Hasil Tes

1170 Kata
Hasil Tes "Ini keren hasilnya aku normal!" "Mantan suami kamu lihatlah, jadi Dia yang bermasalah, Khalisa bukan kamu. Dia mandul dan tidak akan mungkin bisa memiliki keturunan." "A-apa? terus Sandra hamil anak siapa, Dok?" tanyaku penasaran. "Hasil tes ini akurat, Khalisa. Jadi mungkin itu bukan anak mantan suamimu itu." "Astaghfirullah." Aku mengelus d**a. Mungiin wajahku kini berubah pucat. Selembar kertas hasil pemeriksaan laboratorium aku lihat dengan tangan gemetar. Tidak terbayangkan olehku betapa kecewa dan hancurnya jika mas Adi mengetahui ini, lalu dulu Ibu kenapa selama ini beliau menyalahkanku. "Sudah puas?" tanyanya datar. "Iya dok. Aku gak tahu jika dokter Deva yang disini mungkin aku tak akan tahu ini." "Kamu baik, semua sudah ada yang mengatur." Aku meringis. Aku kemudian kembali beralih menatap wajah dokter Glen itu, tajam. "Makasih, dokter." "Ya, karena kebenaran akan selalu menang, Khalisa!" Aku menggigit bibir bawah sambil menunduk dalam-dalam. "Hu um benar kata dokter." Aku izin keluar ruangan. Dokter Glen menyemangatiku dia bilang jika aku tak boleh menyerah. Tapi ada hal yang membuatku gelisah saat ini, yang jadi pikiranku adalah anak siapa yang dikandung Sandra? Hedeeh, dasar wanita bar-bar. Apa rencananya pada mas Adi? *** Sudah lebih dari dua jam aku terduduk di atas kursi rumah sakit yang kuseret ke dekat jendela. Memandangi angin yang meniup pohon hingga menciptakan aroma udara siang ini. Embusannya menguar lewat jendela yang sedikit terbuka membuat tubuhku seeikit bergidik nyeri. Musim kemarau memang di luar biasa, aku merasakan dingin. Tenggorokanku tersendat, tak mampu menahan rasa sesak yang membuat kepalaku sedari tadi sakit. Aku membekap mulut, tak menatap lembaran hasil tes laboratorium itu. Suara Elia membuatku terkesiap, aku lembar kertas dan memasukkanya dalam tas. Elia memberikan aku satu cup cappucino "Lisa, kamu kenapa?" teriak Elia "Em aku gak papa." Aku menjawabnya sedikit gugup. "Enggak aku kenal kamu lama ya, aku tahu ada sesuatu Aku terdiam. "Kenapa, Lisa? Aku tahu ini kamu menyimpan sesuatu." Pertanyaan beruntun dari Elia membuatku semakin menundukkan kepala. Elia menyuruhku untuk menatap wajahnya, tapi aku tak berani. Seakan-akan aku adalah seorang penjahat yang disuruh untuk mengakui sebuah kejahatannya. "El aku ...." Elia mengusap punggungku, menenangkan. "Coba jelasin pelan-pelan." Aku menggeleng cepat. "Tak perlu di ceritain El." "Yaudah, kalau gak mau cerita." Elia melangkah pergi meninggalkanku. "El!" Aku berseru. Elia berbalik, mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?" Aku segera mengambil hasil tes itu dan itu membuat Elia berbalik dan berjalan ke arahku lagi. "Apa ini?" Dia bertanya. Aku tersenyum tipis, meneguk cappucino yang baru saja diberikan oleh Elia, sebelum mengutarakan isi kepala. "Lihatlah," kataku. Dihadapanku Elia menatapku dengan alis berkerut. Dan mengambil kertas itu lalu membacanya. "Apa ini?" Aku mengangguk. "Astaghfirullah, ini serius." Katanya setelah tahu hasil tes itu. "Ya seperti saranmu tadi, itulah hasilnya." Ucapanku telak membuat Elia melotot. "Candaanmu tidak lucu, Khalisa." Elia memaksakan tawa kecilnya. "Aku serius! Lagian itu dari dokter Deva apa ada aku buat salinan palsu." Muka Elia tiba-tiba berubah. Elia meraih tanganku, lalu menggenggamnya. "Apa ini! jadi, Mas Adi yang selama ini mandul?" Aku mendengus. "Emm!" satu kata itu membuat Elia membatu. "Jadi selama ini seenak jidat mereka mengkhianati kamu dan ini, astaga lalu anak yang dikandung Sandra anak siapa?" Aku menggelengkan kepala. "Entahlah." "Khalisa, dengerkan aku dulu!" Kita balas dendam untuk Sandra ya." "El, ngak semua kejahatan dibalas dengan kejahatan? Biarkan Allah yang menghukum mereka." "Ah nggak asyik kamu." "Sudah yuk kerja!" Elia mendengus kuat. "Sahabat? Sahabat macam apa yang merusak rumah tanggamu nyatanya ini? Lagian kamu juga kenapa tak tahu hasil tes mu sendiri heran aku." Lagi, aku membeku. Aku menghela napas melepas gemuruh amarah yang menyarang dalam d**a. Benar juga siapa dalang dibalik semua ini, kenapa kata Ibu mertua aku waktu itu jika kami berdua baik-baik saja. "Tapi kata Ibu waktu itu mas Adi sehat kok hasilnya." "Bagaimanapun rapinya Ibu mertuamu menyembunyikannya, perlakuan jahat Ibumu selama ini terus meneror kamu mandul, nyatanya anaknya sendiri yang mandul. Astaga, tapi pasti kejahatan akan tetap terbongkar." Apa aku tidak sakit hati karena ditinggal selingkuh? Jelas ada yang patah dalam diriku. Namun, gejolak amarah jauh lebih besar hingga aku lupa bahwa hatiku kembali sakit, saat Ibu mertua punya andil membohongi aku. "Dasar lelaki serakah! Akhirnya dia yang tak bisa punya keturunan sudah gitu dibohongi pula sama Sandra," umpat Elia. Aku menggenggam cup cappucino yang menyalurkan hangat dan ketenangan pada jemariku. "Sepertinya aku yang harus balas dendam dengan mereka, Khalisa?" "Sudahlah, kamu tahu suatu saat ia akan menyesal karena ddijadikan momok dan di suruh tanggung jawab oleh Sandra." Aku bermonolog dengan cup di tangan. Rasa kopinya sudah tak seenak biasanya. "Ah lihat saja." Seolah Elia tak terima dengan sikap Mas Adi dan Sandra. "Elia." "Aku yang akan balas dendam, Khalisa." Aku hanya tersenyum saat ada teman pergantian shift kami telah berganti. *** Kami berdua berjalan ke arah tempat parkir bersama Elia, di sana aku lihat laki-laki berdiri dengan wajah ditekuk bersama sebuket bunga mawar merah kesukaanku. "Khalisa." Aku dan Elia saling tatap. Saat mas Adi mendekatiku. "Kita bukan siapa-siapa lagi, jadi jangan pergi Elia," ujarku sambil memegang tangan Elia. "Ya!" Dengan segala paksaan, aku terpaksa meladeninya sebentar. "Ini untukmu, aku tahu kamu suka mawar." Ucapan itu membuatku muak. "Kau akan tampak lebih cantik jika berdekatan dengan mawar ini." Mas Adi menyodoriku buket mawar itu. Dengan perasaan setengah gondok, aku menerima bunga itu. "Ini bunga terakhir untukmu atau ucapan selamat atas status baru kita sebagai mantan suami istri sidang putusan perceraiannya tadi pagi?" tanya Elia kesal. Aku menatap Elia yang terlihat wajah marah Elia. "Terus aku hanya ingin bicara dengan Khalisa." Mas Adi kembali menatapku. "Tolong, Khalisa, maafkan aku. Aku tahu, aku salah. Maafin, aku!" Aku mendengus. Aku menggelar tawa dalam hati. "Maaf aku mengabaikanku karena Sandra hamil. Kamu tahu itulah harapanku selama ini punya anak! Dan itu tak aku dapatkan darimu." Rasanya aku ingin tertawa mendengarkan ia bicara. "Hei ...." Aku memegang jemari dan menggenggama erat tangan Elia berharap ia tak melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu, mas. Oleh karena itu, aku maafkan!" Mas Adi menggeleng, dia lalu berpindah duduk di sampingku, meraih jemariku dan aku segera menepisnya. "Aku mencintaimu, Khalisa. Hanya saja kamu." Lirihnya sambil memandang mataku lekat. "Aku tak bisa mengabaikan janin itu!" Aku menyunggingkan senyum. "Okeh?" Mas Adi mengangguk. "Kata-katamu terdengar meyakinkan, kamu tahu kau laki-laki tak tahu diri, Adi." Seketika Elia tak bisa mengontrol emosinya. Elia mengambil bunga ditanganku dan membuangnya di bawah kaki Adi. "Apa yang kau lakukan disini? Oh membawa bunga untuk menghancurkan hati sahabatku Khalisa? Menjadi lelaki yang bangka karena bisa menghamili Sandra." Elia tertawa keras. Aku takut jika ia hilang kendali dan membongkar semuanya. "Laki-laki breng**k. Kamu hanya lelaki bod*h yang dimanfaatkan Sandra." Mas Adi terlihat bingung. "Maksudmu?" Wajahnya Mas Adi berubah pias seketika. "Suatu hari nanti kau akan lihat Khalisa memiiki banyak anak." Mas Adi tercengang dengan kata-kata Elia. "El." Elia menoleh dan meletakkan telunjuk di bibirku. "Sstt ... diamlah, Khalisa!" "Kamu akan menyesal." Elia mengulangi kata itu. Mas Adi hanya diam mematung. Aku mendengkus dan mengangkat bahu. Kesunyian hadir seketika. Gemuruh napas yang saling emosi. Aku menggigit bibir untuk meredakan pikiran buruk. Tanganku menggerakkan meraih jemari Elia dan mengajaknya pergi. Meninggalkan mas Adi yang terlihat masih kebingungan oleh ucapan Elia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN