Dinda sampai di stasiun Kebumen,di sana ia langsung disambut oleh paman dan bibinya yang merupakan putri dari nenek dan kakeknya yang merupakan orang Kebumen, dari pihak ibu. Kebumen, sanalah tempat ia lahir dan tumbuh hingga dewasa. Maka ia tidak asing lagi dengan lingkungan di sana, meskipun ia pergi ke sana untuk sebuah rasa sakit yang ia bawa. Akan tetapi ia bersyukur karena ada orang-orang di sekelilingnya yang senantiasa mendampinginya dalam suka dan duka.
"Assalamualaikum, Tan!" sapa Dinda tersenyum lebar.
Tante Reni dan Om Dimas menyambutnya dengan hangat, keduanya merupakan PNS dan kebetulan Dinda ke sana pada hari Sabtu sehingga mereka libur dan bisa menjemputnya.
"Waalaikumsalam, Dinda. Alhamdulillah udah nyampe ya," ujar Tante Reni.
Om Dimas juga menjawab salamnya seadanya sambil mengambil alih kopernya.
"Eh tadi berangkat jam berapa, Sayang?" tanyanya lagi.
"Sekitar jam 4 pagi. Oh pantesan, sampainya siang gini ya. Iya ya udah yuk, kita langsung aja balik. Mbah udah nunggu tuh di rumah."
Dinda pun tersenyum senang, "Makasih Om dan Tante udah mau jemput aku."
"Eih, nggak usah sungkan Din, kebiasaan kamu tuh, kayak sama siapa aja," ujar Tante Reni.
"Hehehe ...."
Dinda hanya nyengir kuda malu, ia memang sering merepotkan Tante Reni dan Om Dimas, tetapi ia juga sering direpotkan. Istilahnya timbal balik kekeluargaan.
Di perjalanan, Dinda melihat keluar jendela mobil, suasana Kota agak berubah, mungkin karena ia tidak pulang selama setahun lebih, bahkan lebaran pun ia tidak pulang kemarin.
"Banyak berubah ya, Tan," ujar Dinda melihat sekeliling.
"Iya, Din, kamu udah setahun lebih nggak pulang sih, jadi gak tau perubahannya diman. Ya gitu ... sebenarnya nggak banyak yang berubah sih, cuman beberapa aja ada bangunan baru dan kemarin habis dibangun jalan-jalan rusaknya. Semoga aja Bupati kali ini amanah, yang kemarin-kemarin kan duh ... udah kerja gak bener, korupsi lagi. Kalau menurut aku sih korupsi nggak apa-apa, wong udah jadi budayanya susah dihilangin. Tapi kalau udah korupsi, kerja nggak bener, wes ... udah dapat doa yang jelek-jelek tuh dari rakyat, bukannya doa baik."
"Iya Tan, berani bangetagian ya korupsi uang rakyat," ujar Dinda.
"Gak transparan sih jadi gak tau kita ...." ujar Tante Reni. "Namanya juga buat balik modal, Din. Kan mereka nyalon juga ada modalnya buat kampanye dan suap rakyat, makanya ketika udah menjabat mereka fokus ke hutang-hutang mereka. Boro-boro mikirin rakyat."
"Tapi kalau sistemnya kayak gitu terus, berarti siapapun yang memimpin sama aja dong," ujar Dinda berpikir.
"Iya sih, tapi setidaknya ya kalau dia dari kalangan berpunya, bisalah ada sedikit yang dia pikirin dari rakyat, eh tapi yang waktu aku masih SMA itu ada yang dari kalangan berpunya. Dia bos dan pengusaha tersukses di Kebumen, tapi tetap aja masuk KPK," tanggap Dinda.
Tante Reni terdiam, "Benar juga sih kata kamu Din," ujarnya.
"Iya, ini sistematik sih, Tan, jadi kalau misalnya kita cuma nyalahin orang-orangnya itu juga nggak bisa karena memang mereka juga jadi koruptor karena terbentuk oleh sistem, circlenya memungkinkan untuk korupsi dan mendorong mereka untuk melakukan itu."
"Bukannya kalau misal orang-orangnya baik, semua halnya bakal baik?" tanya Tante Reni.
"Nggak gitu konsepnya, kalau urusan rakyat, kita baik tapi masih banyak yang buruk. Gini, contohnya tentang Imam salat. Kalau dia berdiri, semua orang berdiri, kalau dia sujud makmum juga sujud. Dari sini, berarti kalau ada sebuah sistem yang baik pasti semua akan jadi baik. Sederhananya coba, BBM naik, rakyat berkenan gak?"
"Ya enggaklah, enak aja gajinya segitu-gitu aja, apa-apa jadi mahal."
"Nah, ini salah satu problemnya. Semua akan mengikuti kalau hal baik jadi sistem kehidupan bernegara. Kalau kita menunggu para personil dari rakyat itu baik, sekarang juga banyak yang personilnya baik, tapi dia tidak bisa mengubah hal yang buruk secara sistematis dari akar sampai ke daun kan?"
Tante Reni mengangguk, ia memang kritis, jadi Dinda senang bicara dengannya yang mau diajak berpikir, bukan memikirkan masalah tetangga. Namun ia memiliki pola pikir berbobot yang sangat berdaging untuk diteruskan.
"Berarti butuh juga yang namanya sistem, yang sistematis untuk memberantas segala hal yang berhubungan dengan ketidakadilan sekarang."
"Wah iya, kok Tante gak kepikiran ya? Pintar nih keponakan Tante," pujinya. "Tante aja yang S1 nggak pernah kepikiran ke situ. Soalnya di dalam pendidikan kita juga nggak ada kayak gitu, kan?"
"Emang gak ada Tan, mbok mau lulusan S3, pemahaman kayak gitu nggak akan didapatkan karena aku dapatnya juga ketika aku mengkaji Islam. Sesuatu yang gak pernah juga diajarkan di dalam kurikulum agama. Lalu anak-anak terbentuk melalui kurikulum yang tidak sehat, tapi kita seolah mengukung potensi anak-anak yang beragam, tidak sama. Semuanya jadi rumit sih, kalau sistem central-nya udah nggak bener."
"Iya sih, kalau dipikir-pikir," tanggap Tante Reni.
Sedari tadi Om Dimas hanya mendengarkan percakapan mereka. Ia memang tidak terlalu banyak bicara dan seringkali menjadi pendengar.
"Oh ya, Chika nggak diajak?" tanya Dinda.
"Enggak, dia lagi tidur tadi pas kami berangkat ke stasiun, dititipin sama tetangga kalau misal bangun nanti."
"Oalah, ya udah nanti aku main ke rumah Tante kalau aku udah istirahat."
"Eh nggak usah, nggak apa-apa. Nanti sore kami yang ke rumah Mbah," ujar Tante Reni.
"Oke deh," ujar Dinda.
"Kalau ada masalah, nanti kamu bicaranya ya, biar nanti sore ke tempat Mbah. Jangan bilang sama Mbah dulu, takutnya mereka syok gitu."
"Apa aku nggak usah cerita aja ya, Tan?"
"Eh ya jangan gitu, kita keluarga loh, apapun harus diceritain. Hem, tapi kalau sekiranya kamu bisa belum siap, kamu pending dulu aja nggak apa-apa, siapin diri dulu untuk menceritakan semuanya ke kami."
"Oke deh, Tan, makasih sarannya."
"Sama-sama, nah mau sampe nih. Nanti langsung istirahat aja ya."
"Iya, Tan, makasih ya."
"Iya, sama-sama."
Tak terasa mereka sudah sampai ke rumah Mbah Dinda dari ibunya. Saat masuk ia diantar oleh Tante Rani dan Om Dimas untuk masuk ke dalam, sebelum akhirnya Tante Rani dan Om Dimas kembali pulang karena Chika hanya sendiri ditinggal dengan tetangganya.
Untung saja Mbah Putri dan Mbah Kakungnya tidak terlalu mempermasalahkan dan tidak bertanya macam-macam, mereka langsung memberikan ruang untuk Dinda mandi dan istirahat. Dinda pun melaksanakannya dan ia mengurung diri sampai Tante Reni dan Om Dimas datang bersama Chika.
Ia mendengar suara Chika dari kamar. Itu pasti mereka. Mungkin nanti ia akan menceritakan kepada Mbah Kakung dan Mbah Putrinya.
•••
Di kejauhan sana, Rangga termenung menatap hamparan taman di ruang rawat inap VIP itu. Hatinya merasa hampa, Dinda benar-benar pergi darinya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang, tetapi ia juga tidak kuasa untuk menahan perasaan sakit dan rindu.
Ia sangat mencintai Dinda, ia tidak akan pernah ingin berpisah dengan Dinda, bahkan jika surat itu membuktikan perceraian mereka. Ia tidak pernah memiliki niat untuk melepas Dinda, ia akan berjuang bahkan jika ia berjuang sendiri. Ia rela atas itu, tapi Dinda adalah orang yang tak pernah membiarkannya berjuang sendiri.
Dinda yang selalu menjaga perasaannya dan berada di sisinya, tetapi hari-hari lalu Dinda juga mengalami hal yang sulit yaitu harus menghadapi keluarganya yang ditoktor. Pada akhirnya, ia memang harus sembuh dulu agar bisa melakukan tindakan apapun yang ia inginkan. Ini sudah H-sebulan, sebelum ia ke Oxford untuk menjalani kuliahnya dan dia harus membawa Dinda apapun yang terjadi.
Ia tidak mungkin membiarkan Dinda pergi begitu saja, Dinda adalah hidupnya dan ia akan kesulitan dalam hidup ketika Dinda tidak di sisinya. Dinda adalah cintanya yang sangat ia rindukan.