Beberapa hari setelah kepergian Adinda, Ummi masih larut dalam kesedihannya. Memang kehilangan orang yang disayang merupakan suatu hal terberat dalam hidup. Aku pun tidak memungkiri hal itu. Adinda pergi tanpa memberikan firasat apapun pada kami, dia pergi secara mendadak. Aku pun juga merasakan apa yang Ummi rasakan. Kehilangan. Namun aku sadar, ada siang ada malam. Adanya pertemuan dan perpisahan. Serta adanya kelahiran dan juga kematian. Itu sudah menjadi sunnatullah atau hukum alam. Karena kondisi Ummi yang masih belum bisa diajak pergi, akhirnya Mas Izhar mengajakku untuk menjemput bayinya di rumah sakit. Dan di sinilah aku. Aku sedang menunggu Mas Izhar yang sedang mengurus kepulangan putrinya. Aku berdiri di depan ruang perawatan bayi. Di dalam sana banyak bayi yang beberapa ha

