Aku membantu mama memasak, kali ini Mama akan memasak sayaur asem juga pepes ikan dan itu kesukaan aku banget. Juga menggoreng bakwan jagung.
"Ini motongnya gimana, ma …!" Aku langsung bertanya itu kebiasaan aku karena aku tak pandai memasak.
Mama yang sedang menggoreng bakwan berusaha membalikkan badan, dan aku tersenyum karena memang tak tahu.
"Agak panjang saja, Khalisa."
"Segini."
"Hu um."
Hening
"Jadi, berapa hari libur?'' tanya mama.
"Cuti lima hari sih, ma."
"Wah seneng nih ada teman, mama ngerumpi di rumah."
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Aku bangkit memeluk mama dari belakang. Merindu sosok lembutnya. Perlahan aku melonggarkan pelukan. Aku tertunduk saat mama mengusap lembut rambutku, menghapus air mata yang masih sesekali turun.
Aku hanya menatap kaki mama. Aku mirip Mama. Hatiku lembut, itu sebabnya orang berani seperti Mas Adi seenaknya dan berani menghianati aku.
Mama menggenggam tanganku. "Anak, mama cantik pasti nanti dapat pengganti yang baik. Sudah cuci sayurnya."
Aku mengangguk. "Ya, ma."
Hampir tiga puluh menit kami di dapur dan saatnya makan siang, enak sekali rindu masakan mama, lama aku tak pernah merasalan lezatnya masakan Mlmama.
"Enak?"
"Juara pokoknya rasa masakan, mama."
Mama tersenyum. "Nambah lagi, kamu kurusan deh, mama perhatiin."
"Ya, ma."
Selesai makan aku duduk di sofa melihat ke arah aquarium kesukaan Zaidan.
"Sudah tenang? Mari cerita. Kenapa dengan hubungan kalian?"
Aku terdiam, fokus menatap wajah mama.
"Belum bisa cerita? Ini pasti sesuatu buruk, kan?"
"Ma."
"Kamu jangan takut mama akan stress karena ceritamu. Mama ini tidak selemah yang kamu pikirkan." Mama tersenyum saat menyentuh rambutku.
Belaian demi belaian seakan jadi hipnotis. Hingga akhirnya cerita itu sudah bersiap di ujung tenggorokan, siap aku diluncurkan.
"Aku takut jika tidak menjadi wanita yang sempurna, ma."
"Kamu ini orang keturunan kita banyak anak? Coba mama nggak keguguran anak Mama sudah lima, Khalisa. Kenapa tak periksa?"
Tanpa kusadari, aku sudah berada di dalam dekapan mama. Tepukan lembut di punggung itu kembali terasa menenangkan.
"Pernah sih, ma. Periksa beberapa tahun lalu."
"Terus!"
Lagi, aku berusaha menenangkan diri, berusaha mengingat bayangan kejadian waktu itu.
"Jadi saat hasilnya keluar, mama mertuaku yang tahu, ma. Aku harus bekerja pada saat itu kata Ibu sih normal"
"Oke. Jadi nggak ada masalah kan, Nak!"
Aku tetap menunduk, memainkan jari-jemari di bawah meja makan. "Gak tahu, ma. Harusnya gitu kan?"
"Periksa lagi coba. Orang kamu kerja juga di rumah sakit ini. Kalau nggak tanya salinan datanya pas kamu periksa kan masih ada, Khalisa."
"Ya juga sih, ma. Kenapa aku tak kepikiran ya."
"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sabar ya, Adi memang bukan yang terbaik untukmu, ingat kamu cantik, baik punya pekerjaan jadi jangan takut. Kamu terlalu berharga untuk di sakiti, Nak."
"Hmm iya, ma. Khalisa juga sudah pindah rumah."
"Oo. Kenapa?"
"Malas saja, biar Adi tidak tahu jejak Khalisa."
"Ya sudah terserah kamu. Terus bagaimana proses perceraian kamu."
"Kemarin seharusnya sidang perdana sih, ma. Kata pak RT surat panggilan dari pengadilan untuk kemarin."
"Nggak punya perasaan laki-laki itu. Berani-beraninya ia sakiti hati anak Mama."
"Hemm, maaf. ma."
"Sudah lupakan."
***
Aku berjalan menuruni anak tangga dengan langkah malas. Aku enggan ngapa-ngapain, tetapi aku juga tidak mau di rumah selama tiga hari ini. Hanya tidur makan bantuin Mama beberes saja.
"Sudah bangun? Cepat sarapan! Mama akan ajak kamu jalan-jalan."
Aku sedikit terkejut saat melihat mama sudah berdandan cantik dan rapi. Mataku melihat Ayah dan Zaidan yang sedang menikmati sarapan juga.
"Kemana, ma?" ucapku pelan-pelan. Seraya duduk di kursi dekat Ayah.
"Temani, Mama belanja." Mama membelai rambutku lalu mengambilkan nasi untukku.
"Kamu temani, mama, Khalisa. Maaf ayah kerja tidak bisa ikut, ya. Biar Zaidan yang menjaga kalian."
"Zaidan ikut?" tanyaku menggodanya.
"Iyalah nanti bodyguard nya siapa coba." Celoteh Zaidan.
Aku tertawa. "Alaah lebay."
Zaidan tertawa menjulurkan lidah ke arahku membuatku kesal saja sama adik manjaku itu. Jantungku berdebar cepat selama perjalan ke mall. Entah akan ada apa nanti biasanya aku tak salah dalam menafsirkan perasaanku sendiri.
Kami terus berjalan menuju mall dan membeli sembako juga peralatan sayur juga sabun shampo juga lainnya. Suara sepatu high heels mama membuat kami jadi pusat perhatian. Begitupun wajah tampan Zaidan yang selalu jadi pusat perhatian para wanita muda.
"Kamu mau beli baju atau apa?" tanya mama.
"Tidak, Ma."
"Kamu itu harus cantik dan wangi kayak, mama. Khalisa."
Setelah membayar ke kasir, Zaidan membawa belanjaan ke dalam bagasi mobil. Kembali aku dan Zaidan menemani mama belanja baju. Ini yang membuatku malas. Kan benar Mama menyuruhku untuk membeli beberapa baju.
"Khalisa, ayo coba baju-baju ini. Mama yang akan bayar, Mama tahu tabungan kamu pasti terkuras banyak karena kamu pindah rumah."
"Ma."
"Sudah kamu terlalu tomboy. Sana ganti."
Aku mengangguk. Ekspresi mama yang lembut kemarin hilang. Sorot mata menenangkan itu berubah jadi sorot mata tajam nan mengerikan. Aku mengikuti menganti beberapa dress cantik, sih. Saat aku keluar mama langsung setuju dan mengambil beberapa dress cantik yang menurutnya pas di tubuhku, dan itu yang dipilih mama untuk di beli.
Mama juga menyuruhku potong rambut, juga mengubah penampilanku dengan cara dia, ah ini sangat memuakkan. Aku hanya menurut dan mengikuti kemauannya saja.
Aku menatap wajah mama dan Zaidan bergantian. Ajaib, wajah mereka terlihat tersenyum ke arahku. Mereka bahkan mengacungkan jempol padaku.
Ah mama ada-ada saja.
Aku mulai dipermak di salon dekat butik tempat kami belanja, mama yang menentukan model rambut juga, ah aku menurut saja toh mama sudah memaafkanku. Aku yang biasanya hanya menguncir rambutku asal selebihnya ya biasa saja. Saat ini aku benar-benar sudah berubah seperti ala-ala boneka, aku sendiri pun tak sadar dengan apa yang aku lihat di cermin.
"Gimana, Bu?"
"Perfect, aku suka."
Saat aku berusaha jalan dengan senyuman mendekati mama, sesuatu menyentuh punggungku pelan.
"Lihat kamu sangat cantik kan."
"Ma, risih."
"Benar lo, mbak cantik." Sahut Zaidan.
Ah benar saja aku malu dan menunduk.
Setelah membayar semuanya, kami berjalan menuju restoran dimana Zaidan sudah lapar karena menungguku di salon lama. Saat kami mau masuk dalam restoran kulihatas mas Adi dan Sandra bergelayut manja.
"Khalisa."
Aku terdiam. Sepertinya mas Adi terpesona melihatku.
"Mama, Zaidan." Tegur mas Adi.
"Lihat! Anak saya di khianati! Jadi ini wanita yang merebutnya darimu, Khalisa! Sahabat macam apa ini!" mama menaikkan suaranya.
"Tenang dulu, Mama! Jadi apa salahku kan Khalisa mandul," ucap Sandra membuat mama naik pitam.
"Ooo. Ceritakan versimu Adi! Apa memang itu? atau kamu yang gat*l merebut Adi." mama menatap Adi sinis.
Mama pasti kesal bukan main anaknya di khianati seperti ini dan janjinya ia ingkari.
"Saya ...."
"Memang mandul kan? Jadi apa salahnya aku merebutnya." Sandra menyahut.
"Wow Lihat, ini! Itu bercanda wanita pelakor. Kenapa keluargaku tidak ada yang mandul?"
Aku menatap mama begitu marah pada mas Adi dan Sandra. Bagaimana seorang wanita pelakor bisa menghina putrinya.
Sandra terdiam, tangannya memegang tangan mas Adi.
"Kamu paham tidak, penghianatan kalian itu jahat?" ujar mama sambil menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Paham, dong. Dan tak masalah bagiku."
Jawaban Sandra malah membuat suasana kian memanas. Belum lagi mas Adi yang terus menatapku. Mama pasti melihat mas Adi yang tak henti menatapku.
Aku yang berdiri di belakang mama.dan Zaidan, sedikit menunduk dan memegang tangan mama.
"Sepertinya pertemuan menyenangkan, ya. Bahkan seorang pelakor bisa tertawa keras?"
"Ya karena putri, mama telah kalah dariku."
"Oh begitu!" gumam mama.
Mama berjalan mendekati mas Adi dan Sandra.
Mas Adi dan Sandra mundur beberapa langkah saat mama terus mendekatinya.
Hingga mama melakukan sesuatu. Sesuatu di luar pikiran liarku. Sesuatu yang keren menurutku. mama melakukan hal diluar dugaan menendang bagian selak*ngan sensitif Mas Adi dengan pah* mama. Suara nyaring saat mas Adi menjerit kesakitan. Aku bingung bagaimana harus bereaksi. Sedangkan mama, dia tertawa setelah melakukannya.
"Kenapa itu balasan buat laki-laki brengs*k yang dengan sengaja ingkar janji menyakiti putri kesayanganku!"
Sandra sangat terkejut. Sikap agresifnya bahkan hilang.
"Berhenti menghina dan bilang putriku mandul, pergi atau kudorong wanita jal*ng ini." Ancam mama.
Aku dan Zaidan saling tatap, terkejut dengan apa yang dilakukan mama.
"Sekarang bayangkan perasaan putriku bagaimana sakitnya."
Ruangan sangat hening. Banyak yang melihat kami dan berhenti, menatap curiga pada mas Adi yang kesakitan karena tendangan mama. Astagfirullah, mama benar-benar membuatku terkejut, wanita selembut mama bisa dengan mudah mengalahkan mas Adi.
Sandra dan mas Adi berjalan menjauh, mereka begitu ketakutan saat melihat kemarahan mama. Astaga kali ini mama benar-benar keren sekali.