bc

Dinikahi Duda Arogan Setelah Bercerai

book_age18+
3.0K
IKUTI
19.7K
BACA
family
HE
opposites attract
badboy
brave
bxg
kicking
witty
like
intro-logo
Uraian

Mandulnya Khalisa dijadikan alasan oleh suaminya untuk mengkhianati wanita itu dengan Sandra, sahabatnya sendiri. Pernikahan yang tadinya hangat pun kini berubah jadi penuh rasa sakit. Setelah bercerai, Khalisa terpaksa menikah dengan pilihan orang tuanya, seorang duda beranak satu. Tak hanya belum mengenal pria itu, sang duda ternyata bersikap dingin dan arogan padanya. Akankah pernikahan tanpa cinta itu bisa mendatangkan kebahagiaan? Bagaimana akhir pernikahan antara janda dan duda itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kepercayaan Yang Ternoda
Khalisa: Mas, hari ini pulang cepat, ya! Aku ada kejutan buat kamu. Senyumku mengembang saat pesan chatku sudah terkirim. Bahkan setiap hari suamiku memperlakukan aku dengan sangat baik dan romantis. Aku merasa keputusanku untuk menerima lamarannya saat itu sangat tepat. Aku tidak mempermasalahkan status suamiku yang hanya karyawan biasa dengan gaji pas-pasan. Hari ini adalah hari perayaan aniversary pernikahan kita yang ketiga. Kukirim pesan lagi untuknya. Khalisa: Mas, pokoknya jangan sampai telat aku tunggu. Aku kirim chat lagi, setelahnya aku memejam sembari menikmati aroma kue yang sudah matang refleks aku membuka mata karena harumnya. Aku segera mematikan oven, mengambil kue tart kuhias dengan butter cream. Sekitar sepuluh menit akhirnya kue tartku sudah jadi. Aku mempersiapkan semuanya dari makanan kecil kue ulang tahun hingga minuman coca-cola sudah tersedia di atas meja. Saat ini aku benar-benar nervous karena hari ini adalah hari spesial atau karena hal lain entahlah. Kupakai baju terbaikku, berharap ini kan menjadi hari spesial bagi kami berdua. Bola mataku tampak berputar. Aku penasaran, jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam namun belom ada tanda-tanda suamiku pulang. Ini bukan masalah besar untukku. Mungkin mas Adi memang sedang sibuk bekerja. Aku mulai gelisah aku ambil ponsel kulihat chat untuk mas Adi dan masih centang dua itu mampu membuatku penasaran. Pernikahan kami berjalan nyaris tanpa masalah yang berarti. Dia yang cukup dewasa, sedangkan aku adalah tipikal istri manja. Sempurna, bukan? Ketidak sempurnaan justru aku rasakan saat aku tidak kunjung memiliki momongan. Aku kerap bersedih sering merasa bersalah kepada mas Adi. Padahal dia justru lebih santai dan tak menuntutnya. Aku mengusap rambutku dengan perasaan yang tak menentu. "Jangan sedih, Khalisa. Mungkin Allah belum ngasih karena inginkan kita berdua dulu, biar seperti pacaran," ucapnya setiap saat aku lagi sedih. "Aku tak mempermasalahkan itu ayolah jangan sedih." "Sayang, sudahlah aku bahagia meskipun kita hanya berdua saja." Suara motor terdengar di halaman rumah kami membuatku tersadar dari bayangan kata-kata mas Adi yang selalu menenangkan aku. Buru-buru aku duduk di depan cermin, merapikan rambut yang sedikit kusut juga mengoles lipstik juga bedak. Bersiap menyambut suamiku Atur napas Khalisa. Jangan grogi. Aku berlari ke arah depan membuka pintu gurat senyum terukir di sudut bibirku saat melihat wajah tampannya. "Hai, Sayang." Aku rindu? Tentu saja sangat rindu. Wajah tampannya menyapa. Dia mencium keningku lalu mengikuti aku untuk masuk ke dalam rumah. "Mas, sudah aku siapkan air hangatnya." "Hmm. Aku capek sekali hari ini, pengen cepat tidur." Tak seperti biasanya. "Aku mandi dulu." Dia berjalan ke arah kamar mandi. "Hmm oke." Memasang muka nyengir, aku merasa tak berguna telah menyiapkan kejutan untuknya, karena tak biasanya wajahnya murung. Apa ini soal kerjaannya? Entahlah. *** Aku melirik jam yang bertenger manis di dinding, sudah pukul setengah sepuluh malam. Pantas saja, wajah mas Aditya Marwan nama lengkapnya itu sudah tak enak dipandang. Sejak tadi, dia cemberut melihatku. Aku menyiapkan semuanya aku memanggilnya untuk makan malam serta memberikan surprise di hari aniversary pernikahan kami. "Mas," panggilku. "Hhmm." "Ayo makan malam sudah siap!" ujarku sedikit kesal. "Bentar lagi ya. Dikit lagi, kok ini, masih chat atasanku," jawabnya tanpa menatapku. Senyumanku yang sejak tadi melengkung kini perlahan memudar. Aku segera mengalihkan pandangan agar mas Adi tidak menyadarinya. Mungkin saja kini sikapnya mas Adi sekarang sama dengan Ibunya yang terus menginginkan anak dari rahimku. Ah entahlah. "Mas ayolah mau, 'kan?" "Iya, Khalisa." Mas Adi setuju. Dia segera mengikuti aku ke arah meja makan. "Apa ini, Sayang?" tanyanya dengan raut wajah biasa saja. "Mas lupa jika ini adalah hari aniversary kita yang ke tiga?" "O. Maaf aku lupa," jawabnya tanpa memperdulikan perasaanku. Tadinya aku akan memberikan surprise sudah sangat berharap akan memberikan hasil tespack bergaris dua sebagai kado. Nyatanya tadi pagi setelah menunggu beberapa saat, aku menarik napas, lalu membuka mata. Namun aku hanya bisa mencengkeram erat alat tes kehamilan itu, lalu meluruhkan diri di kamar mandi. Wajahku tenggelam di antara lipatan tangan, sementara kedua lututku terlipat di depan d**a. Entah berapa lama aku menangis, lagi-lagi aku kecewa karena hanya satu garis yang muncul saat aku mengeceknya tadi pagi. "Maaf aku lupa, Sayang." Suara mas Adi menyadarkan aku. Aku hanya tersenyum. "Enggak kerasa ya, mas kita sudah tiga tahun menikah." "Hu um." Mas Adi memang tersenyum, tetapi aura ketus itu masih kentara bagiku ada yang aneh dengan dirinya. Aku menarik napas dan memaksa hati tetap baik-baik saja. Meski aku tahu ada yang tak beres dengan suamiku itu, dan harusnya aku ikut bahagia karena ini hari spesial. Dengan perasaan pecah, aku memaksa untuk tak menangis. Mengemasi hati yang berantakan kuyakin hari aniversary kali ini tak sebagus yang kuperkirakan. "Maaf aku lupa tak beli hadiah, sayang." Lupa hah bisa-bisanya ia lupa di hari spesial ini. "Maaf." Aku menatapnya malas. "It's oke." "Benar kamu tak papa?" "Hmm." Ada ketukan pintu dari luar, mas Adi bangkit lalu membuka pintu, bahkan kami belum meniup lilin apalagi makan malam. "Sebentar, Sayang biar aku saja yang buka." "Oke." Hampir sepuluh menit mas Adi tak kunjung kembali, di luar aku mendengar suara bisik-bisik dari arah halaman, Perlahan, aku mencoba untuk berjalan ke arah itu, terlihat mas Adi dan wanita berambut sebahu itu sedang berbicara ada apa? masuk tanpa permisi memasuki rumah orang. Namun, aku sadar jika mas Adi mendarat menyentuh bahu wanita itu membuat aku sedikit syok. "Ada apa ini?" tanyaku penasaran. Mas Adi menatapku. Tampak pilu, seolah-olah mengisyaratkan maaf atas kejadian di luar malam ini. Dia tergesa-gesa mengandeng wanita itu pergi, namun wanita itu melepaskan tangan mas Adi lalu menatapku. "Mbak, maaf siapa ya?" tanyaku tak tahu karena wajahnya tertutup badan mas Adi. "Saya Ibu yang mengandung benih suamimu," ucap wanita itu membuatku seketika beku. Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku membeku tubuhku sulit aku gerakkan, dadaku sesak seperti terkena ribuan benda berat tepat mengenai kepalaku. Apa aku tak salah dengar mas Adi menghamili wanita lain. "Sandra, kumohon." Sandra maksud mas Adi siapa? Sandra siapa? "Tidak aku hamil, mas ini anakmu. Aku minta pertanggung jawabanmu!" Aku terdiam berusaha menguatkan hati. Berharap ini hanya mimpi dan aku harus bangun secepatnya. Mereka hanya mengerjaiku saja. Dia tidak mungkin serius dengan perkataannya. "Ha-mil? Kamu siapa?'' "Aku kekasihnya." Aku harus kuat dan tak boleh emosi di depan wanita itu. Dan, dia mendekat betapa terkejutnya aku wanita hamil itu adalah Sandra sahabatku sendiri, astaghfirullah tak terasa pipiku basah oleh air mata. "Berapa lama kalian berhubungan?'' tanyaku berusaha tenang. Semakin dalam mas Adi menundukkan kepala. "Dua tahun," jawab Sandra. "Sandra!" Bentak mas Adi. "Oh begitukah cara sahabat, menghianati sahabatnya sendiri?" "Aku tak peduli, nyatanya aku yang menang. Aku mengandung anaknya dan kamu hanya wanita mandul." Hatiku sakit luar biasa saat ini. Benar-benar sakit. "Mas memilihku atau aku gugurkan janin ini!" ancam Sandra pada mas Adi. Mas Adi terdiam. Genangan air di mataku terus tumpah saat kulihat perut Sandra itu sedikit buncit. Dengan perasaan hancur, kubenamkan wajah pada kedua lengan menutupi wajah. Seketika aku tak bisa bergerak. Ya Allah, kuharap ini hanya mimpi. Kenapa mas Adi sampai hati melakukan semua itu di belakangku? Apalagi dia sahabatku. "Sayang, Khalisa dengar, ini tak seperti yang kau bayangkan." Aku mengusap wajah, lalu memejamkan mata untuk menenangkan emosiku. "Sayang." Aku mundur dua langkah. Mas Adi tidak mendongak untuk menatapku. Pandangan masih ia biarkan berlabuh pada lantai. Aku segera tahu bahwa ia tidak main-main. Suamiku tidak mungkin bercanda seketerlaluan kali ini. "Sayang aku bisa jelaskan." "Tapi, mas. Bayi ini butuh seorang ayah." Sandra menarik tangan mas Adi. Duniaku kini seolah telah hancur. Setelah merasa lebih baik, aku menatap keduanya. Beberapa kali kuhela napas yang saat ini pikiran begitu kalut. Bayangan wajah wanita itu kembali membuat pandanganku memburam. Kuusap kasar sudut mata sebelum air mataku kembali meluncur di pipi. Berkali-kali kutekan d**a agar sakitnya berkurang, di depan sana masih aku lihat mas Adi menyuruh Sandra pergi. Aku segera berlari masuk kedalam dan membuang semua makanan serata kue yang berada di atas meja berhamburan ke lantai berlari ke kamar lalu mengunci pintu setelah membantingnya dan meluapkan rasa yang teramat sakit di d**a ini. Dengan tubuh lunglai aku memegang lutut dengan menenggelamkan kepalaku disana. Aku mengempas tubuh di atas ranjang. Lalu meraung sekuat-kuatnya, membenamkan wajahku dan meremas seprei. Berusaha melepaskan semua kesakitan yang mengimpit dadaku. "Sayang, Khalisa!" teriak mas Adi. Aku terdiam. "Sayang." Saat ini hatiku terasa kian perih. Senyum yang dulu ia beri untukku, kini telah ia berikan untuk wanita lain. Pantas hari ini ia tampak tak acuh dan seolah tak peduli padaku juga hari aniversary kami. Ternyata ini alasannya, ia mencari kesenangan dari wanita lain. Tega kamu, mas! "Mari kita bicara, Khalisa." Aku hanya diam tak menuruti permintaannya di luar pintu yang hampir satu jam. *** Suara petir menyambar membuatku terbangun dengan kepala begitu berat, mungkin karena terlalu lama menangis hingga tanpa sadar aku tertidur. Aku bangkit mengambil air lalu meminumnya, ternyata kejadian tadi terus menghantuiku, bagaimana tidak kami yang selalu mesra, bucin kini suamiku itu berhianat. Aku tampak begitu kacau. Hidungku tersumbat, mata sembap, juga rambut yang tampak acak-acakan. Kukirik jam didinding sudah menunjukkan pukul lima pagi aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat aku keluar dari kamar mandi. Perasaanku sedikit lebih tenang sekarang. Meski saat kembali mengingat pengkhianatannya, air mata terasa kembali menggenang. Aku keluar kamar, aku lihat mas Adi tertidur di sofa, setelah tiga tahun baru kali ini aku marah. Aku menatap laki-laki di hadapanku dengan ekspresi datar. Haruskah aku menanyakan kejelasannya? Mungkin bagi laki-laki ini, saat ia bermesraan dengan para wanita hal biasa tapi tidak denganku. Dengan alasan apa pun aku benci lelaki selingkuh. Di luar sana mungkin ada seorang istri yang bisa memaafkan dan legowo menerimanya setelah ia selingkuh tapi itu tidak bagiku. Penghianatnya tak akan pernah aku lupakan. Dan, sekarang aku punya hak untuk marah. Karena pernikahan kami telah ternodai. "Sayang!" Suara yang selalu aku rindu kini berubah menjadi menjij*kkan. "Jadi dia kekasihmu selama ini kamu simpan, kamu menghianatiku?" tanyaku dengan rahang mengeras, berusaha meredam getar pada suaraku. Mas Adi menunduk. "Jadi dia alasan sikap kamu menjauh berubah hari ini? Dan, kau menginginkan anak darinya?" Pria itu sepertinya tak menghiraukan pertanyaanku. "Kamu mencintainya? atau hanya menginginkan anak darinya?" tanyaku penasaran. "Maaf, Khalisa." Aku tertawa. "Kamu bener-bener selingkuh kamu menghianatiku, mas?" Aku tahu dia menahan emosinya. "Jawab aku, mas?" Perlahan setetes air mengalir lagi dari sudut mata, lalu semakin deras bersamaan dengan setiap tarikan napas. "Oke apa maumu?Apa selama ini aku tak berarti bagimu?'' "Tidak, Khalisa aku khilaf. Aku masih mencintaimu." Kupejamkan mata perlahan seiring lelehan hangat yang terasa dari sudut mataku. "Kamu tahu perasaanku saat ini? hancur?" Kami saling diam. Aku dengan rasa sakitku, dan ia … entah apa yang kini ada dalam pikirannya. "Janin itu darah dagingku, Khalisa." Aku mengeraskan rahang, berusaha meredakan gemuruh hebat di dadaku. "Terus?" Aku menatapnya. "Jadi benar kamu mendua karena inginkan anak darinya?" tanyaku dengan sesegukan. "Ya." Astaghfirullah apa aku tak salah dengar, Apa memang mas Adi sudah benar-benar tak waras? Apa ia tak lagi punya hati? Raut wajahnya pun saat ini tak sedikit pun merasa bersalah. "Aku akan menikahinya, jika kamu setuju. Jika tidak ...." Dia berhenti bicara aku hanya diam menunggu lanjutan perkataannya tadi. "Jika tidak, mari kita pisah. Jika tak inginkan pisah dariku, biasakan kamu berbagi dengannya mulai saat ini." Aku menggelengkan kepala. Menahan sakit yang membuat d**a ini terasa kian sesak. Aku mengusap kasar air mata yang lagi-lagi bergulir di pipi, menatap lelaki yang sekarang benar-benar breng**k. Aku benci harus lelaki itu lelaki yang egois. Berbagi suami? Apa dia sudah tak waras? Kedua tanganku terkepal erat. "Oke." Kata-kata itu langsung saja keluar dari mulutku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook