesah pelan. Kecewa dengan tanggapanku—kurasa. “Oh ayolah, aku tahu kau bisa lebih baik,” Aku tidak lagi menganga seperti orang bodoh, mulutku sudah bisa berkoneksi dengan otakku sekarang. Dua detik berselang, mulutku sudah terkatup. “Sangat membara, hidup, dan.. tua.” Aku mengangkat bahu kurang yakin. Ia mengangguk mantap kemudian kembali ke sisiku lagi “Tertarik ikut kompetisi melukis realis? Aku berani bertaruh kau bisa membuat yang lebih mencengangkan dari ini.” Ia sedikit menelengkan kepalanya ke kanan, membuat rambut lembutnya yang sepanjang bahu itu menjuntai tepat di depan mataku. Giliran aku yang mendesah. Amatiran sepertiku mana mungkin menyaingi lukisan seperti itu. Jubah merah, mahkota, tongkat, dan matanya dilukiskan sangat sempurna. Sera justru berputar-putar mengelilingiku seperti penari balet yang kakinya keseleo. “Kenapa? Tidak percaya diri? Hmm.. kau tidak seru” “Memang belum ada yang bilang begitu,” balasku cuek. “Ame, dalam prinsipku, apapun yang bertema gratis tidak bisa dilewatkan. Baca!” Ia membentangkan brosur yang entah tadi ia selipkan di mana. “Daftar gratis, dilengkapi fasilitas. Ini kesempatan.” Ia menunjuk tulisan di brosur itu. Aku sedikit kesal, apakah dia bisa mengintip pikiranku? Atau tahu apa yang bakal kukatakan? Masa bodoh. Aku cuma bisa mengangguk lemah. Benar-benar mengacungkan bendera putih sebelum menginjak medan perang. “Cari saja model yang auranya bagus, Pak Mastur, Ketua kedisiplinan, Sebastian si kapten baseball, Efam, atau..” Lanjutnya seperti menimang-nimang kandidat yang menurutnya layak dijadikan model. “Kau.” Lidahku keburu beraksi untuk menghentikannya menyebutkan kandidat yang semakin lama semakin membuatku tidak yakin. Sinar di mata Sera makin pijar, “Oh, sekarang aku tidak punya alasan untuk tidak mengatakan bahwa kau teman terbaikku. Kau sangat mengerti, Ame.” Katanya sambil memelukku. Aku mengangkat bahu. “Aku tidak mau menyia-nyiakan aura temanku yang hangat seperti musim panas.” Aku heran, mengapa wajah sumringahnya tidak muncul lagi. Rupanya bayanganku sudah lenyap dari bola mata temnaku ini, aku mengikuti kemana arah ia menatap. Tiga murid laki-laki dari sudut kiri gedung berjalan mendekat. Dua di antaranya kembar, mereka berjalan sejajar dengan rambut agak panjang menutupi telinga. Bibirnya menyungging ke satu sisi, memancarkan ketampanan dan kebanggaan yang derajatnya di atas anak-anak lain. Satu lagi berjalan sedikit mendahului dua saudaranya, tanpa tanda-tanda senyuman di wajahnya. Tangannya disimpan di saku celana, rambutnya adalah yang paling hitam dan paling pendek dari yang lainnya, dan wajahnya.. rasanya kata tampan terlalu klise untuk menggambarkannya. Kakak tertua, pelindung sekaligus yang paling dihormati—meski menurut selentingan yang kudengar, si kakak tertua adalah anak adopsi keluarga mereka yang jarak usianya tidak jauh dari si kembar. “Aku tidak tahu. Aku tidak pernah menyama-nyamakan atau bersikeras mencari perbedaan antara Zidan dengan Angelo tertua itu. Tapi aku tidak bisa menghindar. Terkadang aku merasakan kesaamaan yang mutlak di antara mereka, tapi ada kalanya juga aku justru melihat perbedaan yang sangat kuat.” Sera memperhatikan sosok itu hingga membuatnya berhenti bergerak. “Memang saudaramu seperti apa? Mirip seperti Ian?” Tanyaku. “Ssstt.. jangan keras-keras!” Katanya berbisik. “Yang jelas Zidan jauh lebih baik! Lebih tampan, ramah, dan murah senyum.” Suaranya kian melemah seiring dengan mendekatnya sosok yang kami bicarakan. “Tampan itu relatif.” Sahutku yang langsung membuat bibirnya mengerucut. Ian berjalan diikuti kedua adiknya tanpa menoleh ke arah kami sedikit pun. Bahkan lukisan yang memenuhi ruangan hanya sebatas dilewatinya. Tanpa niatan untuk berhenti atau pun melemparkan lirikan berarti. Sera sudah beralih menambah catatan yang sudah kubuat. Tentu saja kami akan membagi bagian yang akan kami laporkan agar tetap terlihat seperti laporan individu. Sementara mereka bertiga –terutama si kembar yang sejak tadi hanya tersenyum meremehkan ke arah lukisan yang dipamerkan. Apa mereka membayar orang untuk membuat laporan? Mungkin saja. Mana mungkin mereka sanggup merekam apa yang mereka lihat dalam satu kedipan saja. Mustahil. Ian dan kedua saudaranya, El dan Jeroen melenggang keluar pintu gedung. Dibanding aku, kelihatannya Sera lebih intens mengamati mereka bertiga. Sampai-sampai aku harus mengulurkan tangan untuk menariknya agar tidak menghalangi jalan pengunjung lain karena terlalu fokus pada tiga orang itu hingga lupa daratan. “Aku punya firasat dia akan pulang dalam waktu dekat. Kau harus bertemu dengannya.” Katanya sembari menempelkan tiket parkir ke mesin. “Setuju. Aku tunggu.” Sahutku sambil menyematkan senyum yang menurutku paling manis.                     

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook