"Apa?"
"Apa llagi, bukankah aku mandul? juga ini gugatanmu?"
"Sekali saja dengarkan penjelasanku, Khalisa."
Aku menarik napas. "Apa itu perlu, mas. Semua sudah selesai kan?"
"Kenapa kau keras kepala, Khalisa?"
Aku mendengar sebuah suara lembut darinya membuat jantungku kembali berpacu tak terkendali.
"Aku benci kamu."
"Oke. Perlu kau tahu aku masih sangat membutuhkanmu." Tubuhnya yang menjulang tinggi masih di depanku.
Masih bisa aku lihat sorot kekecewaan di matanya. Tenggorokanku terasa tercekat. Ingin rasanya menimpali, tapi tidak tahu kata apa yang cocok untuk aku ucapkan saat ini. Entah rasa prihatin lebih dulu melihat keadaan. Entah ungkapan caci maki apa yang cocok untuknya.
"Pergilah aku muak denganmu. Urusi wanita hamil itu, bukankah ia lebih membutuhkanmu."
Terlihat ia mengepalkan kedua tangannya, mungkin mencoba meredakan gejolak kekecewaan di hatinya.
"Maaf."
Untuk kali pertama. Ini diluar kebiasaannya. Biasanya ia yang selalu akan melerai dan memelukku erat saat aku tak terkontrol. Ia hanya menatapku, dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Kemudian bola matanya berputar liar. Apakah ia sedang menyusun kalimat yang pantas? Aku jadi tak sabar.
Netraku kini mulai berkabut. "Pergilah. Aku hanya ingin sendiri."
"Kapan pun aku masih ada untukmu, Khalisa."
"Omong kosong. Pergilah.
Aku akhirnya yang melangkah pergi menjauh meninggalkannya yang masih membeku.
***
Selepas maghrib aku sampai di rumah, setelah memarkir motor di halaman rumah. Aku masuk ke kamar, ingin segera mandi lalu beristirahat, setelah seharian beraktivitas membuat nyeri di sekujur badan. Selesai mandi, aku Salat Magrib lalu turun ke ruang makan, bermaksud untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Tadi aku sempat membeli nasi juga lauk. Aku makan selesai mengambil gelas meminum s**u. Ternyata realita tidak seburuk yang aku bayangkan. Aku masih bisa hidup layak, aku mungkin yang terlalu bodoh. Mengira jika laki-laki itu sosok setia dan santun budi, nyatanya ah lelaki brengs**k.
Memulai hidup baru dengan pindah rumah mungkin jalan satu-satunya karena di rumah ini banyak sekali kenangan manis namun sangat buruk untuk dikenang. Tak ada pegangan yang bisa untuk aku bersandar. Namun, ketika matahari kembali bersinar terang, aku akan mulai kembali menjalani hidup dengan segala pahit getirnya kehidupan. Aku mungkin harus menebalkan telinga dari gunjingan para terangga, jika aku akan menjadi janda muda. Aku harus bisa mengeraskan hati untuk tak terhasut. Sehabis hujan akan ada pelangi, begitu kata pepatah. Seperti halnya saat ini, gosip tentang aku yang janda. Lambat laun berita bahwa gosipnya.
Aku membuka mata, lalu menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh dengan sempurna. Dan mulai berangkat bekerja, tak lupa memasang untuk menjual rumahnya di sosial media. Tak lama suara tamu terdengar dari luar ternyata Elia yang datang.
"Morning."
"Bawa apa tuh. Kayaknya enak!"
Elia tersenyum ramah. "Nasi pecel, dua. Satu untukku satu untukmu."
"Aromanya saja sudah menggoda, El."
Elia terlihat tersenyum lega. "Makanya yuk sarapan."
"Iya."
"Mumpung kita libur, jalan yuk!" ajaknya.
Aku tersenyum. "Ya kenapa tidak."
Terlihat sekilas wajah Elia berubah tertawa.
"Nah begitu, dong."
Aku hanya tersenyum seraya menikmati sarapan pagi ini. Entah dalam hatiku seperti apa namun yang jelas dari luar aku harus terlihat tampak bahagia. Jangan ditanya tentang luka dan air mata, rasanya saat ini aku sudah hapal di luar kepala.
"El, kita jadi mau nonton film romance apa horor lu?"
Elia tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. Mulutnya asyik mengunyah popcorn.
Tapi bukan Elia namanya kalau tidak bisa meyakinkan. Berita biasa bisa jadi heboh kalau sama dia rasanya tak pernah sedih.
"Misteri saja ya. Wah udah pasti bakal keren tuh film."
"Ya deh ikut saja."
"Jadi gimana?" Elia menyenggolku dengan lengannya, meminta kepastian.
Sebenarnya aku juga sangat ingin menonton film romantis, melihat akting yang tentu aku tidak ingin melewatkannya. Tapi, malas.
"Horor saja deh."
"Ya udah, aku beli karcisnya deh."
"Hu um," sahutku.
Tak lama Elia menepuk bahuku sambil tersenyum dan mengedipkan matanya. Dan sudah membawa dua karcis film horor.
"Oh iya, jangan cakar aku nanti kalau takut."
Aku tersenyum. "Nggak janji sih."
"Huuu ...."
Aku hanya mengikutinya sambil memakan popcorn.
Benar-benar keren ide Elia, dan benar-benar tidak menyesal ikut dengannya. Beban di dadaku sedikit berkurang karena aku teriak memukul lengan Elia dengan keras beberapa kali karena ketakutan. Hukuman apapun akan aku terima dengan lapang d**a karena pukulanku di lengan Elia. Karena semua terbayar dengan melihat film horor di layar lebar.
Selesai nonton kami pergi ke arah restoran.
"Aku pengen makan soto lamongan," pinta Elia.
"Oke. Yuk."
Tiga puluh meter kami sampai di restoran soto lamongan, kami masuk dan duduk di pojokan. Kami lalu makan bersama, aku tahu jika Elia suka makanan yang berkuah.
Ketika kami selesai makan Elia memberitahuku untuk menoleh ke arah kiri dimana aku menoleh bersitatap dengan mas Adi dan Sandra yang tengah berjalan di koridor restoran sambil menggamit pinggang seorang wanita dengan perut buncit. Aku mengalihkan pandangan pada Elia. Ternyata sesakit ini melihat mereka akan memiliki seorang anak.
***
Aku berkunjung ke rumah Ibu mertuaku, setelah jalan- jalan dengan Elia sepertinya aku harus ekstra hati-hati, meskipun aku tahu nantinya pasti akan dihina habis-habisan karena Ibu tahu ada perempuan hamil dari rahim Sandra benih dari putranya, namun aku tak takut datang baik-baik pergi juga harus bicara baik-baik. Kuberkan parsel buah untuk Ibu mertuaku itu.
"Ceritalah, Khalisa ada apa. Tumben kamu ke sini? Mana Adi?" tanyanya penuh semangat.
"Emm sendiri saja, Bu."
Ibu berjalan membawakanku teh hangat, lalu menarik kursinya ke depanku. Kami saling berhadapan sekarang.
"Khalisa ada apa?" tanya Ibu menarik napas dalam.
Aku masih diam mengumpulkan keberanian untuk bicara. Ia tak perlu bicara untuk memberitahu bahwa beban yang sangat berat kini bergelayut di hatinya. Saat ini tangan ku terasa dingin dan kaku.
"Kami akan berpisah. Mas Adi ingin bercerai. Bu"
Wanita paruh baya itu menunduk dalam-dalam. Badai bergelombang seperti baru saja menerjang jantungnya terlihat Ibu begitu panik. "Pisah bagaimana?" tanyanya agak syok.
Rasanya saat ini aku seperti tertancap pisau tepat mengenai jantungku, sakit. Tapi mungkin ini jauh lebih perih.
"Bercanda kamu nggak lucu, Khalisa."
Hening
"Khalisa."
"Mas Adi selingkuh, Bu."
Ibu yang bisanya akan membela putranya kini ia terkejut dan diam.
"Wanita itu hamil. Dia mengandung bayi mas Adi."
"Ha-hamil!" Astaghfirullah, mereka telah berzina?"
Aku menggelengkan kepala. "Aku tak tahu, Bu."
"Bu, ibu baik-baik saja?" tanyaku setelah Ibu melamun cukup lama.
Ada kabut yang mulai berputar dalam benak wanita itu. Telinganya berdengung hebat. Kepalanya mendadak bising. Ia gemetaran saat mengambil gelas lalu meneguk teh berharap agar gugupnya bisa berkurang.
"Hamil, barusan Khalisa mengatakan bahwa Adi telah menghamili perempuan lain. Bagaimana mungkin?" bisik wanita paruh baya itu.
"Mungkin, Bu. Buktinya hamil kan!"
"Khalisa, please! Jangan bercerai."
Aku terkejut bagaimana bisa ibu mertuaku berubah menjadi baik? Biasanya ia akan mencaci maki aku. Pun wajahnya berubah murung saat aku beri tahu jika putranya menghamili wanita. Ada apa dengannya?
"Aku tak akan berbagi suami, Bu. Lagian mas Adi sudah mau jadi bapak. Dan sebaiknya aku pergi saja."
"Lenyapkan perasaan bencimu itu, Lagian seandainya kamu menikah lagi juga tak akan punya anak, Khalisa."
"Maaf tapi, mas Adi sudah menggugatku, Bu."
Ini menyakitkan, aku bisa menerimanya sungguh. Hening yang sesak. Aku merasa terseret oleh segulung ombak raksasa, dan dalam sekejap melebur bersama buih lautan. Duniaku sempurna runtuh saat ini.
"Apa-apaan, Adi. Ibu gak setuju Khalisa."
Aneh harusnya Ibu suka kan, karena mas Adi bisa menghamili seorang wanita? Tapi ini?