Oh damn! Bibir kami menempel! Omo! Apa yang harus kulakukan?!
Dengan segera aku melepas tautan kami. Aku berdiri, begitu juga dia. Wajah gadis itu tetap saja datar. Aish apa sih yang sebenarnya ia pikirkan. Ia bahkan tak marah atau sebagainya.
Ia membalik badannya dan pergi meninggalkanku. Sedangkan aku masih shock dengan kejadian tadi. Dadaku berdebar-debar tak karuan. Dan ... bibirnya tadi ... benar-benar manis. Eh? Apa yang kupikirkan sih?! Ish! Lho? Bukannya tadi aku berniat untuk mengantar pulang Sa Rang? Ah sudahlah lupakan saja!
...
Sa Rang pov
Aku berjalan menyusuri pemakaman sambil terus memegangi bibirku. Namja bermarga Jeon itu telah menciumku! Aku benar-benar tak terima namun tadi aku terlalu gugup untuk melakukan sesuatu.
Setidaknya sekarang aku harus bercerita pada eomma, appa, dan oppa-ku. Lagi pula sudah 2 hari aku tak berkunjung ke pemakaman ini, biasanya aku selalu kesini setiap hari.
"Eomma, appa, oppa annyeong ...," ucapku sesaat setelah aku sampai di makam keluargaku.
"Eomma ... apa kau tau, aku bekerja pada orang yang menyebalkan. Ia bahkan tak mau kurias," kataku lagi.
"Ah iya maafkan aku karena aku tak membawa bunga lily putih seperti biasanya. Ini masih pagi dan toko bunga yang biasanya belum buka." ujarku sambil mengelus batu nisan eomma.
"Eomma ... seseorang telah menciumku tadi. Tak bisakah kau sampaikan pada Tuhan untuk menghukum orang itu?" tanyaku.
"Cho Sa Rang?" ucap seseorang dari arah belakang. Membuatku menolehkan wajahku ke arahnya. Seseorang yang rupanya Shin Min, Park Shin Min.
"Shin Min-ssi ...,"
"Jangan memanggilku seformal itu." ucapnya sambil menunjukkan eyesmile-nya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Mengunjungi orang tua dan oppa-ku," jawabku singkat.
"Ahh begitu rupanya, aku kesini untuk mengunjungi nenekku," katanya.
Aku hanya diam tak menjawab perkataannya lagi dan malah beranjak untuk pergi.
"Kau sudah mau pulang eoh? Biar aku yang mengantarmu. Kita makan dulu," tawar Shin Min.
"Aniya, aku tak lapar. Tempat tinggalku juga sudah dekat dari sini," jawabku.
'Kruyukkkkk~'
Shit! Perutku berbunyi di saat seperi ini. Tak kupungkiri, dari semalam aku memang kelaparan.
"Apakah itu yang kau sebut 'tidak lapar' nona Sa Rang?" ejeknya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu,"
...
Author pov
Sa Rang dan Shin Min sampai di sebuah restoran cepat saji yang buka selama 24 jam setiap harinya. Bibir Shin Min tak henti-hentinya menyunggingkan sebuah senyuman. Ia senang bisa mengajak Sa Rang untuk sarapan bersamanya pagi ini. Sebenarnya Shin Min masih bingung, seharusnya Sa Rang masih terkurung di ruang make up itu bersama Ha Ru karena menurut rencana yang telah mereka rancang, Ho Joon baru akan membuka pintu itu pukul 10 dan sekarang baru pukul 7. Tapi itu semua tak penting, yang penting adalah ia bisa bersama Sa Rang.
"Kau mau pesan apa?" tanya Shin Min.
"Apa saja." jawab Sa Rang singkat lalu duduk.
"Baiklah, aku akan kesana dulu." ucap Shin Min lalu beranjak dari tempat duduknya untuk memesan makanan. Namja bersurai orange itu memakai topi dan jaket berwarna abu-abu. Tentu saja agar tak ada fans yang mengenalinya.
Tak lama Shin Min kembali dengan sebuah nampan berisi dua kotak ayam goreng dan dua gelas softdrink.
"Jja, ayo dimakan." ucap Shin Min sambil membuka kotak ayam miliknya.
"Gamsahamnida," jawab Sa Rang datar.
Kedua remaja itu menikmati ayam yang mereka miliki. Tak dipungkiri, rasanya memang lezat. Namun Shin Min bingung dengan dirinya, ia begitu gugup sekarang ini.
"Aish! Kenapa aku ini? Mengapa aku gugup? Padahal ini bukan ujian atau semacamnya! Kau hanya makan bersama Sa Rang, Shin Min-ah! Mengapa harus gugup?! Tuhan hentikan perasaan ini!" gerutu Shin Min dalam hati.
...
"Ahjumma, apa Sa Rang tak pulang dari semalam?" tanya Yoo Ah pada Song Ahjumma. Sorot mata gadis yang telah rapi dengan seragamnya itu menunjukkan kekhawatiran.
"Eobseo, dia tak pulang semalam. Apa dia juga tidak memberi kabar pada kalian?" jawab Song Ahjumma.
"Dia tidak memberi kabar. Apa sesuatu terjadi padanya?" ujar So Jung.
Sedetik kemudian ...
'Klek'
Pintu terbuka menampilkan Sa Rang yang baru saja pulang.
"Sa Rang, kau dari mana saja semalam? Kau tak apa-apa kan?" tanya Song Ahjumma.
"Aniya, aku baik-baik saja," jawab Sa Rang.
"Kau semalam tidur dimana uh?" ucap So Jung.
"Aku tidur di ruang make up bersama Ha Ru," kata Sa Rang.
Sontak Yoo Ah, So Jung dan Song Ahjumma yang mendengarnya pun terkejut. Pikiran negatif langsung menghinggapi pikiran ketiga orang itu.
"Mwo?! Tidur? Bersama Ha Ru? Kalian ..., " seru Yoo Ah.
'Pletak!'
Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Yoo Ah. Jitakan yang keluar dari tangan Sa Rang.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kemarin kami hanya tak sengaja terkunci di ruang itu dan handphone-ku mati," tutur Sa Rang.
Ketiga orang itu pun akhirnya ber'oh' ria.
"Yak Sa Rang, lalu bagaimana rasanya terkurung dalam satu ruangan bersama Ha Ru? Wahh dia pasti tampan sekali!!" pekik Yoo Ah bersemangat.
"Tsk! So Jung-ah, tolong bawa Yoo Ah ke dokter mata. Ia sepertinya terkena katarak, jelas-jelas Ha Ru sama sekali tidak tampan," ujar Sa Rang.
Yoo Ah memanyunkan bibirnya kesal. Sedangkan So Jung dan Song Ahjumma tertawa melihat tingkah Sa Rang di depannya yang selalu saja membuat Yoo Ah kesal.
"Sudahlah, aku mau mandi," kata Sa Rang.
...
"Kau mencari Ha Ru?" tanya Tae Joon pada seorang gadis yang tengah duduk di ruang tamu dorm SEVEN STARS.
"Ne, apa dia tak ada di dorm?" tanya gadis itu balik.
"Eobseo, dia belum pulang Ye Na-ah," jawab Tae Joon.
Gadis berkuncir kuda yang bernama Ye Na itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kalian pasti tau Ye Na kan? Dia adalah pacar pura-pura Ha Ru. Ya, walaupun baik Ha Ru maupun Ye Na tak pernah ingat kapan mereka menjadi pacar pura-pura. Ye Na bahkan tak ingat bahwa dia pernah berciuman dengan Shin Min di supermarket. Satu-satunya yang membuat dia percaya bahwa dia pernah berciuman dengan Shin Min adalah video yang ditunjukkan PD-nim.
Tapi semua itu tak penting bagi Ye Na. Ia sekarang sama sekali tak punya perasaan untuk Shin Min. Yang ia tau sekarang hatinya hanya merasa nyaman saat berada di dekat Jeon Ha Ru.
"Aku akan menunggu Ha Ru pulang," ucap Ye Na pada Tae Joon.
"Wah ... sepertinya kalian sudah makin dekat ya?" goda Tae Joon sambil terkekeh yang membuat pipi Ye Na memerah menahan malu.
Beberapa saat kemudian Ha Ru datang sambil memegangi bibirnya. Ia masih saja memikirkan insiden tadi pagi di ruang rias. Dimana bibirnya bertabrakan dengan milik Sa Rang.
"Ah Ha Ru-ah, kau sudah pulang rupanya," ucap Tae Joon.
"Ne,"
"Ye Na menunggumu, aku pergi dulu." kata Tae Joon sambil beranjak pergi meninggalkan Ha Ru dan Ye Na berdua.
Ha Ru memang menyukai Ye Na. Namun sudah berbulan-bulan ini ia merasa sangat risih saat berada di dekat Ye Na. Bahkan baginya, Ye Na hanya mengganggunya saja.
"Ha Ru-ah ...," sapa Ye Na manja.
"Mwo? Ada apa?" tanya Ha Ru.
"Temani aku pergi berbelanja hari ini, jebal ...," lirih Ye Na.
"Mian, tapi aku lelah," jawab Ha Ru.
Ye Na seperti dijatuhkan dari lantai atas sebuah gedung, sakit! Pertama kalinya ada seorang namja yang menolak ajakannya.
"Mwo? Tapi kau pacarku, tolong temani aku!" seru Ye Na.
"Aku?! Pacarmu? Ingatlah hubungan kita ini hanya pura-pura,"
"Tapi kau tak akan bisa mengakhiri hubungan ini!" ujar Ye Na.
"Tak bisa katamu?"
Ha Ru mengambil ponsel Ye Na yang sedari tadi digenggam gadis itu. Ia menekan-nekan nomor telepon yang tak lain adalah nomor milik PD-nim.
"Yeoboseyo, PD-nim ...,"