Aleta berdiri berhadapan dengan Nadine. “Kenapa kau kesini?” Aleta mengambil nafas sebelum menjawab, dia sedikit kelelahan akibat terburu. “Sorry, Nad. Apa urusanmu dengan Jo--maksudku Pak Jona sudah selesai?”, sial, dia lupa berada di tengah ruangan dengan penuh manusia pekerja. “Memangnya kenapa? Kami belum selesai tetapi ada telepon yang membuatnya beralih ke sana.”, Nadine menunjuk posisi Jonael. “Bolehkah aku mengganggu? Aku harus bertemu dia sekarang.” “Kau tak perlu minta izin padaku, Ale. Silahkan.”, Nadine memberi jalan. “Terimakasih….”, ucap Aleta sambil berjalan melewati Nadine yang tersenyum kecil. Tak lama kemudian Aleta sudah berdiri di samping Jonael yang menumpu tangan di jendela. Dia terkejut begitu seseorang menginterupsinya. Jonael bertanya dengan dagu terangkat

