“Sepertinya ada yang bahagia.” Ucapan Hamid membuat Raina menoleh. Dia tertawa lagi kemudian membimbing Hamid duduk di kursi makan. Tidak lama kemudian Kala datang. Pria itu menatap heran adiknya, sama seperti Cinta. Kala menggulirkan kursi rodanya. “Kamu sudah sehat, Rai?” Raina mengangguk. “Aku sangat sehat, Kak.” Kala tersenyum. Cinta duduk di samping suaminya. Diraihnya tangan Kala kemudian diremasnya pelan. Kala mengangguk. Dia mengerti apa yang ingin istrinya katakan. Cinta hanya ingin yang terbaik bagi Raina. Mereka semua menyayangi adik perempuan semata wayang mereka. “Kak Hamid nanti kuantar pulang, ya.” Raina menawarkan diri mengantar Hamid disela kunyahannya. Pria itu mengangguk. “Naik motor, tidak masalah?” tanya Raina lagi. Hamid tersenyum, tatapannya lurus seolah berbi

