Tinggal Kenangan

1470 Kata
Khalisa's pov "Bagaimana, pak?" tanyaku saat pembeli rumah selesai memeriksa. "Saya suka dengan rumahnya, ok deal ya." "Oh, ya pak," jawabku singkat. Akhirnya lelaki itu membeli rumahku lengkap dengan perabotannya, dan uang juga sudah masuk dalam rekeningku. Alhamdulilah akhirnya aku bisa keluar dari bayang-bayang mas Adi. Jika lama-lama di rumah ini aku bisa jadi gak waras beneran karena di rumah ini begitu banyak kenenagan manis kami. "Baik saya permisi, mbak." "Ini kuncinya dan saya izin untuk mengambil baju-baju saya saja, pak. Nanti kuncinya saya titipkan sama pak RT saja." "Baik, kebetulan minggu depan saya baru mau pindahan ke sini. Soalnya kontrakan saya juga habis hari ini, dan sebelum itu mbak Khalisa boleh menempati rumah ini." Aku tersenyum. "Baiklah." Setelah, mas-mas itu pergi aku memasukkan baju ke dalam tas besar. Dibantu oleh Elia yang baru saja datang. "Kok kayak nggak seneng gitu? Berat ya ninggalin rumah ini?'' tanyanya "Hu um." "Jangan larut dalam kesedihan, Lisa. Ingat masa depan kamu masih panjang." "Iya," ucapku setengah hati, lalu kembali melanjutkan melipat baju dan memasukkannya dalam tas. "Terus kamu mau pindah ke mana?" Elia membantuku melipat baju. "Gak tahu." "Ke rumah aku mau?" Aku memejamkan mata sejenak sambil menghirup napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. "Sebenarnya aku sudah dapat perumahan yang dekat rumah sakit malah." Sebisa mungkin aku menahan suaraku agar tidak terdengar sedih oleh Elia. "Bagus. Terus?" Aku tersenyum. "Aku masih malas bersihinnya." "Ok aku bantu dan aku akan carikan dua orang untuk membersihkannya, bagaimana?'' "Aku mengangguk, "hmmm, boleh juga." "Ok, aku telepon sekarang orangnya." "Hmm." Aku terus mengemasi baju dan alat memasak semuanya telah selesai, Elia menelepon temannya yang punya mobil pickup lalu mengangkut semua barangku ke dalam mobil itu, sementara mobil berlalu pergi aku akan menyusul mereka. Sementara Elia ikut dengan mobil itu. "Pak, terima kasih sudah membantu banyak, ini saya nitip kuncinya dan ini ada sedikit uang untuk, pak RT. Maaf jika saya di sini suka ngerepotin pak RT." "Aduh, mbak. Apalagi saya juga ngak ada kerjaan, juga baik banget saya merasa kehilangan. Semoga mbak Khalisa bahagia terus." "Aamiin." *** Aku masuk ke dalam rumah ini lagi, rumah yang banyak kenangan manis. Aku duduk memegangi lutut dan menenggelamkan kepalaku di sana, menangis sejadi-jadinya bagaimana bisa lelaki yang aku dukung karirnya dari nol dan kini berulah, seketika menghapus rasa kecewaku. Sebuah kecupan hangat membuatku tersadar dari alam mimpi. Mataku mengerjap, pandangan pertama tertuju pada sosok tampan laki-laki di hadapanku. "Pagi, Khalisa sayang. Nyenyak tidurnya?" Suara lembut serta senyuman manis mas Adi, tiba-tiba dia sudah duduk di sampingku yang masih berbaring. "Minumlah. Teh spesial untuk orang yang istimewa." Disodorkannya secangkir teh hangat itu padaku. Aku berusaha bangun, lalu duduk di samping mas Adi. Kuhidup aromanya sebelum menyesap habis, tanpa sisa. "Makasih, mas. Jam berapa kamu pulang?" Mas Adi hanya tersenyum, "baru pulang sayang." "Semalam ngak pulang." "Hmm. Lembur aku sayang, aku telepon ponsel kamu ngak aktif." "Iya aku charger sih." Beberapa kali handphone mas Adi berdering. Tanpa melihat ke layar, aku curiga siapa yang menelepon. Kembali, hatiku terasa ditusuk ribuan jarum sat itu. Mas Adi bangkit, menjauh dariku untuk menerima panggilan. Kali ini, aku benar-benar merasa tak tahan. Aku ikut bangkit, lalu menghampirinya. "Mas." Aku memegang bahunya. Dia berbalik, lalu mematikan ponselnya. Aku sedikit curiga kenapa dia langsung mematikan ponselnya? Jantungku berdegup kencang saat mengatakannya. Sekuat tenaga aku menahan tangis, hingga suaraku bergetar. Mungkinkah penghianatannya di lakukan saat itu? aku kembali bangkit dan mengusap air mataku yang jatuh. *** Di ruang kerja, aku memeriksa ponsel. Alisku berkerut mendapati pesan beruntun yang dikirim mama semalam. "Kenapa lama tak pulang, Khalisa?" "Pulanglah, mama rindu." Sebelum aku membalas pesan itu aku dipanggil untuk menangani pasien yang baru saja datang, terpaksa aku letakkan ponsel ke dalam tas lagi. Selesai menangani pasien dokter menyuruhku masuk ke ruangannya. "Masuk," jawabnya setelah pintunya aku ketuk. "Ada apa, dokter Alan." "Kamu lelah sekali ada apa?" "Aku baik-baik saja dokter." "Kamu boleh cuti selama lima hari, selama ini kamu jarang ambil cuti." Aku hanya tersenyum. "Baik makasih, dokter." "Hmm." Bisa aku dengar teriakan Elia saat aku keluar dari ruangan dokter Alan. Dia menghampiriku dan tersenyum lebar. "Ada apa?" "Aku dapat cuti." Dia nyengir. "Aku nggak?" "Gantian kali. "Mulai besok libur." "Hemm." "Iya, makanya besok aku mau ke rumah orang tuaku." "Oke selamat berlibur semoga kamu bisa lebih baik lagi." Aku menggigit bibir, cubitan rasa bersalah menghajar hati ini. Konsentrasiku buyar total. Bagaimana cara menjelaskan pada mama jika mas Adi selingkuh? Aku sudah ketakutan, bagaimana jika mama dan Papa marah jika tahu tentang ini. Aku mengurut pelipis dengan jari telunjuk. Mencoba mengatur mood sendiri sebisaku. Sungguh situasi di rumah sakit saat ini satu-satunya membuat aku bisa terhibur. Aku nyaris nggak ada mood buat makan, atau ngemil, atau melakukan apa pun. Mencoba berjalan ke arah parkir namun ada suara yang memanggilku seketika membuatku terhenti "Khalisa." Aku berbalik menatapnya intens mengangkat wajah pada suara perempuan di hadapan. Kukenali dia sebagai sahabat yang aku sayangi dulu. "Ini aku bawakan, gado-gado kesukaanmu." Aku mengerutkan kening. Menatap wanita yang telah telah merebut suamiku itu. "Aku dan mas Adi lagi memeriksakan kandungan. Eh ketemu kamu." Dia menyodorkan gado-gado nya. "Oooh." Aku terdiam tak menerima pemberiannya. Tepat di sebelah Sandra ada mas Adi. Kulirik lelaki di sebelah yang lengannya menegang di pinggang Sandra membuatku muak. "Maaf. Aku sekarang tak suka itu, buat kamu saja." Tolakku. "Nggak suka setahu aku kamu suka deh." Aku tersenyum sinis. "Tidak lagi." "Kamu marah padaku? Karena aku hamil anak suamimu?'' Aku menatapnya tanpa ragu. "Tidak, aku bahkan tak yakin itu anak mantan suamiku." "Kau." Sandra mau mendorongku namun, mas Adi menenangkannya. "Jaga bicaramu, Khalisa." Pekik Mas Adi. "Kenapa? Wajar kan apa kataku, seseorang jika mau berbuat zina tidak menutup kemungkinan berzina juga sama laki-laki lain." Sindirku membuat Sandra syok. Mas Adi memenangkan dan memeluknya. "Sayang, ada apa? Bumil itu moodnya memang sering berubah-ubah. Jadi, harus extra sabar ya." Hah, lucu sekali Mas Adi menenangkan pelakor itu, muak banget ngelihatnya. "Aku kesal, Mas!" Adu Sandra. "Kesal kenapa, hhmm?" tanyanya lembut di depanku. "Aku kesal karena Khalisa mengejekku," terangnya. Hedeehh. Sabar, sabar dasar buaya betina. "Khalisa." Mas Adi melotot membentakku. "Apa hah. Perempuan yang baik itu perempuan yang tak akan merebut suami milik sahabatnya sendiri." Sindirku membuat mereka terdiam tak menjawab perkataanku. "Kau." "Kenapa aku hah? Benar kan?" Tanpa sadar aku meninggikan suaraku di rumah sakit, aku benar-benar emosi, namun sesaat kurasakan rangkulan tangan di pundakku. "Ayo, Khalisa! Kita pulang sekarang." Dokter Alan tiba-tiba merangkulku membuatku sangat terkejut. Tanpa sadar, aku menatap dokter Alan. Lebih karena khawatir, ia tahu dan menyelamatkan aku dari manusia penghi**at itu. Dokter Alan berdehem lalu terbatuk kecil tepat saat aku dihina Sandra dan Mas Adi, Dokter Alan lewat dan menolong aku di hadapan mereka berdua. Tangan dokter Alan terus menggandengku dan kami pergi meninggalkan Sandra dan Mas Adi yang masih mematung menatap kami. Hingga kami tiba ke arah parkiran. "Dokter!" Aku berusaha menarik genggamnya. Semua orang menatap kami dalam aneh memang dokter sekeren dan secuek dokter Alan mengandengku kan jadi aneh. "Sengaja cari masalah?" Aku terdiam. "Hebat banget tuh pelakor, sampe kamu di hina begitu diam saja." "Dokter tahu dari mana?" "Semua gosip juga sudah tersebar di seantero rumah sakit ini, Khalisa. Masuklah aku antar kamu pulang." "Tapi motorku, dok!" "Mau dilihat terus sama sibang**t itu." Jelasnya. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam mobil. Dia menyetir tanpa suara. Amarah masih mengelayut, aku paham. Karena dia dokter yang paling dekat dan baik menurutku. "Ke mana, kita?" "Pulang saja deh dok." Aku terkikik diam-diam. Dia mengarahkan mobil ke sebuah restoran cepat saji. Dia menggigit bibir, melirikku sambil tersenyum tipis. "Yuk makan dulu." "Enggak usah, dok." Dia tertawa. "Ya sudah." Dia segera menginjak pedal gas. Aku menatapnya dengan perasaan suka. Karena telah menyelamatkan aku dari serangan Sandra dan Mas Adi. Dokter Alan menginjak pedal gas, mengantarku langsung ke rumah baruku. "Pulang istirahat, ya." "Siap, dokter!" "Ingat makan yang banyak, kamu terlihat kurus." "Hu um." *** Beberapa hari belakangan aku sedih, namaku selalu menjadi trending topik di rumah sakit, kabar tentang Mas Adi yang menghamili Sandra mencuat di sana. Tak sedikit yang tertawa bahagia diatas kesedihanku, tapi aku yakin masih ada beberapa orang-orang rumah sakit yang mendukungku. Aku tertawa sendiri, aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan secara materi. Apapun yang kuinginkan akan dengan mudah kudapatkan karenanya, namun ada satu yang tak pernah dengan mudah kudapatkan. Restu aku menikah dengan Mas Adi. Ayah menentangnya keras saat itu. Aku membela Mas Adi mati-matiam namun kenyataannya Mas Adi malah menghianati aku. Perhatian dan kasih sayang adalah sesuatu yang tak pernah mudah kudapatkan dalam hidupku, sekarang aku malu mau bertemu mereka apa yang harus aku katakan. Apa lagi Mama sudah mengirimkan chat agar aku bisa pulang secepatnya. Mengapa aku begitu senang pada Mas Adi? Ya karena dialah satu-satunya orang yang paling mencintai aku. Satu kalipun dia tak pernah menyakit, bahkan dia selalu setia membantuku saat aku butuh bantuannya. Tertawa bersama, saling bertukar cerita, dan bisa diterima ditengah-tengah kalian semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN