Aku terjaga dari tidur, kepala rasanya begitu berat, perlahan kubuka mata melihat mas Adi masih tidur di sampingku. Semalam hampir jam satu malam aku baru bisa memejamkan mata. Aku mengucek kedua netra dan ini hanya halusinasiku saja. Aku mengangkat tangan lalu mengusap kasar rambutku. Aku tersenyum saat mengingat kebersamaan kami waktu itu.
"Mas, bangun ini sudah siang lo."
Mas Adi menggeliat, mengucek matanya yang masih mengantuk. "Malas, Sayang. Masih mengantuk."
Aku hanya tersenyum tipis. "Ga kerja, kah?" tanyaku
"Kerja, sih."
"Ayo bangun sarapannya sudah siap."
"Hmm. Baiklah morning kiss dulu tapi."
"Mas jangan manja deh."
"Ayolah."
"Baiklah."
Aku mendekat dan mencium bibirnya lama.
"Semalam pulang telat?" tanyaku.
"Sayang, maaf ya. Semalam aku ada meeting dan saat aku pulang kamu sudah tidur."
"Apa ada yang tidak aku ketahui, mas? Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyaku ragu.
Mas Adi menarik napas dalam. "Tidak ada, sayang."
"Ini sudah kelewatan. Tak biasanya, mas seperti ini pulang terlambat."
Mas Adi mendekatiku lalu mengecup kening. "Maaf, sayang."
"Sayang aku berangkat dulu, ya."
"Iya, mas. Hati-hati."
Mas Adi mengangguk. "Jangan cemas dan jangan curiga itu hanya perasaanmu saja, sayang. Sudah aku berangkat ya."
Jujur saja aku tidak memperhitungkan adanya hal ini sepanjang pernikahan dengan mas Adi terjadi. Aku selalu mengira bahwa kami akan bersama hingga sisa umur nanti. Namun rupanya aku terlalu naif hingga terlalu percaya pada mas Adi.
"Khalisa ... lisa dimana kamu."
Panggilan keras Elia menyadarkanmu saat aku melamun.
"Ngapain disini dingin tahu!"
Aku hanya tersenyum ke arahnya. Elia gadis yang begitu baik dan kami bersahabat sudah dari beberapa tahun lalu.
"Mandi gih, ikut aku yuk.''
"Kemana?"
"Temani aku beli ponsel ya. Soalnya lemot nih ponselku." Jelas Elia.
"Baiklah apa sih yang enggak buat sahabat se-care kamu."
"Pasti dong. Makasih ya, Lisa. Meskipun kamu sedih, kamu masih sempat temani aku belanja."
"Iya apa sih yang enggak buat, kamu aku mandi dulu."
"Asyik. Ya sudah aku belikan sarapan buat kamu makanlah selesai mandi."
"Ok."
"Tapi serius kan mau temani aku?"
"Hu um, lagian jarang kan ngumpul kita. "
Elia tersenyum. "Ya sih, kita juga kerja kan. Jadi kita terlalu sibuk."
***
Satu jam kemudian kami sudah sampai di mall. Selesai memilih ponsel kami berjalan naik ekskalator menuju resto mall.
"Khalisa, kayaknya kita putar balik saja yuk. Entah aku mendadak pengin ikan gurame yang ada di depan mall ini itu lo."
"Enggak." Tolakku
"Please ... ayo lah. Khalisa."
Aku menggeleng pelan. "Enggak, serius ya ini bukan lo banget." Kataku seraya melipat kedua tangan di depan d**a. Padahal Elia selalu suka makan di tempat langganan kami, kenapa jadi ingin makan di tempat lain ada apa ini.
"Ayo." Tarik Elia lagi.
Sesaat aku beku. Serasa duniaku benar telah hancur, sebongkam luka telah menghantam seluruh tubuh yang sesaat menjadi beku. Tepat di depan mata kami melihat mas Adi juga Sandra sedang berpegangan tangan mesra tak jauh dari tempat kami berdiri. Ya suami yang selama ini aku percaya ternyata telah menghianatiku.
"Khalisa ... kau baik-baik saja?" tanya Elia sangat cemas melihat keadaanku.
Aku masih di posisi mematung.
"Khalisa, ayo kita pulang." Ajak Elia.
Aku maju satu langkah, dan Elia menarik tanganku.
"Ayo kita pulang." Elia ikut menangis menyaksikan kelakuan sahabat kami.
Kali ini aku serasa dihantam puluhan benda berat tepat mengenai kepalaku
Aku berjalan mundur dan menangis.
"Kau yakin tak menemui mereka?"
Aku menggeleng pelan, "Jika aku tak punya malu maka akan aku lakukan. Nyatanya hubungan kami telah selesai kan."
"Oke aku mengerti, kita pulang."
"Iya."
Ironis, sebab hanya hitungan detik semuanya telah hancur, bagaimana bisa mas Adi menghianati aku sekejam ini.
"Khalisa, kau baik-baik saja?" tanya Elia pelan.
"Tidak apa-apa terima kasih sudah menemaniku hari ini."
"Kau yakin? Jika kau mau melabrak perempuan itu kita putar balik saja."
"Tidak, untuk apa toh dialah pemenangnya, dia mengandung bayi mas Adi kan."
"Ok, baiklah."
Aku mengusap air matanya. "Dengan kamu mencemaskanku saja aku sudah cukup bersyukur. Kau tahu rasanya aku seperti dihantam ribuan benda berat tepat mengenai jantungku."
"Aku tahu itu. Sabar ya."
"Apa ada, sahabat menyakiti sahabatnya. Ini sungguh sulit aku percaya." Aku menoleh ke arah luar cendela mobil Elia.
Aku terdiam, saat ini emosiku sedang gundah masih labil. Tak pernah disangka jika semuanya bisa sekacau ini. Sandra yang pendiam ternyata menusukku dari belakang. Mobil sampai di halaman rumah kami turun lalu masuk ke dalam.
"El, biarkan aku sendiri dulu ya. Aku mau sendirian."
Elia mengangguk pelan, seraya duduk di kursi tamu. Mau pergi pulang pun tak enak ia cemas akan keadaanku saat ini.
***
Ada notif pesan masuk di ponselku, aku mengambil lalu membukanya.
"Sudah siap jadi janda?"
Nomor baru. Tanpa nama yang tertera.
Ini pasti dari wanita itu sahabatku yang bernama Sandra, seorang sahabat tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan seperti sahabat.
Aku menarik napas dalam. Menghembuskan dan menggertakan rahangku.
Aku masuk ke kamar mandi tanganku terasa gemetar, aku berada di pojok kamar mandi memutar shower hingga tubuhku jatuh lunglai kebawah. Sungguh ini begitu menyakitkan, melihat kemesraan mereka berdua tak main-main aku melihat dengan mata kepala sendiri. Semenit, setengah jam, hingga satu jam aku berada di kamar mandi.
"Khalisa, halo Khalisa!"
Sepi
"Khalisa, astaga ... bangun! Bagaimana ini kenapa denganmu."
Aku masih sadar Elia mengagkatku dan menutupi tubuhku dengan handuk.
"Ya Allah, istigfar,Khalisa. Dunia tak akan kiamat jika si breng*ek itu tak bersamamu oke."
Aku hanya diam. Saat Elia menganti bajuku lalu melumuri aku minyak kayu putih pada tengkuk d**a juga leherku.
Selang beberapa menit aku mendengar ada langkah seseorang masuk, sudah berada dalam kamarku, dokter Alan memeriksaku tubuhku masih lemas dan kondisi berendam di air membuatku drop. Saat ini aku sedang di tangani oleh dokter Alan. Sedangkan Elia begitu cemas melihatku.
"Apa yang kamu pikirkan, Khalisa jangan bod*h."
Aku terdiam hanya memegangi selimut. Ada dingin yang merambat di ujung kaki dan seluruh tubuhku. Kurasa tungkai-tungkai mulai mati rasa. Kelamaan di kamar mandi semakin membuatku mengg*la. Air dan angin meredap ke dalam tubuhku dan menyayat hati.
"Minumlah, ini akan membantu menghangatkan tubuhmu." Elia memberikan teh hangat padaku.
"Ya terima kasih."
"Jangan ceroboh lagi, ingat kamu sangat berharga dari pada perempuan itu." Jelas dokter Alan.
Aku sesegukan menangis sementara Elia memelukku erat.
"El, jangan lupa beri dia obatnya."
"Baik, dokter."
"Aku balik dulu, ingat jangan lakukan hal konyol lagi."
Aku diam.
"Baik, dokter." Elia menyahut.
Aku menjeritkan nama mas Adi dalam hati, berharap lelaki itu mendengar dan menghampiri. Namun, tak kutemukan sisa kehidupan di dalam sini. Kesunyian perlahan merambat, mencelus dari lubang-lubang angin di dinding dalam senyap.
Pukul setengah empat pagi, aku terbangun. Di sisi ranjang, Elia tidur membelakangiku. Aku beringsut, dan ke kamar mandi lalu berwudhu dan Salat Subuh ini caranya untuk menghalau kesedihan, Allah lah teman satu-satunya tempat aku berlindung.
Pukul empat dini hari. Udara di luar sana sangat dingin. Angin bertiup kencang, masuk ke celah atas jendela dan menimbulkan bunyi aneh. Kebetulan udara asing bagiku karena baru di sini. Belom kenal akan suara angin juga suasananya.
Aku menghela napas kasar saat mengingat bagaimana mas Adi menemuiku di rumah sakit saat aku sedang bekerja.
"Khalisa."
"Ada apa kenapa menemuiku?"
Dia memandangku dan mulai menangis. "Tolong aku tak bisa jauh darimu, Khalisa."
Kembali kuhela napas. Aku menatapnya cukup lama. Dia terlihat sangat menyedihkan. "Terlambat, lalu bagaimana dengan kandungan Sandra!"
Sedetik saja rasanya, dia lalu sudah berdiri di hadapanku.
"Aku tak seharusnya mengkhianatimu." Dia menangkupkan tangannya di d**a.
"Sekarang sudah terlambat!"
"Aku minta maaf, tolong berikan aku kesempatan." Dia kembali mengiba.
"Pergilah!" usirku serta merta sambil memalingkan wajah.
"Tapi Khalisa."
"Aku tidak akan melupakan ini, kita memang seharusnya berpisah. Sekarang kau bisa enyah dari hadapanku! Kulepaskan kamu, mas."
Dia menatapku lama, lalu berbalik dan pergi. Ya itu perkataan kemarin. Sebelum aku memergoki mas Adi dan Sandra makan di mall.
Aku masih di sini, menyaksikan segalanya dengan tabah. Setiap kali membuka mata, tertahan aku dalam diam. Perasaan cemas, yang mati-matian ingin ku padamkan. Aku masih saja mengajukan tanya, entah pada siapa akan tertuju, walau kadang sering tak kutemukan jawaban.
Sungguh aku pernah, merutuki diri setiap hari, mencaci hidup yang tak lagi berarti. Karena ketidak sempurnaan ini. Lirih mengusik, suara hati yang berbisik, membuat jemari terus mengetik, di serpih-serpih rasa, lukaku masih ada.
Berusaha tak mengeluh pada Allah, paksakan raga untuk tetap bertahan.
Berharap agar tetap tegar, untuk tak pantang menyerah.