Perlakuan Jo mengingatkanku pada Wisnu. Tidak jarang, dahulu Wisnu sering memaksaku melakukannya meski aku tidak siap. Ia juga berlaku kasar dalam melakukannya dan sering melakukan itu tanpa pemanasan yang membuat aku tidak menikmatinya sama sekali. Namun, mau tidak mau aku harus tetap melakukanya sebagai kewajibanku pada suami. Jujur saja, hal itu sangat membekas di hatiku. Oleh karenanya aku tidak sengaja menampar Jo agar ia tersadar dan berhenti melakukan hal yang akan membuatnya menyesal. Bukannya aku tidak ingin memberikan haknya malam itu, namun aku ingin dia memintanya secara baik-baik. Ku rasa, keinginanku tidak muluk. Jika ia terus melakukan kehendaknya, aku merasa seperti diperkosa oleh suamiku sendiri. Aku juga sadar bahwa aku belum bisa menjadi istri yang baik untuknya. Terleb

