8. Cotton Candy

1088 Kata
"Yeoboseyo, PD-nim ...," "..." "Ini aku Jeon Ha Ru. Umumkan di media bahwa aku putus dengan Jung Ye Na. Jika tidak maka aku akan membuat surat pengunduran diri dari agensi!" ujar Ha Ru lalu mematikan sambungan teleponnya. "Sekarang kita tak punya hubungan Jung Ye Na, keluarlah dari dorm ini. Aku sudah muak." ucap Ha Ru lalu meninggalkan Ye Na. Hati Ye Na rasanya nyeri. Ia mengepalkan tangan dan membuat tekad yang bulat dalam hatinya. "Lihat saja Jeon Ha Ru, kau akan jatuh ke pelukanku nanti!" ... Ha Ru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Berkali-kali ia menyentuh bibirnya. Masih terekam jelas rasa bibir Sa Rang. "Ahh mengapa aku jadi memikirkanmu seperti ini Sa Rang?!" ujar Ha Ru lalu menghempaskan dirinya ke ranjang empuk miliknya. Ia menatap jendela yang di gagangnya terikat sebuah balon berbentuk sayap malaikat. "Balon ... kenapa aku masih menyimpanmumu? Meskipun semuanya telah berakhir ... jauh sebelum ini." tanya Ha Ru pada balon itu yang notabene merupakan sebuah benda mati. Ha Ru masih ingat benar bagaimana hari itu ia membawa balon dan kalung sebagai hadiah anniversary-nya. Sayangnya, ia putus hari itu juga. Dan ya, meski itu cuma cinta monyet anak SMA, dan meski Ha Ru sudah berkali-kali ganti pacar, ia tetap tak bisa melupakannya. Ha Ru menyalakan televisi berukuran besar yang ada di kamarnya. Sebuah berita membuat Ha Ru tersenyum miring. Berita tentang putusnya ia dan Ye Na. "Agensi  telah mengkonfirmasi kandasnya hubungan Ha Ru SEVEN STARS dan Ye Na Lovelyz, hubungan mereka dikabarkan harus berakhir karena kesibukan masing-masing yang membuat intensitas pertemuan menjadi jarang," ucap sang pembawa acara. "Bagus! Akhirnya aku lepas dari yeoja itu," gumam Ha Ru. ... "Kumpulkan tugas kalian sekarang juga!" seru Kang Seonsaengnim yang menyandang guru paling killer seantero Seoul International High School. Tak ada murid yang berani tak mengerjakan tugas dimata pelajaran guru Fisika itu. Semua murid kelas 2-4 sibuk mengeluarkan dan mengumpulkan tugas mereka ke meja guru. Sialnya, So Jung tak dapat menemukan buku tugasnya. Padahal ia sudah mengerjakannya dengan baik semalam. "So Jung, kau kenapa?" bisik Yoo Ah. "Buku tugasku sepertinya ketinggalan," jawab So Jung. "Bagaimana bisa?!" "Baiklah, yang tidak mengumpulkan tugas silahkan maju ke depan," ucap Kang Seonsaengnim. Kalimat itu bagaikan mantra horror bagi So Jung. Siap tak siap ia pasti akan dihukum sebentar lagi. Dengan lutut yang bergetar, So Jung berdiri dan maju ke depan kelas. Murid lain menatap So Jung tak percaya. Mereka tak percaya karena So Jung selalu mendapat juara umum setiap tahunnya, bagaimana mungkin gadis tercerdas se-angkatan itu tak mengerjakan tugas dari guru terkiller sepanjang sejarah Seoul International High School. "So Jung Jung, apa alasanmu tak mengerjakan tugas?!" pekik Kang Seonsaengnim. "Saya mengerjakannya, tapi ketinggalan," jawab So Jung lirih. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia sangat takut sekarang ini. "Ketinggalan katamu?! Apa kau meremehkan pelajaranku?! Sekarang kau berdiri di samping tiang bendera sampai jam pulang sekolah, selain itu kau harus menulis kalimat 'Saya tidak akan mengulangi perbuatan ceroboh saya lagi' sebanyak 500 kalimat. Kumpulkan besok! Jika tidak, siap-siap saja untuk dihukum lebih berat lagi!" ujarnya. Murid kelas 2-4 hanya bisa menganga terkejut mendengar hukuman yang Kang Seonsaengnim berikan pada So Jung. Apalagi Yoo Ah, ia kasihan pada sahabat yang sudah seperti saudara baginya itu. Seandainya Sa Rang melihat hal ini, ia juga akan merasakan hal yang sama dengan Yoo Ah walau pun mungkin wajah Sa Rang tetap saja datar. "Ne saem." So Jung lalu keluar dari kelas dan berdiri di samping tiang bendera. Ia merutuki dirinya sendiri yang ceroboh karena tak membawa buku tugas fisika. ... Jam dinding menunjukkan pukul 2 siang. Sa Rang sedang berbaring di kasurnya tanpa melakukan apa-apa. Selama dua hari ke depan ia free karena memang SEVEN STARS tak ada agenda kerja apapun. Setidaknya ia bisa beristirahat walau sebentar. "Kami pulang!" seru Yoo Ah bersemangat dari arah luar. Bersama dengan Yoo Ah, ada So Jung dengan wajah pucatnya. Ia lelah setelah dihukum seharian oleh Kang Seonsaengnim. "Mengapa wajahmu seperti itu?" tanya Sa Rang. "Dia dihukum oleh Kang Seonsaengnim karena lupa membawa buku tugas," kata Yoo Ah. "Yak Yoo Shi Ah, aku bertanya pada So Jung bukan padamu," ujar Sa Rang. "Mwo? Aku kan mewakili So Jung. Ya kan So Jung?" So Jung tak menjawab. Matanya berkunang-kunang saat ini. Tak lama ... 'Brakk' Tubuh So Jung jatuh ke lantai, ia pingsan. "So Jung! Omo!" Di tempat yang berbeda ... Ha Ru duduk di bench halaman belakang dorm SEVEN STARS. Melewati kebosanan yang melandanya saat ini. Hingga akhirnya ia melihat Hoseok keluar dari kamarnya sambil membawa seikat bunga matahari. "Hyung ... kau mau kemana?" tanya Ha Ru. "Ke makam Eun Ji. Kenapa?" jawab Hoseok. "Aku mau ikut hyung! Aku bosan di rumah," "Baiklah," "Tapi nanti belikan aku permen kapas ya hyung," rengek Ha Ru seperti anak kecil. "Tentu," ... Ha Ru pov Aku dan Hoseok hyung sampai di sebuah pemakaman bertuliskan 'Jung Eun Ji'. Ini adalah makam kekasih Hoseok hyung yang meninggal beberapa tahun lalu karena penyakit kanker tulang yang diidapnya. Hyung masih sangat mencintai Eun Ji noona. Eun Ji noona sangat baik dan ramah semasa hidupnya. Ia juga cantik, tak heran kalau Hoseok hyung tak bisa melupakannya. Hoseok hyung meletakkan bunga matahari di batu nisan Eun Ji noona. Bunga matahari adalah favorit gadis itu. Sedangkan aku menggenggam batang permen kapas yang Hoseok hyung belikan untukku di jalan tadi. "Hyung, kau pasti masih sangat mencintai Eun Ji noona ya?" ucapku. "Tentu saja. Karena cinta bukanlah hal yang mudah datang dan pergi seperti pasang surut air laut," jawabnya. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. Hyung-ku ini memang bisa mendadak menjadi seseorang yang sangat bijak. Di balik tingkahnya yang i***t dan kekanak-kanakan itu sebenarnya ia memiliki pemikiran yang dewasa. Hoseok hyung berulang kali mencium nisan orang terkasihnya itu. Mungkin sampai sekarang ia masih merasa kehilangan. Sama sepertiku, tapi bedanya Hoseok hyung tau dia kehilangan apa sedangkan aku merasa kehilangan namun tak tau apa yang hilang. Masa bodoh lah! Lebih baik aku memakan permen kapasku. Aku membuka bungkus permen kapas, dapat kucium aroma khasnya. Aku suka bau ini. "Hyung, kau mau permen kapas?" tanyaku pada Hoseok hyung. "Aniya," jawabnya. Aku lalu mencuil permen kapas berwarna merah muda ini dan memasukkannya ke mulutku. Tiba-tiba sekelebat bayangan terlintas di pikiranku. Bayangan tentang seorang gadis bertopi putih yang wajahnya sangat mirip dengan Sa Rang, diriku sendiri, dan permen kapas di sebuah festival. "Jangan makan yang manis-manis terus. Gigimu bisa rusak, Ha Ru" Ucapan, senyuman, gerak-gerik, dan suara halus gadis itu berkeliaran di kepalaku. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. "Hyung! Aku terus  mengingatnya!" ujarku. "Mengingat apa?" tanya Hoseok hyung. "Yoon Cheon Sa ... aku tak bisa melupakannya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN