Aku masih tetap bersantai sambil mengamati kegiatan Elia yang masih saja menyapu rumahku terlihat dari bayangan cermin besar. Aku tersenyum hanya dia sahabatku yang begitu tulus dan baik.
"Lisa, bagaimana kapan pulang?
"Kalau kau lapar makanlah aku sudah beli dua bungkus nasi tuh." Elia yang kini duduk di depanku tersenyum.
"Apa ini aku tanya apa jawabnya apa?"
"Menurutmu?"
"Masih takut pulang!"
"Hu um. Aku merasa gagal jadi anak yang membangkang."
"Dulu kamu itu bucin sama Adi, jadi orang bicarapun tak akan masuk di telingamu itu." rutuknya padaku.
"Hu um benar juga kamu."
"Kenapa dulu menikah secepat itu? Begini kan jadinya."
"Sebenarnya tidak terlalu cepat juga. Dimana lagi aku bisa mendapatkan seseorang seperti itu. Seseorang yang selalu menjadi pelindungku. Selalu membela, dan menyayangiku."
"Sekarang?"
"Ahh, jangan ngejek deh."
Keterlaluan Elia mengodaku, tapi itu semua tak merubah moodku saat ini. Bahwa aku masih belom terima dihianati mas Adi.
"Terserah! Makan yuk lapar," gumamnya masih kesal.
Selesai makan secepat kilat aku mandi dan berganti baju, hari ini aku akan pulang beberapa hari ingin menenangkan diri agar hatiku bisa lebih baik di dekat mama.
"Aku mau berangkat, kamu mau tinggal disini?"
"Hu um. Dekat dari sini sih ke rumah sakit."
"Oke."
***
Panas matahari siang ini begitu terik. Kususuri trotoar menuju minimarket, hendak mencari buah-buahan juga kue oleh-oleh untuk Mama. Sekitar lima belas menit aku sibuk memilih barang yang aku perlukan. Setelah dari kasir aku langsung menuju ke rumah mama.
Sampai di halaman rumah terdengar suara burung pipit di pucuk pohon jambu yang terletak di halaman depan. Taman kecil dengan beberapa macam bunga yang kelopaknya berwarna-warni sungguh memanjakan mata yang melihatnya. Aku masuk dan duduk sendirian sembari menghirup udara segar. Nyaman. Terasa damai dan menenangkan.
Kuelus pelan perutku yang rata. Aku kembali menangis membayangkan bagaimana nasibku nanti apakah ada lelaki yang mau denganku secara aku adalah seorang janda juga wanita yang tak sempurna. Andai saja aku bisa hamil, tak mungkin aku tak akan dihianati oleh Mas Adi. Apa bagusnya wanita mandul seperti aku ini.
"Khalisa."
Nada bicara mama sedikit meninggi saat memanggilku, tetapi tak sedikit pun aku merasa takut padanya.
"Mama, Khalisa rindu."
"Alhamdulillah kamu mau pulang. Bagaimana kabarmu? Baik kan?
Aku hanya menangis di pelukan Mama dan menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Mama berjalan ke arah dapur mengambilkan aku teh hangat.
"Minum teh hangatnya, baru cerita."
Aku yang sejak tadi duduk di sofa dengan kikuk hanya tersenyum tipis.
"Habiskan."
Aku menjauhkan diri di sofa saat mama mau mengitrogasiku aku menipis hingga sulit bernapas. Satu tanganku menekan d**a yang bergemuruh. Sementara mama terdiam sambil memandangku dengan tatapan redup.
Aku mengembuskan napas, mencoba menenangkan diri dan mengembalikan kewarasan.
"Kenapa? Ada masalah?"
Hening.
Sesekali kulirik lelaki di hadapan yang sedang menatapku intens. Tolong ampuni aku Mama. Sekali lagi kulirik Mama di hadapan. Sementara, aku harus mati-matian meredakan gejolak dalam d**a. Pasalnya bagaimana jika Mama tanya soal Mas Adi.
"Khalisa, kamu baik-baik aja, Nak?"
Aku tersentak. "A-ku tidak begitu baik. Kenapa, ma?"
Mama terlihat mengerutkan alis. Kemudian tangannya terulur menyentuh keningku. "Kamu demam?"
"Enggak, ma."
"Kenapa ngelamun? Wajah kamu juga pucat."
Aku menggeleng. Ini pasti gara-gara aku ketakutan.
"Kalau sakit lebih baik istirahat daja. Dari tadi kayak nggak fokus gitu."
"Mm ... nggak. Aku gapapa kok, ma serius"
"Bener?" Mama kembali menempelkan punggung tangannya di keningku, lalu turun ke pipi.
"Aku ... baik-baik aja."
Tapi otakku yang tidak baik-baik saja.
Bagaimana ini?
***
Dadaku kembali berdebar padahal hanya membayangkan saja kenapa rasanya seperti nyata? Ah, ini tak benar.
"Mama siapa yang datang?" tanya ayah cepat-cepat masuk.
Astaga, ayah dan Zaidan datang.
"Khalisa datang, ayah." Ibu membawkaan tas milik ayah san menaruhnya di atas meja.
"Hai. Assalamualaikum ank apa kabar."
Kujawab salamnya sambil mencium punggung tangannya yang terulur padaku.
"Ohh, Khalisa putriku. Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Emm baik, ayah."
Aku memeluknya erat bergantian memeluk Zaidan adikku.
Mereka saling menyahut dan melempar candaan satu sama lain. Sementara, aku hanya terkekeh mendengar candaan itu.
"Makin cantik saja sih putri, ayah."
Aku mengerutkan alis. "Siapa dulu Ayahnya."
"Aku dong, siapa lagi."
Seketika mama dan Zaidan berdeham.
"Aduh, so sweetnya sampai lupa sama, Mama."
"Gak bisa lama-lama jauh, ma. Bawaannya kangen terus, Mbak Khalisa pulang kan lima bulan yang lalu." Jelas Zaidan.
Ada-ada saja tingkah mereka.
Punya keluarga yang care seperti mereka memang membuat rindu, dan selalu bahagia. Senyum mereka itu berhasil membuat debar halus dalam d**a.
"Maaf, ya, aku nggak ngasih tau dulu mau ke sini."
Mama mengangguk. "Hmm sana mandi dulu, mama masakin kesukaan kamu."
"Nggeh, Ma."
Selesai aku mandi Mama masih memasak, sepertinya masakan kesukaanku sayur bobor ada gorengan tempe hangat juga ikan pindang sama sambal terasi, ah rasanya cacing-cacing dalam perutku ini meronta minta diisi. Entah aku harus merespon apa. Pasalnya, perhatian keluargaku itu membuatku sedikit berbunga. Jadi begini rasanya bahagia, selama ini aku keukeh membantah beliau untuk bersama Mas Adi nyatanya sekarang, ah sudahlah.
"Beneran gapapa?" tanya Mlmama memastikan saat kami selesai makan dan berkumpul di belakang rumah.
Aku tersenyum.
Satu tangannya mengusap kepalaku. "Bicara saja sama mama. Mana Adi gak ikut ke sini?"
Aku terdiam.
"Ada apa?"
Ayah dan Zaidan ikut duduk bersama kami di gazebo seraya menikmati indahnya malam.
Aku menahan senyum. Dan berusaha jujur. "Gapapa. Jadi lebih baik kami berpisah, Ma." Ada kekehan ringan setelah aku mengucapkan itu.
"Pisah? Kenapa ada apa?"
Aku memeluk mama dan meminta apunannya.
"Maaf, Ma. Ayah. Selama ini Khalisa tak menuruti nasehat, ayah dan mama."
Semua diam tak bertanya lagi. Memilih memelukku erat.
"Kenapa nggak bilang? Ingat kami tetaplah orang tuamu."
Sementara lelaki itu yang kusebut Ayah hanya tersenyum tanpa marah sedikitpun.
"Khalisa khilaf maaf, ayah, ma."
"Sudah-sudah jangan menangis lagi."
Aku berdecak, lalu kembali memeluk kaki mama.
"Pintu rumah ini selalu ada buat kamu, sudah jangan sedih."
Ah, perkataan ayah membuat hatiku diselimuti haru luar biasa. Keluarga aku memang begitu perhatian.
"Gimana ceritanya hubungan kalian selesai?" tanya ayah sambil kembali menyeruput minumannya.
Aku terdiam.
"Apa Adi menyakitimu?" Ayah bertanya lagi.
Aku mengangguk dan menunduk.
"Apa Adi nggak bertanggung jawab?"
Lagi, aku mengangguk.
"Apa Adi memperlakukanmu dengan tidak baik?"
Kali ini aku mengangguk lagi.
Seandainya Ayah tahu apa yang mas Adi lakukan telah mengamili wanita lain. Pasti ayah akan murka bukan.
***
Rasa nyeri kembali melesak dalam jantungku. Menekan hingga terasa sesak bahkan untuk menarik napas. Rasa nyeri datang lagi, kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Aku menekan d**a sekuat tenaga, satu tangan mencengkeram selimut. Menunggu, hingga nyeri itu perlahan pergi.
Mama menatapku dengan wajah berkaca-kaca. Aku, meski bukan lagi anak berusia belasan tahun, tapi selalu cengeng. Kadang aku merasa gagal.
"Ayah, mama, mas Adi ...."
Ayah menatapku ragu. Aku terengah, rasa nyeri masih bersarang meski nervousku mulai berkurang.
"Kenapa?"
Aku berusaha baik-baik saja saat menatap Ayah.
"Mas Adi meminta berpisah, kemarin aku sudah dapat gugatannya dari pengadilan agama," bisikku pelan.
"Apa?"
Rasa nyeri seketika lenyap. Atau mungkin karena rasa terkejutku lebih parah daripada sakit itu sendiri.
"Apa?" Mama mengulang. Kali ini dengan telapak tangan memegangi d**a.
"A-aku ... minta maaf."
"Apa alasannya?"
Setetes air mata kemudian meluncur begitu saja di pipi Mama. Dia buru-buru menyeka. Rahangku bergemeletuk, dadaku berdegup kencang. Rasa dingin mulai merayap dari telapak tangan. Aku menggigil.
Lalu kemarahan luar biasa itu, akhirnya meledak menjadi tangis paling parah seorang mama untuk putrinya.
"Ayah. Mama, maaf! Maaf! Aku tidak mendengar nasehat kalian dulu!"
Aku merangkak di bawah mama dan ayah. Aku meminta ampun dan maaf karena telah berontak kala itu. Mama membangunkanku dan menyuruhku duduk kembali.
"Apa alasannya?"
Aku semakin takut.
"Dia menghamili, Sandra, ma."
"Astaghfirullah, Sandra."
Aku menunduk. "Iya, ma."
"Itu terdengar menyakitkan bukan, laki-laki breng*ek," gumam ayah sambil mengenggam tangan.
Aku tersenyum kecut.
"Ya, aku juga nggak habis pikir, ayah."
Ayah menoleh dan aku menatapnya.
"Aku seorang ayah. Sepantasnya memaafkan anaknya bukan, sudah tidak apa-apa kami semua mendukungmu."
Aku terdiam lama. Dalam hati mulai bertanya, mama dan ayah tak segarang waktu memaraahiku saat aku memutuskan untuk menikah dengan Mas Adi saat itu.
"Ayah ...."
Beruntung bukan memiliki keluarga yang begitu menyayangiku. Aku memejamkan mata. Saat mereka memeluk menenangkan aku yang menangis. Nyeri itu datang lagi. Melesak, lalu menusuk-nusuk dengan hebatnya. Aku menekan dadaku sendiri merasakan bahagia karena kasih sayang orang tua tak akan pernah pudar meskipun berkali-kali anaknya membuat kesalahan.
Dalam pelukan mereka rasanya seperti ada yang bermekaran di dalam sini.