Kecurigaanku

1480 Kata
"Aku akan laporkan ini!" Ancam Sandra pada mama. "Oh berani silahkan saja aku tak takut. Kamu pikir aku takut, silahkan laporkan maka aku akan balik menyerangmu. Apa kamu ingin melahirkan di balik jeruji besi 'hah." Ancam balik mama tegas. Emosi Sandra naik satu tingkat. "Awas ya." Mama tertawa jahat. "Silahkan saja, aku bisa menuntut kalian. Aku punya bukti yang jauh lebih mengerikan dari apa yang kalian bayangkan! Bagiamana?" Hening. Aku menunduk nggak berani menatap kemesraan mereka. Ah terkadang memendam rasa adalah piliihan satu-satunya agar semua terlihat baik baik saja. "Pergilah. Sebelum aku buat kalian lebih malu." Aku menggenggan tangan Zaidan, aku tahu mama menyalurkan amarah yang menggelegak dalam d**a. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk bersama, mungkin amarah mama karena tak tega melihat aku di sakiti. "Ayo, mas." Ucapa kesal Sandra dan menarik tangan mas Adi menjauh. "Aku minta maaf karena menghianatimu, Kalisa." Mas Adi menatapku dengan menahan rasa sakitnya. "Tak apa-apa. Aku sangat senang karena bisa lepas dari orang sepertimu," jawabku asal tanpa menatap kearahnya. "Mas. Ayo." Sandra kembali memaksa Adi menjauh dari kami. Kami menyaksikan mas Adi dan Sandra menjauh. Bunga-bunga ini layu ketika cinta itu bukan untukku lagi. Masih terasa sakitnya betapa bahagianya Sandra bisa hamil sedangkan aku? "Kelak, saya tidak akan menyakiti putri Anda Khalisa, saya bisa pastikan Itu, bu Salwa." Mama tertawa saat menirukan mas Adi kala itu membuatku tersadar dari lamuanan. Dan mereka berdua langsung pergi dengan tingkah mas Adi yang kesakitan. "Biar kapok tuh, enak sekali ingkar janji sama, mama. Heran dulu mohon-mohon sekarang dengan mudahnya ia mencampakkan kamu." Jelas mama terlihat kesal. "Semua orang bisa janji, ma. Tapi tidak semua orang bisa menepati janji." Sungguh, tak mungkin kulupa janji yang pernah dia ucap tepat di depan Mama dan ayah saat mas Adi melamarku saat itu. "Benar, ma. Mama keren banget? Keren tapi, Mama memang bisa karate?" tanya Zaidan memastikan. "Jelas." "Mama serius?" Dia telah mengambil salah satu bagian yang paling kujaga. Jadi, dia pula yang harus bertanggung jawab dengan penghianatannya. "Tentu saja serius. Belom tahu kamu mama kamu ini dulu juara taekwondo." Wajah cantik itu tersenyum, hingga kerutan kecil muncul di sudut matanya. Terlalu bahagia, aku langsung merasuk dalam rengkuhnya. Mama yang selalu ada buat aku. "Keren sih, ma. Bagaimana laki-laki itu menahan sakit tadi." Kilah Zaidan. "Kesel, mama saat Adi diam saja Sandra menghinamu." Zaidan tertawa. Tawa yang senantiasa membuatku lega dan puas. "Tapi, mama lihat Adi tadi terpesona melihatmu, Nak." "Masa sih." "Hu um tahu saja jika putri, mama sangat cantik. Tiga tahun ini cuma omong kosong. Pernikahan dengan kebohongan aku benar-benar muak. Bagaimana kejadian tadi membuatku menggigilkan seluruh sendiku. "Ayo makan!" Zaidan memesan makanan, aku dan mama duduk di bangku restoran. Pada akhirnya melihat kamu bahagia bersama pilihanmu adalah episode terakhirku mencitaimu. *** Terkadang hidup dekat dengan keluarga itu salah satu cara untuk belajar mengerti arti rindu dan sayang yang sebenarnya. "Lisa, ayah boleh masuk!" Suara ayah dari balik pintu membuatku terkesiap. "Iya, ayah. Bentar!" Aku melangkah menuju ke pintu. Membukanya lalu tersenyum. "Masuk, Yah." Ayah mengangguk. Lalu masuk dan duduk di tepian ranjang. Merentangkan kedua tangannya. "Sini, Nak." Aku menghambur ke pelukan sang ayah. Merasakan tangan ayahnya mengusap puncak kepala dan rambut. "Adi sudah mengajukan gugatan." Aku mengangguk. Tanganlu semakin erat memegang pinggang Ayah. "InsyaAllah belajar dari kesalahan nanti akan membuatmu lebih dewasa." Aku sedikit melonggarkan pelukan lalu mendongak. "Yah, makasih sudah mau memafkan kesalahan, Lisa." Ayah menunduk. Menatap kedua manik netraku. "Ya. Ayah sudah tahu maksud kamu. Kadang Ayah ingin tegas pada kamu. Tapi kalau mengingat kamu keukeuh saat itu. Ayah kok jadi selalu nggak tega. Meskipun dugaan ayah benar bahwa Adi tak setia." Aku kembali menempelkan wajah di d**a Ayah. "Ayah benar, dia laki-laki breng**k ternyata." Ayah mengangguk. Lalu mengurai pelukan. Kedua tangannya memegang bahuku. "Ayah tahu kamu anak baik nanti juga dapat laki-laki yang baik juga." Aku menarik sudut bibir. "Janda apa ada yang mau, ayah?" "Eh jangan salah ya. Janda juga kalau baik kenapa enggak." "Ayah hanya ingin aku senang saja kan?" Diberi kepercayaan oleh ayah dan mama. Bukankah itu hal luar biasa? Tapi tidak menyandang gelar janda itu sangat mengerikan bagi perempuan manapun kan? "Tidak. Itu kenyataan." Aku hanya tersenyum. "Ya sudah tidurlah. Jangan mikir yang aneh-aneh. Nanti biar Zaidan yang menemanimu di rumah barumu ya." "Boleh?" "Boleh, Lah. Lagian kampusnya juga dekat rumahmu kan?" "Iya sih ya. Makasih ayah." "Sama-sama, Nak. Tidurlah." Aku mengangguk dan melihat Ayah keluar dengan pelan tersenyum seraya menutup pintu. *** Aku memeluk mama erat, mencium punggung tangannya lama. Ada rasa gelisah di hatiku "Ma, Khalisa pamit." "Hm, iya sayang hati-hati, biar Ayah kamu dan Zaidan yang antar kamu," sahut mama. "Ma, aku baik-baik saja biar Khalisa naik taksi saja." Mama menatapku. "Tidak, jangan pulang sendiri, Nak." Aku mengangguk. "Iya, baiklah." "Baguslah!" "Mama ikut juga gak papa sekalian kita lihat rumahnya, Khalisa yang baru." Mama tersenyum. "Iya, boleh." "Boleh." Aku menunduk dalam. Genangan air di matanya seakan ingin menerobos untuk keluar. Aku segera mengelapnya bagaimana bisa Mama tak pernah ikut kerumah aku sekedar berkunjung saat aku menikah dengan Mas Adi. Sekarang ia mau ke rumah bukankah ini sangat membuatku bahagia. "Ya sudah mama siap-siap." Ayah berucap sembari mengusap lengan mama. Mama menghela napas panjang. "Baiklah, mama ikut mengantar." "Nah begitu." Aku hanya tersenyum. Lalu aku memeluk Mama dari samping. "Makasih, ma. Khalisa sayang sama mama. Aku hanya butuh doa dan restu mama." Satu tetes air mata jatuh di pipi mama. Mendengar kata-kata dariku. Kami berangkat di sore hari jarak ke rumah dan rumah ayah hanya sekitar setengah jam saja, kalau rumahku yang dulu kurang lebih jam lah. *** "Khalisa nggak masalah, kan, kalau kita ajak makan di dulu?" tanya Ayah, setelah menepikan mobilnya tak jauh dari penjual bebek goreng pinggir jalan. "Ikut saja, Ayah. Lagian Khalisa besok kerjanya kok." "Oke yuk turun." "Bungkus saja deh, Yah. Nanti kita makan di rumah mbak Khalisa." Zaidan usul. "Begitu, baiklah." Selesai memerima pesanan kami langsung pulang tak berselang lama mobil Ayah telah sampai di depan rumah ku. Baru kali ini aku merasa bahagia kedatangan keluarga aku. Biasanya Mama dan Ayah cuma minta video call saja tanpa mau berkunjung saat ada mas Adi. Tapi entah kenapa hanya keluarga kan yang lebih suka kasih tanggung jawab beginian padaku. Mungkin karena tidak akan pernah ada bekas anak, anak tetaplah anak berapapun kesalahan nya orang tua pasti memaafkan bukan. "Bagus, nyaman tempatnya. Asri lagi." "Iya Ayah bagus, Mama suka deh." Aku tersenyum. "Ayo masuk Ma, Yah." Baru mau, tiba-tiba pintu terbuka. Ceklek! Terlihat muka Elia , ngeliat ayah dan Mama ia langsung memberikan salam. "Om, Tante." "El." Sapa Mama. "Nggeh, Tante. Nungguin rumah selama Khalisa ngak di rumah." "Ya, makasih ya sudah jagain, Khalisa selama ini." "Mmmm. Nggeh sama-sama, Tan." Dia minder dan gugup kayaknya. Aku nggak yakin tuh Elia jadi salah tingkah kan. Kami semua masuk, namun Elia menahanku. "Kenapa tak bilang kalau Mama dan Ayah ke sini?" "Lupa mau ngasih tahu." "Hmmm kebiasaan malu tahu," jawabnya ragu. "Siapa yang malu?" "Aku lah." "Apa-apaan sih kayak aku siapa saja, sudah ah ayo masuk?" "Malu tahu." Aku menggandeng tangannya untuk masuk. "Wah, Mama suka ini kelihatan bagus sekali. "Aku juga suka, Ma. Sejuk." Sahut Zaidan. Aku terdiam sebentar. Merasa tersanjung sih, padahal rumahnya minimalis kebetulan saja banyak pohon mangganya jadi kelihatan adem. Meskipun habis tabungan aku terkuras untuk biaya tambahan beli rumah. "Ya udah, kita makan Ma, Elia juga ikut makan sudah dibelikan soalnya sama Ayah" sahutku akhirnya. "Oke. Makasih, Om." "Hmm sama-sama." Mata Elia langsung berbinar kegirangan. Dia buru-buru bangkit berdiri dan melangkah bergabung ke arah meja makan. Sementara aku duduk di dekat Zaidan. *** Hari ini pertama aku masuk kerja lagi setelah lama cuti. "Bagaimana jadi tanya soal hasil tes kamu waktu itu?" "Ya jadi lah, penasaran aku. Masa aku gak bisa sih punya keturunan, aneh saja secara aku tak punya riwayat keturunan mandul." "Bagus lah, memang harus begitu. Coba saja tanya sama dokter Deva yang waktu itu menangani tes kalian kan." "Hu um." Aku menyipit menatap penampilannya. Dia mau bantuin aku juga aku sudah berterima kasih. Karena dokter Deva lagi ada pertemuan do luar kota. "Kamu yakin ingin tahu hasilnya? Tapi dokter Deva nggak ada nih." "Ya, dokter Glen tolonglah. Baru juga dua tahun datanya pasti masih ada kan?" "Oke akan aku coba bantu." "Makasih, dokter Glen." Aku membalas senyumnya. Matanya membulat menatapku, antara senang dan nggak malas harus menuruti apa kataku. Karena juga mungkin juga tanggung jawabnya saat menggantikan dokter Deva. "Bagaimana," lanjutku. "Sabar masih di cari, Khalisa." Bibir mengerucut, kemudian menggigit bibir sambil melihat dokter Glen memeriksa komputer. "Nah ini ketemu, mau disalinkan?" "Ya!" Terdengar senyum dari bibirnya. Kayaknya kaget melihat hasilnya. Aku sudah deg-degan setengah mati ini. Aku bersandar pada kursi berusaha meredam gemuruh dalam d**a karena gugup akan hasilnya. Satu Hening. Du Masih hening. Ti ... Terdengar suara helaan napas dari dokter Glen. Satu tangan mulai terjulur memberikanku sebuah kertas. Setelah beberapa saat aku menutup mata dan baru saja dia menarik napas lega saat hasil punyaku. Astaghfirullah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN