Luka lagi

1257 Kata
Satu tahun sejak kejadian itu aku masih sama bekerja di rumah sakit. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Ada yang mengganggu pikiran. Wajah dokter Alan membayangi. Mata sayu dengan bulu mata lentik, hidung bangir dan bibir tipis yang bila tersenyum menciptakan lesung pipit di belahan pipi kirinya. Entah kenapa tiba-tiba dokter Alan memangilku ke ruangannya. "Hei,kau yang bernama Khalisa.'' Panggilan wanita paruh baya itu menyadarkanku yang masih melamun. Belum selesai mengenang masa lalu, wanita paruh baya itu sudah memanggilku. "Ya, Bu." "Tolong ya Khalisa. Jangan ganggu putraku." Aku tak menjawab. Hmm aku hanya seorang janda bukan, tak bisa aku pungkiri bahwa Mamanya dokter Alan begitu membenciku. "Kamu tak mendengarkan orang tua bicara?" "Aku tak pernah mengganggu siapapun, Bu!" Kesalku. "Cukup aku malas berdebat, kau janda kan kau tak pantas untuk putraku Alan." Oh dia ibunya dokter Alan. Wanita paruh baya itu terlihat kesal saat menatapku. Ya ucapannya begitu benar dan menyakitkan. Aku menahan jantung yang hampir melompat karena rasa kaget dan tidak percaya. Bisa-bisanya wanita patuh baya itu melabrakku. "Saya cukup tahu diri, dan anda jangan khawatir." "Awas kau ya, jika sampai putraku melawanku." Pada akhirnya, aku mengerti. Bahwa hidup tidak bertopang pada masa lalu. Sekelam apa pun itu, masa depan akan selalu berhubungan dengan masa lalu bukan. Seperti status jandaku itu juga akan menjadi bumerang buatku sendiri. Aku mengambil air minum di gelas. Dan meneguknya separuh. Sejuknya air yang mengalir di kerongkongan membuatku sedikit tenang dari ejekan mamanya dokter Alan. "Mama ada apa kesini?" tanya dokter Alan yang baru saja masuk ruangan. Kami diam. Sejenak kami dibekap kebisuan. Suasana hening, hanya embusan angin yang masuk dari pintu yang terbuka. "Tidak mama hanya menunggumu. Mama membawakan kamu makanan." Dokter Alan menatapku. "Oh, tumben, Ma" Dokter Alan mengusap kepala. Membenahi rambut yang sudah tertata rapi hanya untuk merasakan ketidaknyamanan. Bola mata dokter Alan membulat mendengar jika ada yang tidak beres dengan mamanya. Aku segera berdiri dan berjalan menjauh dari runagan itu, salahku juga aku membiarkan dokter Alan masuk dalam kehidupanku. *** Elia tertawa licik menatapku. "Kalau dipikir-pikir, dokter Alan cocok juga sama kamu ya," tukas Elia menatap ke arahku sedangkan ia fokus menyetir. Aku malas menjawab namun aku tetap membalas. "Ngawur." Elia masih fokus menyetir. "Dasar keras kepala! Aku tahu gelagat kalian berdua ya." Perjalanan menjadi hening. Elia melepaskan satu napas lelah. Pikirannya kembali terbagi. Aku memalingkan wajah menatap keluar. Langit tampak gelap. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. "Khalisa." "Hmm." "Kenapa." Aku melihat napas Elia terembus. "Tak apa, El." Elia melirikku tidak suka. Aku tersenyum menagkap raut jengkel yang tampak dari wajahnya. "Kamu itu pribadi yang menyebalkan tahu," lanjut Elia mengoceh tak jelas. Sepertinya aku juga enggan menanggapi celotehan Elia. "Baiklah. akupun berhenti berbicara untuk mengganggumu." "Bagus." Layar ponsel dalam genggaman tangan Elia menyala mengalihkan atensi Elia yang makin kesal. ''Mama tunggu di rumah, El. Cepat pulang.'' "Ada apa Mama." ''Hmm, cepatlah antarin, Mama belanja." '"Baiklah, ma.'' Elia tersenyum kearahku. "Siapa?" Elia mendesah pelan. "Mama." "Turunkan aku disini, sekalian aku juga mau belanja, El," ucapanku itu hanya Elia balas dengan senyum tipis. "Maaf ya kamu yakin disini." Tak lama Elia menepikan mobil ke kiri. Dia menempatkan mobilnya di parkiran, aku turun Aku tersenyum menatap ke arah Elia. "Terima kasih sudah diantar." "Hu um. Aku yang harusnya minta maaf." Aku tersenyum. "Tidak usah, masih ada yang harus aku beli juga." Elia manggut-manggut. "Ya baiklah." "Hati-hati, Elia." "Hu um. Aku duluan ya." Aku mengangguk dan melambaikan tangan. Aku berdiri menatap mobil Elia yang menjauh. Akhirnya aku memutuskan ke mini market terdekat. Mendorong pintu kaca memasuki mini market. Membeli roti juga air mineral juga sayur mayur yang aku beli disebelah mini market. Aku sudah menenteng satu botol air mineral juga beberapa snack, juga sayur-sayuran. Aku membayarnya dan kembali berjalan ke arah jalan raya, berniat ingin menyebrang namun kendaraan masih ramai. Dirasa sudah sepi aku menyeberang. Langkahku hampir sampai di pinggir suara klakson mengagetkanku. Bahkan aku baru mencapai pinggir jalan ketika merasakan jantungku berdetak tak karuan. Orang itu menginjak pedal rem, dan panik saat melihat aku di depan mobilnya sedang terjatuh. "Astaga! Apa itu manusia?" Suaranya terdengar olehku. Laki-laki itu membuka pintu dan berlari ke arah depan, jantungku naik turun, Usai menarik napas, laki-laki itu melihat aku menunduk dengan memegangi kepala, ia ketakutan. "Maaf aku tak sengaja." Aku sangat mengenali suara itu yang ketakutan. "Khalisa hei. Kamu?" tanya dokter Alan cemas. Aku terdiam. Tak mau tinggal diam dokter Alan mengangkat tubuhku yang dingin. Membawanya menjauhi tempat itu. Sesampainya di kursi dokter Alan menurunkan tubuhku dengan sangat hati-hati di kursi. "Khalisa itu bahaya. Kenapa kamu ada di sini hah?" "Emm, tadi aku lihat sepi." Tanganku bergetar. "Ada yang sakit?" "Hum kaki aku." "Duduk dulu, makanya jangan ceroboh, Khalisa, nah kan ini banyak darahnya lo," titahnya seraya cemas. Aku memalingkan wajah, malas menatapnya. "Astaqfirullah. Ini." Dokter Alan panik. "Mau ke dokter ya. Banyak darah ini." Aku berdesis menahan perih. "Sudah ini hanya luka kecil, dokter. Anda juga tahu ini sepertinya hanya luka luar saja. Bukankah Anda juga dokter pasti tahu hanya lecet saja." "Coba kalau mobil lain. Padahal tadi mobil aku pelan jalannya." "Iya, maaf." Dokter Alan bangkit masuk ke dalam mobil dan entah mencari apa. Aku duduk sambil menunduk, menatap kakinya benar ternyata berdarah. Saat sedang terus menunduk sambil meratapi keadaan kaki. Suara langkah rusuh terdengar mendekat. "Maaf lama. Aku nyari dulu kotak P3K di mobil." Aku tersenyum. "Ini tak apa, dok." "Diam lah." dokter Alan kemudian berjongkok dihadapanku. Dan mulai mengobati kakiku. Sesaat aku mendadak beku, aku terpana melihat bagaimana dokter Alan begitu telaten mengobati luka di kaki. Mengelap darah dan meniup-niup luka di kaki. "Lukanya hanya lecet saja, dok." Tukasku. "Ini cukup dalam, Khalisa. Diamlah." Aku terdiam. Aku hanya menatap bagaimana cara dokter Alan membalut lukaku dengan plester, begitu hati-hati dan sangat lembut. "Gimana udah enakkan kakinya?" Aku mengangguk. "Sudah." "Lain kali hati-hati, kalau jalan di lihat. Untung aku tadi pelan, maaf ya." Diam-diam aku tersenyum dalam hati. "Hmm." *** Aku bisa bernapas lega setelah Dokter Alan menarik diri dan kembali menghadap ke depan. Pria itu terlihat lega karena lukanya hanya sedikit. Aku memandang ke samping, debar di d**a belum juga reda. Dulu, dia akan menikmati suasana seperti ini saat bersama Mas Adi hampir setiap malam saat kami punya kesempatan untuk makan malam di luar. "Bisa jalan?" tanyanya setelah beberapa saat mereka saling diam. Dokter Alan berusaha mencairkan suasana. Aku memandang pria di sebelahku dengan perasaan yang entah. "Iya. Emm ini tak terlalu sakit, dokter." "Tapi tetap luka kan, masa tidak sakit?" "Hanya perih sedikit," aku menatap luka yang sudah tak terlihat karena tertutup plaster. "Yakin." "Hu um. Hanya lecet saja kan." Dokter Alan sedikit bergetar. "Kamu tahu, jika waktu bisa berputar kembali aku tak ingin kita selesai." Aku terdiam kemudian menarik napas pelan. "Sayangnya semua sudah terlambat," sindirku yang membuat dokter tersenyum miris. Dokter Alan tak menjawab. Hening "Khalisa." Aku merasa tidak nyaman saat ini. "Ya." "Maaf." Aku tak menjawab, aku terdiam karena takut keceplosan saat bicara. "Ya aku sadar aku janda kan?" Aku kebingungan harus menjawab apa. Aku terdiam menanggapi kalimat janda yang baru saja keluar dari bibirku, yang menimbulkan penasaran tak enak karena ucapanku barusan. "Aku minta maaf untuk semuanya." Aku menunduk. "Iya sudah aku maafkan." "Khalisa ...." Kalimat dokter Alan mengantung. "Ya." "Bisa jalan. Apa perlu aku bantu jalan?'' Aku menggeleng. "Dokter, ini hanya luka kecil. Aku bisa jalan kok." "Baiklah." Aku lalu berjalan beriringan melewati paving juga berbagai bunga-bunga serta pohon palm yang menjulang tinggi di taman kota. Nyatanya statusku yang kini menjadi momok untuk diriku sendiri, benar kan bahwa status janda itu semenakutkan ini. Ibu mana yang rela merestui hubungan anaknya dengan seorang janda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN