6. A Night With You

976 Kata
"Mengapa pintunya tak mau terbuka Jeon Ha Ru-ssi??" tanyanya dengan wajah datar. "Molla! Cobalah membukanya!" seruku. "Tapi tidak bisa," jawabnya. Aku berjalan menuju pintu dan mencoba membukanya juga. Namun hasilnya nihil, pintu ini tetap tak mau terbuka. Tsk! Aku sadar bahwa pintu ini dikunci dari luar. Dan tiba-tiba ... 'Dap!' Lampu mati! Sudah dapat dipastikan bahwa mereka semua akan kembali ke dorm. Apa mereka tak sadar bahwa aku masih ada disini? "Yakkk buka pintunya!! Aku masih berada disini!!" teriakku. "Yak Cho Sa Rang! Berteriaklah juga!" ujarnya. Ia tetap tak bergeming. Aku berusaha mendobrak-dobrak pintu namun tetap tak bisa. Dengan pencahayaan gelap gulita ini, aku tak bisa melihat apa pun. Yang dapat kudengar hanyalah suara hembusan nafas Sa Rang. Suatu hal buruk jika harus terkurung disini, bahkan tak ada jendela atau ventilasi. Pasti pengap sekali. "Apa kau membawa ponsel?" tanyaku pada Sa Rang. "Aku membawa tapi baterainya habis," jawabnya. Aku menggaruk kepalaku frustasi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain terkurung disini semalaman bersama sebongkah es bernama Cho Sa Rang. Sa Rang pov Entah ini harus disebut s**l atau nasib buruk, tapi aku terkurung di ruang make up bersama Ha Ru, namja yang selalu menyebutku 'amatiran'. Ck! Satu hal yang lebih menyebalkan lagi adalah ... ruangan ini gelap. Semenjak kecil aku takut dengan yang namanya gelap. Apalagi gelap gulita seperti ini. Tiba-tiba di kepalaku terlintas lagi film horror yang semalam Yoo Ah dan So Jung putar. Damn! Bulu kudukku berdiri sempurna! Ditambah lagi udara yang perlahan-lahan mulai mendingin karena pemanas ruangan mati. Dapat kudengar langkah kaki Ha Ru berjalan. "Ha Ru-ssi, kau mau kemana?" tanyaku. "Memangnya bisa kemana eoh? Kita terperangkap disini. Setidaknya aku ingin tidur sekarang," jawabnya. "Tunggu aku!" ujarku. "Wae? Apa kau takut uh?" tanyanya mengejek. "Aniya!" seruku sambil berjalan pelan. Namun tiba-tiba terdengar suara barang jatuh. 'Brakk!!' "Arrrgghhhh!" Refleks aku berlari dan memeluk Ha Ru. Author pov Tanpa sadar Sa Rang memeluk Ha Ru. Jantung Ha Ru hampir saja meloncat dari tempatnya. Ia berdebar-debar. Ha Ru merasa bahwa ia pernah merasakan pelukan sehangat ini sebelumnya. Ha Ru tertawa terbahak-bahak berusaha menutupi kegugupannya saat ini. "Hahahahahha! Katanya kau tidak takut! Cih, dasar!" katanya. Sa Rang yang segera sadar bahwa ia memeluk Ha Ru langsung melepaskan pelukannya itu. Sementara Ha Ru masih berusaha menetralkan degup jantungnya. ... Detik demi detik terus bergulir. Sekarang tepat pukul 2 dini hari dan udara semakin meresap ke tulang-tulang Ha Ru. Bahkan jaketnya saja rasanya tak mempan. Ha Ru dan Sa Rang terduduk di lantai sambil bersandar di meja rias. Kepala Sa Rang menempel di bahu bidang Ha Ru, gadis itu sudah tertidur. "Sa Rang, apa kau sudah tidur?" tanya Ha Ru dalam kegelapan. Tak ada jawaban dari Sa Rang. "Ah kau pasti sudah tertidur," ucap Ha Ru lagi. "Kau pasti kedinginan." kata Ha Ru lalu melepaskan jaketnya. Ia menyelimutkan jaket itu ke atas tubuhnya dan juga Sa Rang. "Setidaknya dengan begini kau tidak akan terlaku kedinginan," ucap Ha Ru. Kata-kata yang keluar dari mulut namja berkulit putih itu semakin membuat dirinya sendiri gugup. Ia tak tau tapi yang jelas perasaannya sangat aneh saat ini. Sementara itu di tempat lain ... Tepatnya di dorm SEVEN STARS. Ho Joon dan kelima member lainnya sedang terbahak-bahak di ruang tamu. "Wahhahah apa menurutmu Ha Ru akan menangis?" tanya Tae Joon. "Aniya, ia tak mungkin menangis di depan seorang gadis," jawab Hoseok. "Semoga dengan mengurung mereka berdua dalam satu ruangan bisa membuat Ha Ru menjadi sedikit lebih baik pada Sa Rang," kata Jin. Ya, memang mereka yang mengurung Ha Ru dan Sa Rang di ruang make up. Mereka sengaja. "Tentu, tapi bagaimana jika Ha Ru melakukan hal buruk pada Sa Rang?" ujar Shin Min. "Tidak mungkin. Dia kan tidak byuntae sepertimu!" ejek Hyun Gi. "Aniya hyung! Aku tidak byuntae! Aku ini masih polos!" seru Shin Min mengelak. "Lalu apa mengoleksi video yadong itu termasuk hal-hal yang dilakukan seorang anak polos?" goda Hyun Gi. "Shin Min! Jadi kau masih mengoleksi video yadong ya? Dasar anak ini! Lihat saja besok kau akan hyung hukum!" pekik Jin. "Andwae hyung!!!!" "Hahahhahahhaha," suara cekikikan memenuhi dorm SEVEN STARS malam ini. ... Sa Rang pov Aku membuka mataku perlahan. Walau tetap tak ada pencahayaan, aku yakin bahwa hari sudah pagi. Terbukti dari udara yang mulai menghangat. Kulirik sampingku, aku baru sadar bahwa aku tertidur dengan posisi kepala menyandar di bahu Ha Ru. Ah pantas saja leherku pegal sekali. Aku menuju pintu dan lagi-lagi kucoba untuk membukanya. Hasilnya sama seperti semalam. Aih! Sampai kapan aku harus terkurung disini?! Karena kesal aku menendang pintu dan secara tak sengaja pintu itu terbuka. Ani, bukan terbuka. Lebih tepatnya pintu itu rusak terlepas dari engselnya. Ha Ru yang mendengar suara jatuhnya pintu pun terbangun. "Mwo?! Bagaimana pintunya bisa terbuka?" tanya Ha Ru. "Molla, aku hanya menendangnya," jawabku santai. Ha Ru pov "Molla, aku hanya menendangnya," jawab Sa Rang. Tak kusangka gadis itu kuat sekali. Bahkan aku saja tak bisa mendobrak pintu itu. Tapi dia dengan sekali tendang bisa membukanya. Aniya, bukan membukanya melainkan merusaknya. Dapat kupastikan bahwa PD-nim akan marah dan minta ganti rugi atas rusaknya pintu ini. "Aku akan mengantarmu pulang," kataku pada Sa Rang. "Kita belum bisa pulang," jawabnya. "Wae?" tanyaku bingung. "Karena pintu utama juga pasti terkunci," ucapnya. "Kita coba saja dulu." tuturku lalu menuju pintu utama yang rupanya tak terkunci sama sekali. "Lihat, tak terkunci kan," kataku. Ia tak mempedulikan perkataanku dan malah melenggang pergi begitu saja. "Yakk! Aku akan mengantarmu pulang!" pekikku. Ia menoleh padaku. "Aniya, aku bisa pulang sendiri," tolaknya mentah-mentah. Tsk! Baru pertama kali ada gadis yang menolak untuk kuantar pulang! Aku harus berhasil mengantarnya pulang! Aku yang merasa tak terima karena ditolak berlari mengejar Sa Rang. Sa Rang yang mendengar suara langkah kakiku pun memutar badannya untuk memastikan apa yang dilakukan sedang kulakukan. Namun karena lantai yang agak licin aku terpeleset dan jatuh tepat di atas Sa Rang.  Oh damn! Bibir kami menempel! Omo! Apa yang harus kulakukan?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN