penencuri handal

708 Kata
kamu gak mau mandi, tanyanya iya Gus ni mau mandi,, karna merasa malu dengan tampilan Fadil, tanpa pikir panjang Yuna masuk ke kamar mandi tanpa bawa alat mandi, atau baju ganti. sesampai nya di kamar mandi, Yuna pelepas kebayanya, baju yang ia pakai sendari pagi, acara wisuda, badan nya terasa lengket, ingin segerah di guyur dengan air mengalir, memasukan kebaya itu ke dalan ember berisi air,, Yuna berniat mandi sekalian nyuci bajunya sendiri,, Yuna lekas membersihkan diri, setelah selesai mandi, Yuna mengedarkan pandangannya di sekitar kamar mandi, aduhh,, menepuk keningnya sendiri,, lupa bawa baju ganti sama handuk, ahirnya Yuna terpaksa mengambil sarung berwarna hitam bermotif batik putih, dan memakainya untuk menutupi tubuh polosnya,, lalu membuka pintu kamar sedikit, mengintip di balik cela pintu, untuk mengecek di kamarnya ada suaminya atau tidak di kamar tersebut, dan ternyata Fadil lagi duduk di sofa kamar sambil membaca kitab,, huffff,, menghela nafas sejenak,, ni kalu gue kelamaan di kamar mandi bisa sakit ni,, dan ahirnya memberanikan diri menyumbulkan kepalanya di balik pintu,, Gus,, panggilnya,, Fadil yang fokus baca kitab langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi,, iya ada apa, jawabnya kemudian kembali fokus ke kitab. Gus Yuna gak ada baju,, Fadil pun menoleh kembali, terus,, jawabnya singkat,, ihh,,, cariin baju ke apa ke, jadi laki laki ko gak peka,, ngomelnya,, sementara Fadil gak menggubrisnya,, Gus panggilnya lagi,, iya Yuna, kamu kalau mau baju tinggal cari aja di lemari, di luar hujan lebat, maaf gak bisa ngambil kopermu di bagasi mobil, besok pagi aku ambil kopermu,, jawabnya tak menatap Yuna sama sekali,, ihh ngeselin banget ni orang,, dumelnya dalan hati,, yuna yang kesal pun ahirnya keluar kamar mandi dan menuju lemari, Fadil yang melihat pergerakan Yuna di depannya yang memakai sarung kotornya yang ia taroh di kamar mandi tadi, menampilkan leher jenjang, rambut nya yang basah,, kedua bahu putih mulus, d**a Terpang pang nyata,, sehingga ia mendadak menelan ludah dengan susah paya,, menormalkan detak jantungnya yang jedag jedug,, Gus pinjem kemejanya aja ya,, pintanya,, Fadil berpura pura fokus ke kitab yang di tangannya,, dan sesekali mengatur nafas dan menenangkan sesuatu di bawah sana yang sedikit menegang,, terserah,, jawabnya jutek,, Yuna cuma memutar matanya malas,, kulkas kulkas, kadang panas kadang dingin, kadang kaku,, ihh orang ko suka berubah ubah gitu kaya bunglon,, Yuna memilih fokus ke lemari Gus Fadil,, dan di ambilnya kemeja warna putih,, sesaat kemudian,, ahhhhgghhh,,, seekor cicak nempel di tanganya,, mengibaskan tanganya biar cicak nya jatu, Yuna berlari meninggalkan kemeja yang terjatu,, lari tunggang langgang,, dan naik ke kasur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut,, geli merinding kaget jadi satu,, Fadil yang terperanjat kaget dengan teriakan Yuna pun, berdiri menghampiri Yuna,, menyentu pundak Yuna, kenapa kamu,, bangun cepet paki baju,, terus tidur udah malam katanya memberi perintah,, takut ada cicak di lemari Gus, jawabnya di balik selimut,, gak ada cicak nya udah pergi,, timpalnya, cepet pake bajunya, jangan sarungan aja nanti sakit,, tintahnya,, tak ada jawaban dari balik selimut,, Yuna,, panggilnya, Yuna panggilnya lagi mengulurkan tanganya menyentuh bahu di balik selimut dan menggoyangkannya pelan, Yuna,, panggilnya lagi,,.di singkap selimut yang menutupi tubuh istri kecilnya itu,, yang ternyata Yuna sudah terlelap,, masaallah,, sambil menggelengkan kepalanya,, karna lupa kalau Yuna itu pelor,, nepel molor,, cepet banget langsung tidur begini, gumamnya sambil memperhatikan wajah teduh Yuna, bibirnya tertarik membentuk senyum,, mengingat kejadian di rumah ustadz Ali,, ciuman pertama yang sampe sekarang membuatnya ketagihan, dan sellu terbayang di ingatan nya,, tentang adegan kala itu,, Fadil pun duduk di sisi ranjang, tanganya terulur membelai rambut Yuna,, masaallah,, nikmat mana yang kau dustakan, terimakasih ya Allah sudah memberiku bidadari cantik untuk ku,, semoga kita sellu bersama di surga nanti, amin ya rob,, Fadil pun mencium kening Yuna,, dan matanya memperhatikan wajah cantik yang ada di bawah nya,, cup,, pipi kiri, cup,, pipi kanan, cup,, turun ke bibir tipis yang merah alami, awalnya cuma nempel,, lama lama jadi lumatan dan hisapan yang sangat dalam,, ahhh,, lenguhan Yuna dari tidurnya,, Fadil pun berhenti sejenak, dan mengangkat wajahnya, memperhatikan Yuna takut terbangun,, karna sudah menjadi pencuri, saat tuanya sedang terlelap,, di usapnya lagi rambut Yuna, di belai dengan sayang,, dengkuran halus terdengar dari nafas Yuna yang teratur,, untung gak bangun,, bisa bahaya kalu bangun,, cup,, mencium bibir mungil nya lagi hanya sekilas,, lalu ikut berbaring di samping Yuna, dan terlelap,, bersambung,,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN