3

931 Kata
“Kakak baru datang, kenapa langsung mencuat seperti ini sih? Lupa sama pesan kakek?” Sera bicara setengah berbisik ke kakaknya.               Zidan menarik napas panjang. “Pengaruh itu sudah tipis, sudah hampir hilang.”               Bola mata Sera berputar. “Kalau kena masalah aku tidak mau ikut campur.”               Zidan menarik urat wajahnya untuk tertawa, tawanya terdengar merdu di telinga, tangannya langsung menyambar hidung Sera. “Omong kosong, biasanya kau sendiri yang menempatkan dirimu dalam masalahku, kan?” “Jadi… Kau mau pulang bersamaku atau bagaimana?” Sera mengalihkan pembicaraan. Bertanya sambil melepaskan rangkulan saudara kembarnya.               “Bersamamu, aku yang mengemudi, ya?”               “Cuma aku yang bisa mengemudikan mobil macam Dino.” Rupanya meski yang menawarkan jasa mengemudi Dino adalah saudara yang selalu dibanggakannya, Sera tetap tidak mau menyerahkan kemudi mobil kesayangannya itu pada orang lain.               “Ssst Sera, kau tidak lupa kalau aku juga berada di sini, kan?” bisikku sambil menyikut lengan Sera yang terbungkus sweater.               “Oh iya! Kak, ini temanku yang paling perhatian, humanis, penyayang, suka—”               Ternyata mengingatkan Sera atas keberadaanku dampaknya tidak begitu bagus. Aku terpaksa memotong deretan kata yang antri keluar dari mulut ajaibnya itu. “Sera..”               “Ups, maaf.” Sera mengerling jahil.               “Ame.” Ujarku seraya mengulurkan tangan.               “Zidan,.” Balasnya. ****               Alis mata wanita itu menyatu, guratan di dahinya yang mulus sedikit tampak saat ia membaca salah satu lembaran di tangannya. Entah lembaran yang ke berapa. Kepalanya lantas terangkat, matanya seperti mencari keberadaan sesuatu yang ada di pikirannya. Selang beberapa detik, bola matanya berhenti. Tepat pada satu arah.               “Ian De Angelo, tolong jelaskan maksud dari tulisan Anda!” Panggil Miss Dania seraya mengacungkan kertas yang ternyata milik Ian.               Dengan sikap defensif, Ian membuka mulutnya. “Saya tidak suka dengan kisahnya. Jadi saya menggantinya dengan yang lebih layak.”                 “Apa alasan itu tepat untuk mengganti judul yang sudah saya berikan?” Mata Miss Dania mulai berkilat-kilat, menyimpan pertanyaan akan jawaban siswanya itu.               “Cukup tepat” Ia menjawab penuh percaya diri.               “Kenapa?” Miss Dania terus mengejar Ian.               “Karena bagi saya kisah Lancelot dan Guinever tidak pantas disejajarkan dengan Romeo Juliet atau Rama-Shinta. Dan menurut saya Peter Pan-Wendy-lah yang lebih layak.” Ian membuatku, teman-teman, bahkan Miss Dania tercengang.               “Lancelot dan Guinever adalah karya yang diakui oleh banyak orang. Baik dari sisi tragis maupun romantis.” Suaranya masih terdengar anggun dalam keadaan seperti ini, bahkan bahasa tubuhnya pun mengikuti.               “Orang-orang itu iya, tapi saya tidak. Apakah kelakuan mereka dibenarkan? Bukankah perselingkuhan dan pengkhianatan mereka sendiri yang menyebabkan ketragisan kisah ini? Mereka melanggar aturan, m*****i kedudukan, itu yang saya tahu.” Suaranya lantang tanpa ragu. Sampai-sampai aku melongo karena keberaniannya.               “Mereka hidup dalam masa yang penuh tekanan, dan hanya cinta yang menyelamatkan mereka dari ketidakbahagiaan, membebaskan mereka dari ikatan-ikatan buatan manusia.”               “Sekaligus menjerumuskan mereka dalam dosa. Miss, that’s just harrashement.”               “Cinta mampu mengaburkan segalanya, Ian.” Miss Dania berhenti sejenak, entah karena napasnya yang tersendat atau mencari kata untuk meneruskan kalimatanya. “Termasuk batasan-batasan.” Akhirnya ia melanjutkan. Kali ini, selapis keringat menyapu keningnya. Diusapnya dengan ujung jarinya yang ditumbuhi kuku berbentuk indah yang rasanya mampu menembus kulitnya yang lembut seperti marsmellow.               “Termasuk mengabaikan kewajiban? Apakah demi memuaskan perasaan sesaat, mengabaikan kewajiban atau sumpah kita dibenarkan? Hanya karena alasan konyol yang dianggap suci, namun ternyata sesat. Cinta. Dan kita harus tunduk dengan itu?” Kini ganti Ian yang mengejar. Raut mukanya sama sekali tidak bisa ditafsirkan sebagai bentuk tantangan, melainkan anak yang mempertanyakan sebuah kebeJeroenn.               Miss Dania menatap Ian dengan mulut terkatup, wajahnya mengeras. “Oh.. Atau Anda memang membenarkan hal itu dalam kehidupan pribadi Anda? Kalau iya, saya rasa Anda perlu mengoreksi lagi.. Sepertinya itu bukan cinta.” Aku tidak percaya Ian seberani ini untuk melontarkan kalimat barusan dengan tampang tidak bersalahnya yang defensif itu.               Mata Miss Dania melebar, pipinya memerah, dan...salah tingkah? Ah tidak mungkin. Tapi ia benar-benar tampak salah tingkah. Ia menarik napas panjang, menyentuh batang hidungnya, lalu berdiri tanpa bertumpu pada ujung meja lagi.  “Cukup Mr.Angelo. Jaga sopan santun Anda!” ia pun menggeleng dan berbalik ke kursinya. “Lebih baik Anda keluar sekarang!” Titahnya disertai penekanan. “Ini hanya pandangan saya. Dan saya mempertahankan itu.” Ian beranjak dari tempatnya. Ia benar-benar akan keluar kelas?  “Oh iya, saya tidak meninggalkan kewajiban saya. Anda bisa melihat di bawah kertas tadi, itu telaah saya tentang Lancelot dan Guinever. Maaf jika tidak sesuai dengan yang Anda harapkan.” Ucapnya sebelum akhirnya mengilang dari balik pintu. Miss Dania menatap kertas selanjutnya—memastikan perkataan Ian tadi. Aku tidak bisa membaca raut mukanya, tapi Sera berbisik padaku. “Si muka kaku itu tidak berbohong, dia mengerjakan tugas ini dua kali,” Setelah lama berdiam diri, terlihat Miss Dania menyisihkan lembaran itu agar menjadi satu dengan milik Ian tadi. Ternyata tertua dari tiga bersaudara itu lebih rajin dari yang kukira, juga… penuh kejutan. Kejadian ini mengingatkanku pada kejadian kejadian kemarin. Aku tidak sempat bertanya pada Sera, apakah dia memikirkan hal yang sama denganku, atau tidak. Sesuatu yang akhirnya juga dapat kurasakan. Bukan disengaja maupun dipaksakan. Tapi sesuatu yang timbul begitu saja. Sesuatu yang mengandung dua hal yang sama sekaligus berlawanan. Apa namanya, aku tidak tahu. Yang jelas persamaan dan perbedaan tercampur aduk menjadi satu. Antara Zidan dan Ian. Cara mereka bicara, kecerdasan mereka, keberanian mereka, efek dari sikap mereka, pesona mereka, bahkan sorot mata mereka. Aku sendiri bingung bagaimana menyebutnya. Aku bahkan sampai tidak sadar bagaimana aku bisa berjalan di koridor bersama Sera dari kelas sastra tadi. Aku benar-benar dibuat linglung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN