"Kamu setuju?"
Aku muak dengan semua ini. Aku tertawa sinis. Dia bahkan tidak mempertanyakan bagaimana dengan perasaanku yang jelas-jelas menjadi korban di sini, Dia ingin menikah lagi oh astaga bahkan gajinya saja tak cukup untuk kami berdua.
"Berpikirlah. Cerai bukan pilihan terbaik, Khalisa."
Aku tertawa mengejek. "Kamu pikir kamu bisa menghidupi dua istri?" ejekku kesal.
"Jangan meremehkan aku, Khalisa."
"Kenyataan kan, jika aku tak ikut bekerja apakah cukup gajimu," jawabku setengah menyindir.
"Khalisa."
Aku hanya diam malas menanggapinya. Hanya terdengar napas yang memburu. Tak sepatah pun kalimat keluar dari bibirku. Kata pisah bagi perempuan di mana pun bagai hantu yang begitu menakutkan di dalam sebuah perkawinan, jika bertahan pun akan saling menyakiti.
Terlihat mas Adi mengenggam erat kedua tangannya menatapku sinis, aku tahu dia lagi marah dengan ucapanku yang menyindir.
"Tapi, aku tahu kamu membutuhkan lebih banyak waktu untuk memutuskan."
Lelaki yang selama ini romantis berubah bajin**n dalam beberapa jam terakhir. Itu membuatku benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih.
"Kau dengar aku, Khalisa?" Kali ini suara mas Adi terdengar lebih tegas dan itu sontak membuatku menghentikan gerakan. Aku berbalik menatapnya.
"Aku dengar. Sejak dulu aku selalu mendengarmu. Dan sekarang kamu yang harus mendengarku, aku tunggu gugatanmu secepatnya."
Mas Adi mengacak rambutnya hingga belakang kepala. "Sayang?"
"Kenapa tidak punya uang untuk menggugat?" sindirku.
"Khalisa!"
Aku sontak berbalik ketika mas Adi tiba-tiba menarik paksa tanganku untuk memelukku namun aku mendorong kuat-kuat tubuhnya. Sepasang mata laki-laki itu memerah. Entah marah, entah terluka. Yang kutahu mas Adi bukan laki-laki yang gampang menyerah, pun bukan lelaki yang mudah meluapkan marah. Namun sekarang terlihat ada emosi dalam netranya.
"Pernikahan bukan mainan, Khalisa. Kau ingin kita selesai begitu saja?" mas Adi mendesis persis di depan wajahku.
Aku tertawa. "Terus kalau selingkuh itu bukan mainan, 'hah?" tanyaku balik.
Terlihat rahangnya mengeras.
"Sekarang aku yang salah? sekarang aku yang mempermainkan pernikahan? kau lupa siapa yang mulai, mas?" aku berucap dengan suara lebih pelan dan tajam. Aku mengerjap tatkala setetes air mata gagal kutahan.
"Khalisa aku hanya inginkan anak."
Aku tertawa. "Omong kosong. Kenapa harus berzina? Kenapa harus Sandra sahabatku, Mas?"
"Ya maaf. Setidaknya maafkan aku, kita masih tetap bersama kan?"
Aku melepas pegangan tangannya. Aku melangkah mundur. "Aku tidak akan berbagi suami dengan sahabatku, sahabat yang menghianati aku."
"Oke, setidaknya sampai anak itu lahir aku akan mengambil anaknya untuk kita."
"Kamu pikir aku bonekamu, ingat kamu sudah menghianati aku."
Tak ingin melihatnya aku mengambil teh hangat lalu meminumnya perlahan.
"Khalisa."
Tiga tahun memang terlalu singkat. Dan semua baik-baik saja sampai akhirnya kini
aku tak sanggup duduk dengan madu harus berbagi? Sementara mereka bersenda gurau, membahas sederet masa depan untuk anak mereka, astaga. Bisa gil* aku dibuatnya.
"Kamu cemburu?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku ingin kita pisah."
"Kau egois, Khalisa. Bahkan kau tak bisa memberikanku anak, andai kau menikah pun kau tak pernah akan punya anak jangan egois."
Deg
Kau tahu saat ini rasanya, hatiku begitu patah saat ia mengatakan itu, bagaimana ia bisa bicara seperti itu ini menyakitkan dari apapun
"Pergi dari rumah ini, ini rumahku pergi ...." Usirku kasar.
"Khalisa, ini."
"Aku tunggu di persidangan jika kamu merasa seorang laki-laki."
Mas Adi pergi membanting pintu utama, entah marah atau apa aku tak peduli. Dan saat itu juga aku meluruhkan diri di lantai dan menopang tubuh di sisi tempat tidur. Tanpa bisa kutahan, air mataku tumpah dan menderas.
***
Hari di mana banyak kejadian yang menyakitkan, aku simpan rapat-rapat di balik memori dan tak pernah ingin aku buka lagi. Namun, nyatanya aku tak sekuat itu memori saat mas Adi yang menenangkan Sandra semalam muncul begitu saja dan membuat aku tak berdaya untuk menepisnya. Pada saat ini, aku tak bisa berpura-pura bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Semua kenangan itu tak bisa kuhapus dari ingatan. Jadi seorang istri yang tak diinginkan. Memory tentang hinaan Ibu mertuaku pun kini menari-nari bagaikan pemutaran sebuah film.
"Adi, kenapa kau menikahi perempuan yang tidak tidak bisa hamil." Suara Ibu mertuaku meninggi membuatku begitu sesak.
"Bu, sudahlah!" mas Adi mencoba untuk meredam emosi Ibunya.
"Terus saja bela istrimu itu dan mempertahankan pernikahan kamu, untuk apa coba menikah kalau tak bisa punya anak."
"Bu."
"Ah capek aku, malu semua orang menanyakan kapan punya anak, bahkan temanmu sudah banyak yang punya anak Adi."
Seketika genangan air mataku mengalir deras.
"Bu!" Bentak mas Adi membuat Ibu semakin murka.
"Kenapa, Ibu benar kan? Jangan-jangan istrimu ini mandul?"
Aku terdiam.
"Periksa gih."
Mulutku tak bisa kubuka untuk sekedar menjawabnya.
"Udah nikah lama, loh. Masa belum hamil juga."
Kalimat-kalimat itu bagai ribuan jarum menancap dalam d**a. Tanpa bantahan, aku menelan semuanya dengan perasaan yang dikuatkan. Anehnya, Ibu yang melontarkan ungkapan itu justru merasa baik-baik saja. Apa hati Ibu telah mati hingga tak merasa telah menoreh luka pada hatiku?
Lagi, keraguan menyelimuti hatiku. disertai rasa nyeri yang terasa begitu menyiksa. Karena aku sendiri tak pernah tahu, bagaimana bisa melalui hari-hari ini bukan salahku bukan, dan semuanya bukankah sudah ditetapkan dan sudah menjadi rahasia Allah yang tak kunjung memberiku keturunan.
"Aku minta maaf, Bu."
"Wanita nggak berguna, mandul!"
Aku tersadar dari lamunan ku, kata-kata Ibu mertuaku begitu menyakitakan, tapi apakah itu benar bahwa aku wanita yang tak berguna. Aku menatap kosong ke depan, genangan air mata membasahi wajah. Elia datang dan memelukku dari belakang, ia tahu jika aku lagi tak baik-baik saja.
"Hei ada masalah apa, Khalisa?" tanya Elia duduk di sampingku.
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Sudahlah jangan bersedih lagi ada aku disini."
"Aku tidak kuat."
"Sabar, percayalah. Allah akan membantu hamba-Nya yang sabar."
"Mas Adi ...."
"Ya kenapa dia?"
"Dia selingkuh dengan, Sandra."
"Apa?"
Elia memelukku erat, saat aku menceritakan semua kejadian itu. Aku tahu dia memang sahabat terbaikku yang selalu ada buatku di saat suka maupun duka. Tanpa sekat dan terikat. Dia seperti sahabat yang selalu tahu pikiranku. Bertanya tanpa menghakimi. Menasehati tanpa menyakiti. Bukankah itu sahabat yang saling menyayangi.
"Semangat. Ayo kembali bekerja. Ada pasien kecelakaan."
"Hu um.
Kami berdua bangkit dan mulai membantu dokter memeriksa beberapa pasien.
***
Aku melajukan motorku dengan kecepatan cepat, tak berselang lama aku sudah sampai di halaman rumahku. Di sana aku melihat Mas Adi sudah duduk di halaman. Aku muak dengan pertengkaran, ambisi yang merajai jiwa. Sedingin apapun hidup, memang harus dijalani. Saat ini hanya kepingan lara yang ada di hati. Memperbaiki semuanya apakah sudah terlambat, namun aku tak bisa berbagi karena aku bukan wanita sempurna yang harus berbagi suami kepada wanita lain. Ya aku akan mencoba untuk tetap baik-baik saja.
Sesaat aku menatap mas Adi yang masih duduk di kursi dengan amplop warna cokelat. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Kita pisah saja, Khalisa. Ini gugatanku"
Setelah lama terdiam akhirnya, keluar juga kata itu dari mulut mas Adi. Mendengar kalimat singkat dari suamiku, lututku mendadak lemas. Aku menggenggam erat jemariku dalam genggaman kuat. Seperti gelas yang aku pegang jatuh ke lantai, menjadi serpihan kaca kecil yang berserakan. Sama seperti hatiku kini, hancur berkeping-keping.
Aku terdiam mendadak beku dan hanya diam seribu bahasa tanpa mampu menjawab. Sejujurnya aku begitu takut, ini yang selama ini aku takuti. Menyandang gelar sebagai seorang janda. Bukankah itu sangat mengerikan, jadi janda karena tak bisa memberikan keturunan seorang anak.
"Khalisa bicaralah."
"Oke, aku setuju."
Mas Adi terdiam. Ada gurat kecewa dalam benaknya.
Aku tersenyum sinis. Mau marah pun tak ada gunanya toh wanita itu sudah mengandung. Aku terisak tak mengerti kenapa bisa pernikahan kami akan hancur seperti ini.
"Kamu tak marah?''
Aku tertawa sumbang. "Untuk apa marah? bukankah aku wanita mandul?"
"Itu tidak benar. Sejujurnya aku masih ingin hidup bersamamu"
Aku hanya tersenyum.
"Khalisa."
Mas Adi hendak menyentuhku namun aku menghindar.
"Sudah jelas kan apa lagi?" tanyaku sinis.
"Khalisa, aku ingin kita bersama."
"Aku tak akan pernah berbagi suamiku dengan wanita lain. Tidak akan ada dua ratu dalam satu istana bukan. Pergilah"
Mas Adi terdiam matanya memerah, menahan amarah. "Apakah ini akhir dari pernikahan kita, Khalisa?" tanyanya.
Aku tak peduli
"Caci maki lah aku. Apapun ucapanmu aku tak kan menjawabnya lagi."
Andai aku berontak pun akan sia-sia saja. Karena dia sudah dibutakan oleh cinta. Yang sejujurnya aku juga ingin berteriak dan bertanya, tapi mulut terkunci rapat. Hanya terlihat lelehan air mata yang tidak sanggup aku tahan.
"Maaf Khalisa."
"Katakan sesuatu, Khalisa."
"Pecundang, itulah kamu, mas."