2

1334 Kata
-Not Responding- “Argh!” spontanitas aku mengeram. Detik selanjutnya terdengar suara tongkat ayahku. Perlahan ia membuka pintu kamarku—mengintipku dari ambang pintu, dan detik itu pula aku menyesal karena tidak bisa menahan suara dari mulutku yang tidak paham situasi rumah. “Error lagi?” tanya ayahku memastikan. “Ah, macet seperti biasa. Aku yang ceroboh, lupa menyimpan datanya.” Jawabku seolah ini sama sekali tidak menjengkelkan, kemudian membungkuk untuk memencet tombol restart dengan ujung bolpoin. Setelah berdiri lagi, aku berusaha tersenyum. Sungguh bodoh sudah membuat ayahku kaget dan buru-buru kemari. “Sial… mati lagi!” aku mengacak rambutku frustasi, lagi-lagi lupa kalau ayah ada di sini. “Maafkan ayah, Ame. Ayah tidak bisa melakukan tugas dengan baik.” Ayahku bicara dengan suara lemah. Aku semakin mengkeret. Merutuki diri sendiri. “Mana mungkin ayah terbaik di dunia tidak melakukan tugas dengan baik?” kataku sambil mengecup pipi ayahku. Berharap gurauanku bisa mencairkan situasi. “Tugas itu dikumpulkan besok?” tanya ayahku ketika melirik note yang kutempel di komputerku, ia sudah mencondongkan tubuhnya lebih ke dalam sekarang. “Em… ya” jawabku sambil melakukan kebiasaan yang kali ini begitu terasa bodohnya. Aku menggigit bibir sambil mengentak-entakkan kaki di lantai yang tentu saja tidak bisa membohongi ayahku kalau aku sedang kalut dan bingung. “Kalau saja kaki ayah tidak seperti ini, kau akan punya komputer yang layak.” Kerut di wajah ayahku sekarang makin terlihat jelas. Matanya seperti baru termasuki kerikil-kerikil. Aku meletakkan tangan ayahku di pipiku  “Ayah..” Aku tersenyum. “Ayah selamat dari kejadian itu saja sudah membuatku senang. Rasanya aku makhluk yang paling disayang Tuhan, karena diberi kesempatan lagi untuk bersama ayah.” Akhirnya ayahku menarik urat wajahnya untuk membentuk senyuman. “Sekarang aku pamit ke rumah Sera untuk mengerjakan ini, oke?” seruku melonjak dengan gaya yang semoga ayahku menganggapnya sebagai keceriaan. “Hati-hati.” Pesan ayahku. “Siap! Sekarang ayah tidur, jangan cemas. Aku membawa kunci.” seruku seraya menyabet tas yang kugantungkan di dekat pintu. Langkahku yang terkesan buru-buru membuat ibu yang baru selesai berkutat di dapur mengerutkan keningnya. Matanya menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil menyatukan kedua alisnya. “Mau ke mana, Ame?” Ayah mengangkat satu tangan, menyuruh ibu berhenti bertanya dan mencegahnya untuk protes. Akhirnya ibu mendesah dan membuka kedua tangannya. Aku pun langsung memeluknya dan mengecup pipi ibuku yang disinggahi t**i lalat kecil. “Jangan kelewat malam.” Katanya mengingatkan. “Akan kuusahakan, d**a…” aku membuka gagang pintu sambil melambaikan tangan. *** “Aku antar pulang.” Kata Sera setelah aku mematikan laptopnya. “Tidak usah, karena aku baru saja menyelesaikan setumpuk laporan, kau tidak berpikir aku bakal pingsan atau lupa jalan pulang, kan?” “Sedikit”  “Sera…” Enggan mendengar protesku lagi, Sera langsung menyodoriku koran yang tergeletak di mejanya. Aktivitas geng dalam taraf mengkhawatirkan. Terjadi 4 kasus dalam seminggu hari terakhir. Polisi himbau warga untuk selalu waspada dan menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari.               “Aku tidak bercanda, Ame.” Sera setengah melotot, sorot matanya membuatku bergidik. Meski badannya jauh dari kata kekar seperti Laila Ali, Sera sudah lama belajar Thai Boxing.               “Well.. terserah kau saja.” Aku memilih jadi anak penurut saja malam ini. Ini demi kebaikanku juga bukan? Tidak ada salahnya, lagi pula aku memang sudah terlanjur merepotkan Sera dari awal. Jadi kalau cuma mengantarku pulang dengan mobil kodoknya yang masih berani ngebut itu—bukan apa-apa baginya. ***               Tempat duduk di pojok menjadi pilihanku. Garis-garis tegas dari sorotan matahari yang menuju ke barat menembus kaca dan menusuk kanvasku dengan tajam. Membuatku b*******h untuk melukis.               “Kalau tidak mau mengikuti saran saya, lebih baik sudahi saja pelatihan ini.” Seingatku ini adalah ke-tiga kalinya Wanda mendapat teguran seperti ini dari Pak Kusman. Kali ke-duanya, Sera yang sangat anti dengan sikap idealis Pak Kusman membujuknya untuk memberi Wanda kesempatan. Namun, entah sudah bawaan atau disengaja, Wanda masih saja berontak. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku menjadi Wanda, mungkin sudah hengkang dari kelas ini.               “Saya tidak bisa menahan diri untuk menambahkan warna hitam pada lukisan saya.” Wanda mencengram lukisannya erat lukisannya, seakan ia ingin menancapkan kukunya terhadap kanvas itu. Merobek setiap inchi goresan yang ia buat.               “Bawa lukisan itu keluar, atau Anda yang saya persilahkan keluar.” Pak Kusman berkata sambil menunduk. Ia Seras berdebat kali ini. Aku ingin mengatakan sesuatu, menentang mungkin. Tentu saja aku kurang nyaman dengan keputusan itu. Sebelum salah satu dari pilihan yang diberikan Pak Kusman terlaksana, atau Serah dua-duanya terlaksana, aku ingin membela temanku itu.             Baru membuka mulut, seseorang membuka pintu dan memasuki ruangan. “Maaf, saya terlambat.”               “Tidak masalah, silahkan” Pak Kusman mempersilahkan orang itu untuk mengikuti kelas. “Wanda?” Mata Pak Kusman kembali lagi ke arah Wanda.               Wanda hanya diam.               Saat mata laki-laki itu menumbuk lukisan di tangan Wanda, seketika ia menghentikan langkahnya. “Oh.. saya baru tahu kalau anda bukan termasuk pelukis yang mengharamkan warna hitam dalam lukisan impresionis.” Serunya.               Pak Kusman menggeleng tanda protes. “Anda salah paham.”               “Bahkan siswa anda bisa membuat karya menakjubkan seperti ini, Anda sungguh berhasil!” Si pendatang baru itu tidak menghiraukan dan terus mengoceh.               Pak Kusman mendesah, berdehem lalu terlihat gerakan menelan ludah di lehernya yang sudah kisut sebelum akhirnya berkata. “Bagi saya ini sama sekali bukan sebuah pencapaian atau kebanggaan.”               “Boleh saya bicara?” Dengan enteng orang baru itu meminta izin. Pak Kusman berpikir singkat lalu membuka bibirnya lagi. “Silahkan.”               Sambil mendengarkan dengan saksama, Pak Kusman melipat tangannya di d**a, satu tangannya memelintir kumisnya yang tampak abu-abu dari tempatku duduk. Ia memperhatikan tanpa menunjukkan tanda-tanda yang biasanya diperlihatkan, tanda-tanda akan mencibir komentar lawan bicaranya.               “Lukisan impresionis adalah lukisan yang menjadikan pantulan cahaya sebagai nyawa dan tujuan seninya. Jika cahaya yang memantul pada bagian yang menyebabkan bagian lain yang tidak terkena cahaya, dimana ketidakterkenaannya akan cahaya itu memperindah bagian yang lain, apakah warna hitam masih terlarang untuk menggambarkan keadaan itu? Saya kira apa yang dilakukan rekan saya tadi bukan hal yang menyalahi konsep. Anda tentu tahu sejarah lukisan impresionis, bukan?” Aku tidak menyangka, kalimat yang dia keluarkan panjang sekali, lancar, dan bisa dibilang…. cepat.  “Tentu saja. Lukisan yang menciptakan gaya baru.” Pak Kusman akhirnya menanggapi.               “Jadi jika gaya yang digunakan oleh siswa Anda adalah gaya baru yang mengagumkan, kenapa harus dilarang? Saya rasa hanya sebagian seniman yang tidak suka warna hitam, itu juga tidak mutlak, bukan?”               Pak Kusman menarik ujung bibirnya. Aku melebarkan mataku, memastikan apakah itu senyuman, atau hanya smirk. Ternyata itu murni senyuman. “Masuk akal” katanya sambil merubah posisi tangannya menjadi hinggap di kedua pinggangnya.               “Tentu saja.” Ujar si pendatang baru itu, lagi-lagi dengan senyuman. Giginya yang putih dan rapi mengintip dari sela bibirnya.               “Apa yang baru saja dikatakan Mr.Anderson benar, sekarang Anda boleh kembali ke tempat Anda.” Ujar Pak Kusman pada Wanda. “Ah, Ya! Mr.Anderson, perkenalkan diri Anda.”               “Saya Zidan Anderson, mohon bantuannya.” Dengan wajah yang benar-benar cerah, pendatang baru itu memperkenalkan diri.               “Zidan, as usual.” Sera mendesah pelan, lantas tersenyum. “Tapi kalau dia tidak datang, mungkin lukisan Wanda sudah tidak di sini.”               Kalimat Sera sontak membuatku melirik ke arah Sera yang duduk di sebelahku. “Dia Kakakmu?” Tanyaku.               “Siapa lagi yang punya wajah berseri dan mulut seperti itu kalau bukan Kakaknya Sera Anderson.” Kata Sera sambil menyamai senyum yang terukir di wajah kakaknya.               Anggota baru itu, maksudku Zidan, berjalan ke tempat duduk kosong yang berada tepat di belakangku. Saat melewatiku yang terus memandanginya, ia menorehkan senyum kepadaku. Tentu saja kubalas senyumannya walaupun sedikit canggung. Masa bodoh aku ketahuan memperhatikannya atau tidak, semua anggota bimbingan Pak Kusman di kelas ini memang memperhatikannya bukan? Bedanya aku agak intens karena ingin mencari kesamaan antara temanku dengan saudara kebanggaannya ini. Sejurus kemudian tangannya yang tidak memegang perlengkapan melukis mengacak rambut Sera. Sera menjulurkan lidahnya, benar-benar reaksi kekanak-kanakan. Tapi senang melihat dua saudara ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN