Adi's pov
Beberapa hari terakhir aku diserang cemas. Pikiranku seolah-olah tengah tergiring pada rasa ingin memiliki Sandra yang kuat juga takut kehilangan Khalisa yang hebat. Aku pernah merasakan ini sebelumnya. Akan tetapi, kali ini rasanya jauh lebih mencekam.
"Kau baik-baik saja?" Sandra, bertanya tanpa mampu menyembunyikan kekhawatirannya.
Aku mengangguk. Tentu saja aku baik-baik saja. Tak mungkin kuceritakan kegelisahanku. Cukup kutanggung sendiri dan akan kuberi tahu Sandra jika aku sangat takut jika harus kehilangan Khalisa.
"Apa ada masalah?" tanya Sandra lagi.
Aku mengulum senyum, lalu menggeleng sebagai jawaban.
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan?" Sandra kini menangkup wajahku.
Aku mengecup salah satu telapak tangannya, lalu mendaratkan satu cubitan pelan di pipinya.
"Aku baik-baik saja." Ah, rasanya suaraku bergetar.
Jujur, aku tak sanggup menahan ini sendirian, tetapi tak mungkin juga memberi Sandra harapan.
Usai Sandra menyiapkan sarapan untukku, aku bergegas ke kamar mandi.
"Mandilah dulu, mas, biar segar," ucapnya.
"Hmm."
Mandi hanya alasan. Kegelisahankuu harus kutuntaskan sesegera mungkin.
Aku menutup mata mengguyur tubuh dengan shower agar beban di dadaku bisa berkurang. Apakah aku harus benar-benar kehilangan Khalisa? Sementara aku menginginkan anak seorang anak darah dagingku, ah bisa gil* aku rasanya.
Aku keluar kamar mandi, lalu beranjak ke meja makan menemui Sandra yang sudah menungguku untuk sarapan.
"Sayang, kenapa?" tanya Sandra segera merengkuhku dalam dekapan.
"Aku baik, Sandra. Yuk kita makan."
Suaraku bergetar dan tersendat-sendat.
"Besok anterin ke dokter ya, Mas. Waktunya periksa soalnya."
Aku sedikit tersenyum. "Ya. Kalau boleh izin sama atasan."
"Hu um."
Sandra melerai pelukan, lalu kami duduk menikmati sarapan bersama.
***
Setiba di rumah Ibu, langsung kubawa martabak special hangat kesukaan Ibu.
Ibu jarang mengajakku bicara sejak setahun lalu entah mungkin ia kecewa karena Khalisa yang tak juga mengandung, atau apa tapi sekalinya ngomong dengan aku atau pun Khalisa pasti terasa sinis didengarnya.
"Bu."
Ibu hanya melihatku sekilas dengan wajah tak biasa.
"Merasa masih punya, Ibu?" tanya Ibu ketus.
Lagi, kata-katanya selalu lolos menyakiti hatiku dan Khalisa.
"Bukan begitu, bu. Kebetulan, aku banyak lemburan makanya nggak sempat ke sini." Kilahku.
"Bilang saja kalau nggak rindu Ibu. Jadi, sengaja dilama-lamain ke sininya."
"Astaghfirullah, bu. Ibu ngomong apa!"
Geram, tapi berusaha kutahan. Aku tak ingin ada perselisihan antara aku dan Ibu.
"Mana Khalisa kenapa sendirian?" tanya Ibu membuatku seketika menunduk.
Aku terdiam.
"Kenapa kamu selingkuh."
"Bu."
"Apapun alasanmu, tetap tidak dibenarkan, jika tak mengajak istri. Ada masalah apa kamu dan Khalisa?"
"Maaf, bu. Aku dan Khalisa ... kami telah berpisah."
Ibu sepertinya syok ia menatapku dengan tak suka. Aku hanya bisa menundukkan kepala.
"Benar kau selingkuh dan berbuat maksiat? Apa Ibu pernah mengajarkanmu menjadi laki-laki kurang ajar, tidak punya tata krama, kamu laki-laki breng**k, hah."
Aku terdiam sesaat. "Bu, tapi kekasihku hamil, Bu. Ini semua berkat keinginan ibu untuk mendapatkan seorang cucu."
"Cucu?"
"Ya, Sandra mengandung anakku, bu."
Terlihat Ibu menangis entah apa yang ada dalam pikiran beliau.
Ingatan wanita paruh baya itu terlempar pada kejadian satu tahun silam. Dimana ia masih ingat selembar kertas yang telah di berikan dokter Deva bahwa hasilnya telah keluar. Saat itu Khalisa sedang ke toilet dan Adi bertugas ke luar kota makanya Ibunya yang menemani Khalisa ke Dokter untuk mengetahui hasil tes Khalisa dan Adi.
"Bagaimana, dokter Deva."
Dokter Deva adalah keponakannya, makanya bu Susi lebih percaya padanya.
"Tante Susi hasil testnya atas nama Khalisa Mutia kandungannya sehat aman dan tidak ada masalah, tante. Justru untuk Aditya Marwan putra Anda."
"Mak-maksudnya, Dok?" tanya wanita paruh bata itu dengan tangan gemetar.
"Jadi Adi yang bermasalah, Tante. Dia mandul dan tidak akan mungkin bisa memiliki keturunan."
"A-apa?"
Wajah wanita itu berubah sendu. Selembar kertas hasil pemeriksaan laboratorium dilihat dengan tangan gemetar. Seorang Ibu tidak akan menghancurkan mimpi anaknya, jika mengetahui hal ini nanti. Tidak terbayangkan olehnya betapa kecewa dan hancurnya putra kesayangan itu.
"Bisakah, Dokter melakukan sesuatu untukku?"
"Apa itu, tante?"
"Tolong palsukan data ini aku akan membayar mahal untuk ini, dok?"
"Maaf, tante itu tak bisa aku lakukan. Ini menyalahi aturan rumah sakit."
"Dok, tolonglah. Jangan hancurkan impian putraku dia juga saudaramu lo. Adi pasti akan sangat terpukul jika mengetahui bahwa dirinyalah penyebab mereka tidak bisa memiliki anak sampai saat ini."
"Tapi itu menyalahi aturan, tante. Kami tidak bisa melakukannya."
Hening
"Dok biarkan yang asli dokter yang simpan untuk laporan di rumah sakit."
Dokter Deva menggeleng. "Maksud, tante?"
"Buatkan salinan yang palsu hanya untuk dilihat, Adi saja. Kumohon"
Dokter Deva terdiam.
"Dokter?"
"Baiklah. Aku akan membuat salinan untuk, Tante. Tante janji ini hanya perlihatkan pada Adi saja."
"Baik, Dok. Hanya Adi dan Khalisa yang tahu soal ini. Kita juga saudara kan. Aku siap membayar, demi putraku."
Tidak menunggu lama, hasil tes bohongan itu segera wanita itu dapatkan. Itu kenapa wanita itu begitu menekan Khalisa agar Khalisa tak meninggalkan Adi. Malahan Adi yang meninggalkan Khalisa. Jika Adi mandul lalu anak siapa dalam rahim wanita itu?
"Bu!" Aku memanggil Ibu yang sedang melamun.
"Suatu saat nanti kau akan menyesal meninggalkan, Khalisa," kata-kata Ibu begitu menusuk tepat di jantungku.
Anehnya, selama ini, Ibu bersikap kurang bersahabat pada Khalisa, tapi sekarang ada apa dengan Ibu? Kenapa Ibu jadi berubah membela Khalisa yang nyata-nyata tak bisa hamil. Bukankah seharusnya beliau senang, karena dengan Sandra hamil, itu kan di impikannya selama ini?
***
Aku tidur dengan menghadap ke dinding, sehingga Sandra tak melihat karena aku pura-pura masih tertidur.
"Kamu nggak lagi sakit, kan Sayang?" tanya Sandra seraya memegang keningku.
Aku tetap tak merespon. Kepalaku rasanya ingin meledak dengan hinaan Ibuku tadi.
Tiba-tiba, Sandra merubah posisi tubuhku, ditariknya dengan pelan punggungku yang miring, agar terlentang, menghadapnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
Aku bergeming.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Apa kata Ibu?"
Sandra terus menggencarku dengan pertanyaan. Namun, aku tetap membisu.
"Sayang!"
Aku tetap membisu.
"Apa ini tentang Ibu, Sayang?"
"Tidak ada apa-apa aku hanya lelah saja."
"O, oke."
Aku terdiam, kali ini aku benar-benar lagi suntuk.
"Maafin aku karena tak bisa memahami masalahmu, Sayang. Aku harap, kamu mau bercerita." Dikecupnya keningku. Lagi, aku tak merespon.
"Mas nggak mau makan malam?"
"Aku mau tidur saja."
"Baiklah."
***
Aku mengantarkan Sandra ke rumah sakit untuk mengecek kendungannya, lama mengantre akhirnya giliran Sandra masuk, selesai aku mengantarkan Sandra ke kantin dan aku kembali untuk menebus obat untuk Sandra di apotek. Aku mendengus kesal, diantara banyak rumah sakit di negri ini, mengapa harus bertemu dia di rumah sakit ini. Semakin tak aku tersiksa, saat Khalisa masuk bersama beberapa wanita teman-temannya, dengan senyum yang mengembang.
Khalisa makin cantik saja.
Pertanyaan bodoh, ini rumah sakit tempat ia bekerja kan. Aku menertawakan diri sendiri. Kecapekan raga dan batin membuatku, mudah berprasangka buruk. Ku akui dibanding Sandra, Khalisa memang cantik. Wajah dan postur tubuh tak banyak berubah. Usianya lima tahun lebih muda dariku. Berusaha menghindar saat Khalisa makin mendekat agar tidak ada basa basi dengannya.
Terlambat karena Khalisa sudah dekat denganku. Dia tertegun melihatku. Saat kaki melangkah menuju apotek rumah sakit. Rupanya dia juga menatapku.
Senyumnya yang tadinya ceria saat bersama teman-temannya berubah sinis saat menatapku. Aku tak bisa menghindar saat, kami berpapasan.
"Hai, Khalisa."
Khalisa berhenti saat aku panggil.
"Bahagia sekali." Sindirku
"Tentu saja bahagia, buat apa hidup kalau nggak dinikmati," balasnya.
Dia tersenyum mengejek. Peduli amat, yang penting aku akan punya anak dan itu darah dagingku sendiri.
"Aku ke sini mengantarkan, Sandra memeriksakan kandungan."
"Aku tidak bertanya dan tidak peduli."
Aku tidak terima kata-kata Khalisa yang menyakitkan.
"Maaf, Khalisa."
Padahal di hatiku yang terdalam aku ingin sekali meraih kepala perempuan lalu menciumnya.
"Permisi."
Hatiku bagai tertusuk benda tajam tepat mengenai jantung. Mendengar ucapannya yang tak lagi menganggapku dan berlalu pergi begitu saja. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang perlahan menjauh.
"Mas!" Panggil Sandra.
Pasti aku pastikan akulah yang paling terluka. "Eh iya."
"Pulang yuk."
"Hmm."
Dan kupastikan akulah laki-laki yang paling menyesal karena ulahku sendiri mencampakkan Khalisa.