Menunggu Waktu

1154 Kata
Dinda keluar dari kamarnya setelah ia bersih-bersih dan mendengar suara sepupu kecilnya. Ketika ia sampai di ruang tamu, ia melihat kakek dan neneknya juga sudah siap di sana, berhadapan dengan bibi dan pamannya yang ia sebut dengan Tante Reni dan Om Dimas. Mereka menatap Dinda dengan tatapan bahagia, tetapi tak bisa dipungkiri kalau Dinda juga merasa terharu dengan pertemuan mereka. Mungkin inilah yang disebut, setiap kejadian memang ada hikmahnya. Kalau saja ia dan Rangga tidak bermasalah, mungkin ia belum kembali ke kampung halaman meski dengan alasan yang menyedihkan. "Kamu sini, duduk dulu," ujar Mbah Putri memberi ruang pada Dinda diantaranya dan Mbah Kakung. "Mbah Putri sama Mbah Kakung mau tanya sama kamu ujar Mbah Putri. Dinda menurut, dan setelah Dinda duduk diantara Mbah Kakung dan Mbah Putri, lalu Tante Reni memulai pembicaraan. Mungkin ia yang memiliki kata-kata yang lebih tepat dan berperasaan, sebab mereka sudah akrab seperti Anak dan ibu. Tante Reni memang sudah 10 tahun menikah tidak memiliki anak, ia menganggap Dinda seperti anak sendiri sejak pernikahannya. Maka di tahun ke-10 itu, alhamdulillah Allah mempercayakan seorang putri bernama Chika. "Gini Din, kami tau pasti ada masalah yang bawa kamu sini." Dinda terkejut dengan kalimat itu, tetapi buru-buru Tante Reni mengoreksi ucapannya sendiri. "Bukannya kami menganggap kalau kamu ke sini hanya karena masalah, tapi serius pasti ada sesuatu yang buat kamu gak bisa bertahan di Jakarta untuk saat ini, mungkin," ujarnya. Dinda mengangguk, ia tak bisa menyembunyikan masalahnya terus. "Iya Tante, sebenarnya Dinda belum mau cerita tapi sepertinya aku gak bisa gini terus. Sebelumnya kejadian ini bermula pada Rangga kecelakaan." Semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Chika, terkejut mendengar cerita itu. "Bagaimana bisa kamu nggak kabarin kami dari dulu?" tanya Mbah Kakung. "Iya, maafin aku. Aku mungkin terlalu sibuk dengan pemikiran aku sendiri sampai aku lupa ngabarin kalian. Rangga koma selama dua minggu dan mungkin sekarang udah sadar, tapi aku nggak bisa nemuin dia. Aku nggak bisa jagain dia selalu, sebab keluarganya memaksa agar kami bercerai, dan kemarin aku dipaksa buat tanda tangan perceraian. Sekarang entah gimana kabar pernikahan kami di mata hukum, intinya waktu itu dalam keaadan Rangga masih koma, dan kemudian aku diusir dari sana setelah penandatanganan surat itu." Semua orang prihatin mendengarnya, tentu situasinya sangat rumit mengingat keduanya beum mendapat restu dari keluarga Utama. "Aku nggak mau cerai sama Rangga," lanjutnya menangis. Mbah Kakung dan Mbah Putri langsung memeluknya. Apa yang dialami Dinda sungguh berat, mereka tahu kondisi pernikahan mereka memang tak sekuat itu, tapi tak mengira jika kondisinya akan serapuh ini. Pada akhirnya mereka adalah orang tua yang akan mencoba untuk memperbaiki, mendorong anak-anak untuk bersikap bijak pada masalahnya dan menjadi pertahanan terakhir untuk mereka. Sebagai orang tua yang bijak, mereka juga tidak bisa gegabah menyimpulkan persoalan, karena belum tentu anak mereka lah yang salah atau benar. "Jadi Mbah Kakung sama Mbah Putri perlu ketemu sama Rangga biar kalian bisa saling mengungkapkan perasaan satu sama lain dan memperbaiki apa yang rusak kemarin. Nyatanya karena kalian dipaksa untuk bercerai, artinya kalian tidak benar-benar ingin bercerai. Hal itu bisa jadi nggak sah di mata agama kalau kalian nggak melakukan itu atas keinginan sendiri. Kami juga nggak bisa ngelakuin apa-apa," ujar Mbah Kakung. "Iya Mbah, aku paham ... tapi aku butuh waktu di sini." Akhirnya Mbah Kakung dan Mbah Putri mengerti, maka malam ini Dinda dibiarkan istirahat sejenak dan Mbah Kakung meminta Tante Reni untuk menghubungi Candra di Jakarta dan ia ingin Candra menghubungkannya dengan Rangga. Namun, Candra sendiri sudah tidak bisa menghubungi Rangga karena Rangga sudah tidak memiliki nomor telepon. Mbah Kakung mengerti dan Candra berusaha untuk menghubungi Rangga suatu hari. ••• Di sisi lain, Rangga benar-benar tidak bisa melakukan apapun, ia sendiri tak bisa banyak membuat rencana. Ia masih harus latihan berjalan karena kakinya yang cedera, sementara tangannya juga tidak bisa menopang terlalu lama karena baru sembuh dari cederanya juga. Hingga seminggu kemudian, Rangga akhirnya bisa dibawa pulang dan melakukan rawat jalan. Sehari setelah kabar Rangga keluar dari rumah sakit, membuat Candra bersama keempat temannya mengunjungi Rangga sebagai teman sekolah dan Wisnu memiliki alasan kuat karena ia akan berangkat ke luar negeri. Jadi ia harus bertemu dengan Rangga terlebih dahulu untuk melepas kepergiannya. Teman-temannya juga diizikan menjenguk, Clarissa juga membiarkan Candra untuk mengunjungi Rangga. Ia merasa bahwa Dinda memang sudah tidak ada hubungan lagi dengan anaknya, jadi ia tidak memperhatikan Candra. Di kamar Rangga, Rangga meminta semua mAid untuk keluar dan membiarkan mereka bersantai. Kris langsung mengutarakan pertanyaannya setelah para kaid keluar dari ruangan itu. "Haduh, Man, lu gimana sih sampe kecelakaan gini?" tanyanya. Rangha menggeleng sebentar, mengabaikan pertanyaan Kris. "Gua mau tanya ke Chandra, sekarang Dinda di mana?" tanyanya. "Menurut lu dia di mana?> tanya Candra balik. Keempat tamannya malah jadi bingung mendengar Rangga dan Chandra yang saling bertanya. "Lah emang Kak Dinda ke mana?" tanya Bagas menyela. "Eh diam dulu, Gas. Biar mereka ngomong berdua." Ares dan Bagas pun terdiam dan keempat temannya itu membiarkan dua yang lain berurusa. "Jadi gua juga mikirin kalau Kak Dinda pulang kampung, dia pulang kampung kemana?" tanyanya menggebu. "Yah kemarin ke Kebumenlah, ke mana lagi ... tempat lahirnya dan tempat dia tumbuh," jawab Candra akhirnya. Rangga mengangguk dan diam sejenak membuat teman-temannya ikut tegang, tetapi tak bertahan lama sampai ia berkata. "Gua sekarang mau fokus dulu sama kesembuhan gua, karena selama gua belum sembuh gue masih dikekang dan nggak boleh kemana-mana. Sekarang langkah berikutnya adalah gua mau pergi jemput Dinda dan kemudian kami bisa melanjutkan hubungan kami di Oxford." "Eh lu seriusan mau ngelakuin itu dan gimana orang tua lu?" tanya Bagas. "Ya mungkin gue juga mau memahamkan ke mereka kalau gue sama sekali nggak mau cerai yang sama Dinda dan gua nggak akan nurutin apa kata mereka bahkan kalau gua mati sekalipun." "Nggak usah kayak gitu kali, biasa aja," sahut Bagas. "Kak Dinda juga lagi nangin diri, dia juga terpukul atas perceraian paksa kalian," ungkap Candra "Ini yang bikin gua menyalahkan diri sendiri, gua membiarkan Dinda berjuang sendiri." Keempat kemannya baru bisa mencerna dari percakapan mereka, berikut tentang perceraian paksa antara Rangga dan Dinda. "Ya nggak juga sih, Ga. Kan kalian juga nggak ada pilihan," ujar Wisnu. "Ya tapi pada akhirnya gue nggak bisa apa-apa kan sekarang?" Mereka hanya diam saja, tak bisa menanggapi atau takut salah kata. "Jadi sekarang kalian benar-benar pisah ya, secara hukum?" tanya Kris. "Iya, tapi gue sama sekali nggak ada niatan kayak gitu. Gue nggak perduli kalau di dalam hukum gue udah cerai sama Dinda, faktanya gue nggak cerai sama dia." "Terus sekarang lu pura-pura jadi anak baik di rumah ini terus setelah itu lu pergi sama Dinda ke Oxford?" tanya Kris lagi. "Ya begitulah," jawab Rangga seadanya. "Oke kalau kayak gitu, lu ngomong aja sama kita-kita kalau ada apa apa." "Iya, makasih ya. Gue nggak tahu lagi harus gimana, tapi adanya kalian gue jadi ngerasa ada temen buat menghadapi dunia yang serba menjengkelkan seperti ini." "Tentu aja lu nggak sendirian, kami ada buat lo," ujar Ares. Mereka pun mengangguk dan menyetujui ucapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN