4. Punishment

1323 Kata
"Mwo?! Jeon Ha Ru?!" seru keempat gadis itu. Pesan yang mereka buka berbunyi seperti ini, From : 010xxxxxxx Jangan sampai terlambat! -JeonHa Ru- "Apa dia mengenal uri oppa?" tanya Hara. "Entahlah, tapi jika memang iya maka kita tak bisa membiarkannya!" seru Ha Ni. Keempat gadis kaya itu memang merupakan fans SEVEN STARS dan sangat mengidolakan Ha Ru. Mereka merasa iri pada Sa Rang yang bisa mengenal Ha Ru. ... Sa Rang pov 'Tap! Tap!' Aku mempercepat langkahku meninggalkan So Jung dan Yoo Ah yang memekik menyerukan namaku. Aku terburu-buru menuju kelas karena aku sepertinya meninggalkan ponselku di sana. Betapa cerobohnya diriku ini! "Yakk Cho Sa Rang tunggu kami! Mengapa kau terburu-buru seperti itu?!" seru So Jung. Aku tak menghiraukan pekikan gadis berambut tergerai itu. Setelah sampai di depan kelas, Ha Ni dan teman-temannya menatapku tajam. Tsk! Firasatku buruk! "Cho Sa Rang ... apa kau sehebat itu?" tanya Ha Ni mendekat ke arahku. "Musun mariya?" tanyaku balik. "Tsk! Gadis ini selalu saja bebicara dengan nada datar dan ekspresi seperti itu!" ujar Na Mi. "Apa kau merasa kehilangan ponselmu Nona Cho?" tanya Hara sambil mengangkat ponselku di udara. "Kembalikan!" seruku. "Tentu saja kami akan mengembalikannya nanti, setelah kami menyelidikimu!" ujar Na Mi. "Menyelidiki apa?" tanyaku. "Bagaimana kau bisa mengenal Jeon Ha Ru oppa?" kata Ha Ni. "Bukan urusanmu," jawabku datar. "Geuraeseo? Kalau begitu tak akan kukembalikan!" ujarnya. "Ck! Aku tak suka bermain-main seperti ini!" ucapku. "Kalau begitu kau suka yang seperti ini uh?!" pekik Na Mi seraya menarik rambutku kasar. Cih! Dasar manusia yang hanya mengandalkan otot! "Lepaskan jemarimu dari rambutku atau kupatahkan kaki berlemakmu itu!" ancamku. Perlu aku tekankan, aku bukanlah orang yang suka berbicara omong kosong. Gadis bernama lengkap Son Na Mi itu tak kunjung melepaskan jambakkannya di rambutku. Ah sepertinya ia benar-benar ingin cari mati. 'Duk!' Aku menendang betis Na Mi sampai ia terjatuh di lantai dan merintih kesakitan. "Argghhhh ...," rintihnya. "Na Mi kau kenapa?" tanya Ga Young. "Kakiku sakit dasar i***t!" ujar Na Mi. "Berani-beraninya kauuu!" pekik Ha Ni. Ia hampir saja menamparku namun aku menepisnya dan sekarang tanganku menjambak rambutnya. "Yaampun Sa Rang apa yang kau lakukan?!" seru So Jung dari luar. "Yoo Ah panggil guru! Cepat!" pekik So Jung. Aku tak mempedulikan ucapan gadis itu. Yang kuinginkan hanyalah memberi pelajaran pada manusia paling 'sok' se-Seoul International High School ini. Selama ini tak ada yang berani melawan karena kekayaan yang dimiliki oleh orang tua mereka. Namun aku tak ingin menjadi pecundang seperti orang lain. "Kembalikan ponselku atau dapat kupastikan rambutmu ini akan lepas dari kulit kepalamu!" seruku. Ha Ni merengek minta dilepaskan, sementara Ga Young dan Hara hanya dapat menonton apa yang kulakukan pada ketua mereka ini. Na Mi masih saja merintih kesakitan di lantai, bahkan ia menangis sekarang. "Cho Sa Rang, Ha Ni, Hara, Ga Young, Na Mi apa yang kalian lakukan?!" seru Choi Seonsaengnim. ... Aku berjalan gontai keluar dari gerbang sekolah menuju halte bus. Padahal ini belum saatnya jam pulang sekolah. Ini karena hasil keputusan Choi Seonsaengnim. Aku di skorsing selama 1 bulan. Mengapa bisa selama itu? Tentu saja bisa, itu karena aku berhasil mematahkan kaki Son Na Mi. Ponselku juga sudah kembali ke tanganku. Walau dihukum, setidaknya aku bisa memberi pelajaran kepada gadis-gadis s****n itu. Selain itu, pihak sekolah juga memutuskan untuk memindahkan Na Mi, Ha Ni, Ga Young dan Hara ke kelas lain. Itu dikarenakan mereka telah terlalu sering membuat masalah. Aku sebenarnya masih heran tentang apa yang mereka lihat di ponselku. Seingatku mereka tadi menanyakan tentang Ha Ru. Apa ada hubungannya dengan namja itu? Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, aku membukan ponselku dan rupanya ada pesan dari nomor tak dikenal yang menuliskan nama Ha Ru di akhir pesan. Pasti gara-gara ini! Cih! Seandainya saja namja itu tak mengirimiku pesan maka aku tak akan diskors seperti ini! ... Author pov "Aku pulang." ucap Sa Rang lalu meletakkan sepatunya di rak. Kebiasaan yang tak pernah berubah semenjak kecil. "Mengapa kau pulang awal Sa Rang? Yoo Ah dan So Jung mana?" tanya Song Ahjumma. Song Ahjumma adalah pengurus panti asuhan. Jika panti asuhan ini adalah sekolah, maka Song Ahjumma adalah kepala sekolah. Ia adalah sahabat dari pemilik Jeon Foundation, yang tak lain adalah eomma-nya Jeon Ha Ru. Sa Rang yang dihujani pertanyaan bertubi-tubi pun menyerahkan sebuah kertas. Kertas itu adalah surat keputusan sekolah untuk memberi skorsing pada Sa Rang. Mata Song Ahjumma terbelalak, ia tak habis pikir mengapa Sa Rang bisa diskors seperti ini. Bahkan skors yang dijatuhkan sampai satu bulan. "Mwo?! Bagaimana bisa kau diskors? Kesalahan apa yang kau perbuat Cho Sa Rang?!" tanya Song Ahjumma kaget. "Aniya, aku tak berbuat kesalahan besar. Aku hanya mematahkan kaki Na Mi," jawab Sa Rang santai. Jantung Song Ahjumma rasanya dihantam sebuah batu besar. Ia benar-benar terkejut! Walau Song Ahjumma mengasuh Sa Rang sejak kecil, ia tetap tak bisa paham dengan jalan pikiran gadis bermata cokelat itu. Sa Rang yang tak pernah tersenyum dan bahkan bernada bicara datar itu bukanlah orang yang bisa ditebak. "Sa Rang! Apa menurutmu mematahkan kaki seseorang itu hal yang biasa?? Berkelahi bukanlah hal yang dibenarkan! Apa sekarang kau senang kau diskors seperti ini? Kau bilang kau ingin menjadi jaksa, jika kau ingin meraih mimpimu itu maka kau haruslah berperilaku dengan baik Cho Sa Rang!" omel Song Ahjumma. "Mematahkan kaki seseorang seperti Na Mi adalah hal yang harus dilakukan. Berkelahi dibenarkan untuk pembelaan diri. Aku cukup senang diskors. Dan yang terakhir, untuk meraih mimpi aku tak perlu berperilaku baik yang kubutuhkan adalah uang. Karena di jaman ini, orang baik tak sebanding dengan orang yang memiliki uang," jawab Sa Rang. Perkataan Sa Rang memang benar terutama pada poin terakhir. Di jaman yang sudah penuh dengan modernisasi seperti sekarang ini, banyak orang baik dan cerdas yang kalah dengan orang kaya. Orang yang memiliki uang bisa menjadi apapun yang dia kehendakki bahkan tanpa perlu usaha keras sedangkan orang baik dan cerdas banyak yang terbuang sia-sia walaupun sudah berusaha sampai titik darah penghabisan. "Ah sudahlah!" kata Song Ahjumma pasrah. ... Ha Ru dan member SEVEN STARS yang lain baru saja sampai di lokasi shooting mereka yang merupakan sebuah studio berukuran cukup besar. Sudah hampir pukul 12 siang, semua jajaran make up artist sudah siap untuk mendandani member SEVEN STARS kecuali Sa Rang. Jam kerjanya memang pukul 2. "Shin Min hyung, hari ini biar Mi Gyeol noona yang mendandaniku ya," bujuk Ha Ru. Mi Gyeol noona adalah make up artist pribadi Shin Min. Setidaknya sudah dua tahun belakangan ini. "Wae? Kau kan sudah punya make up artist Ru," ucap Shin Min. "Jebal hyung!" kata Ha Ru memelas. Namja bergigi kelinci itu benar-benar tak ingin wajahnya dirias oleh Sa Rang. Ia masih saja terus berpikir bahwa Sa Rang itu hanyalah anak SMA yang amatir dalam dunia make up. "Aish baiklah," ucap Shin Min mengalah. "Mi Gyeol noona, rias Ha Ru hari ini. Aku akan dirias oleh Sa Rang saja," ujar Shin Min pada make up artist-nya yang dibalas oleh sebuah anggukan kecil oleh seorang yeoja bernama Mi Gyeol itu. Tak lama datanglah Sa Rang dengan kaos ungu dan skinny jeans-nya. "Cho Sa Rang, mengapa kau datang pukul 12? Bukankah seharusnya kau sekolah?" tanya Tae Joon. "Aku sudah pulang pukul 10 tadi," jawab Sa Rang. "Wae? Apa ada rapat guru?" tanya Jin. "Aniya, aku diskors," ucap Sa Rang santai. "Mwo?! Skors?" "Kesalahan apa yang kau lakukan sampai diskors?" ucap Ho Joon. "Aku berkelahi," kata Sa Rang. "Ah sudahlah Cho Sa Rang, rias Park Shin Min! Temanya hari ini adalah manly look!" seru Ha Ru. Tanpa banyak bicara Sa Rang mendekati Shin Min yang duduk di depan cermin rias. Ia langsung mengambil alat make up yang memang sudah disediakan. Tangan lembut Sa Rangh mengoleskan BB Cream di wajah Shin Min. Baru pertama kali Shin Min disentuh oleh tangan selembut ini. "Apa gadis ini malaikat atau sejenisnya? Tangannya lembut sekali," ucap Shin Min dalam hati. Shin Min terus-menerus memperhatikan Sa Rang dan tanpa ia sadari jantungnya berdetak secara abnormal di dalam sana. "Mengapa rasanya aku gugup sekali?" tanya Shin Min dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN