Kakiku melangkah menuju dia yang masih berdiri di balik pintu. Aku merasa jarak ini begitu jauh, padahal ia hanya beberapa langkah saja di hadapanku. Aku ingin berlari dan langsung memeluknya, hanya saja aku masih ingat status kami. Ya Allah, semoga ia datang ke sini untuk membawa kabar gembira. Setelah dekat dengannya dadaku kembali bergetar hebat. Aku tidak menyangka efek hadirnya membuat jantungku seperti ini. Aku memerhatikan dia yang nampak kacau, kemejanya yang lecek dan dibiarkan keluar dari celananya. Rambutnya acak-acakkan dan wajah tampannya nampak kusut. Kantung matanya sangat nampak seolah ia kurang tidur selama beberapa hari ini. "Ini," ucapnya sambil menyerahkan sebuah map berwarna cokelat padaku. Keningku mengernyit karena bingung, aku tidak tahu apa isi di dalamnya. "Isin

