Lantas dokter Alan mengajakku pulang.
Aku masuk ke dalam mobil, aku duduk di sampingnya, hingga dengan cepat dokter Alan memakaikan seatbelt, dadaku berdebar kencang saat muka kami hanya berjarak beberapa centi saja. Gugup seketika menyerang tatkala aroma wangi tubuh dokter Alan tercium oleh penciumanku.
Aku tak bisa berkutik, tubuhku mendadak beku. Selesai dengan pelan dokter Alan mundur kemudian memakai seatbelt punyanya sendiri. Kemudian hening hanya deru mesin yang terdengar dalam ruangan mobil. Saat di dalam mobil ponsel milikku berdering.
''Khalisa, ada sesuatu yang Ayah dan Mama ingin sampaikan."
''Baiklah, Ma, bisa nanti saja ini masih dijalan.''
''Ya baiklah."
Mama memutuskan sambungan teleponnya, aku terdiam menaruh ponselnya kembali dalam dompet.
"Siapa?"
"Mama."
"Oh, jadi kuantar pulang saja."
Aku hanya menganggukkan kepala mengikuti kata dokter Alan, hingga mobil masih berjalan kembali.
***
Dokter Alan mengajakku berhenti di sebuah restoran.
"Aku sering ke sini jika merindukanmu." Dokter Alan memberitahuku.
Aku terdiam. Dadaku kini bergetar hebat.
Dokter Alan menarik napas sebelum berkata. "Aku lupa jika kamu tak pernah percaya padaku."
Aku hanya diam membeku.
"Ayo duduklah," tambah pria itu sambil mengajakku duduk.
Tempat kuliner yang cukup ramai di kunjungi banyak pasangan muda-mudi. Juga berbagai kalangan usia, tempatnya yang sejuk juga asri membuat suasana lesehan sangat digemari. Sepertinya masakananya juga enak.
"Mau makan apa?" tanya dokter Alan lembut.
"Emm, makan apa saja yang penting ada nasinya," kataku.
"Aku pesan dulu, ya."
"Hu um."
Dokter Alan memanggil pramusaji, memesan urap-urap juga ayam bakar, ikan bakar kesukaanku, dokter Alan tahu jika aku begitu menyukai Ikan bakar. Pramusaji pergi membawa catatan pesanan dokter Alan.
"Ditunggu ya, Pak, Bu." Ucap paramusaji itu.
Dokter Alan hanya mengangguk dan tersenyum.
Aku menatap ke arah sekeliling ada sebuah perahu kecil berada di tengah danau mungkin saja sedang mencari ikan.
"Orang-orang itu bekerja mencari ikan mungkin saja kehidupannya lebih bahagia dariku?" Dokter Alan berkata sambil memandangku sebentar seraya beralih menatap kegiatan orang mencari ikan di tengah danau itu.
Perasaanku tersentuh. Bukankah dirinya juga sama diabaikan aku masih memandang jauh, aku suka tempat yang baru dikunjunginya kali ini begitu menghangatkan.
"Dokter Alan, sering ke sini?" tanyaku tiba-tiba.
"Hemm."
Aku mengangguk. "Sendiri atau bersama, seseorang?"
Dokter Alan tersenyum sinis. "Sendiri."
"Oh."
Dokter Alan hanya bisa menghela napas, menahan segala kalimat jawaban yang tertahan di tenggorokan. "Please kali ini aku tahu, Mamaku membencimu."
Aku kembali terdiam.
"Aku itu nggak tahan dengan sikap mama. Dia terlalu overprotective banyak aturan dan melarang ini itu, aku nggak suka." Dengan terbata dokter Alan menjelaskan.
Aku masih menunggu reaksi pria di hadapanku yang justru diam saja. "Minumlah dulu. Jangan emosi."
"Aku telah kalah."
"Tidak ada yang kalah. Bagaimana pun orang tua yang utama bukan."
"Omong kosong apa Khalisa?"
"Kenyataan. Jangan membantah ibumu, dokter."
Aku benar-benar menyayangkan kenapa tidak ada niatan dulu mengungkap siapa yang salah? Kenapa tidak ada yang mau mendengarkan cerita antara keduanya? Apa karena aku janda mereka mengedepankan ego dan emosi? Apa di mata kedua oeang tua dokter Alan aku adalah wanita hina.
''Bahkan tanpa perlu menjawab, caraku menatapmu saja sudah menjelaskan, bahwa aku masih sangat mencintaimu, Khalisa,' bisiknya.
"Jangan dokter."
Namun ada pramusaji datang membuat aku lega. Setidaknya tak akan membahas soal kami lagi. Kami menikmati makanan dalam diam, sesekali aku hanya menatap ke arah danau seraya makan.
"Bagaimana kakimu?"
Aku tersenyum. "Aman, dokter."
Dokter Alan tersenyum getir. Kenangan lalu melintas cepat dalam ingatan. Kemudian meninggalkan perih dalam d**a. Dokter Alan memilih diam, kemudian membuka suara.
"Khalisa apakah kau masih ada rasa untukku?"
"Aku bisa apa?"
Dokter Alan diam.
"Apabila, dokter sudah mendapatkan yang indah, Janganlah mencoba mencari yang lebih indah, sehingga nantinya dokter akan kehilangan keduanya."
"Kalau begitu bantu aku untuk bisa membencimu."
Sontak, es juz yang baru saja aku seruput tertelan paksa mendengar perkataan dokter Alan.
Uhukk ....
"Pelan-pelan. Khalisa."
Aku menatapnya dengan serius. "Hmm."
Ada logika dan perasaan yang seketika bertubrukan jadi satu dalam kepala aku saat merasa peluang besar untuk bersama itu tidak ada. Namun, untuk saat itu dia bergeming tanpa mengiyakan atau menolak. Dia tak ingin ada imbas besar apalagi jika sampai salah mengambil keputusan. Karena ada sebuah nama seorang ibu yang tak setuju.
"Maaf." Suara dokter Alan mengalihkan atensiku.
Aku diam menatap santai ke arah dokter Alan.
"Khalisa."
Aku menarik napas diikuti kerutan dalam di pelipis. Aku malas berdebat dan membahas masa lalu yang tidak ada gunanya, toh ia orang tuanya juga tak setuju. Aku berdecak malas aku hanya butuh waktu untuk sendiri sekarang.
"Kita masih sahabat bukan," ujarnya santai, lalu menyeruput jus di gelasnya.
"Ya."
Dokter Alan mengangkat bahu. "Aku ingin kita bersama." Dokter menatapku lekat.
"Kau yakin? Ini Mamamu yang tak suka?"
Dokter Alan menggeleng. "Aku ingin kamu menjadi milikku."
"Semudah itukah, kamu pikir semudah itu membalikkan telapak tangan? Meminta restu ibumu''
"Aku tidak bisa selamanya memaksakan perasaanku memaksa untuk mencintai orang lain? Ada hal-hal yang tak kamu ketahui, Khalisa."
"Aku tidak mengerti dan tak perlu tahu, dokter."
Dokter Alan terdiam. Dia menahan napas saat perkataan Khalisa terdengar.
"Aku punya kehidupan sendiri. Aku bekerja dan mencari uang jangan libatkan aku dengan ibumu." Aku menunduk.
"Khalisa?" Dokter memastikan aku masih menatapnya.
Aku mengangkat wajah dan menatap dokter Alan. "Dan itu tak bisa mengubah apapun. Suka tidak suka itulah kenyataannya mamamu tak metestui kita"
Dokter Alan terdiam menunduk.
***
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena hujan turun dengan derasnya. Sesekali aku menoleh takut kepada dokter Alan. Semenjak masuk ke mobil sampai sebentar lagi mereka sampai di rumah, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Dadaku berdebar.
"Khalisa ...."
"Ya."
"Kamu marah?" Dokter Alan bertanya tanpa menatap wajahnya.
"Kenapa marah?"
Mataku terpejam menahan gemuruh sesak di d**a. Masih jelas di pelupuk mata saat ia dulu berlalu meninggalkan dokter yang hanya mampu menatap nanar ke arahku. Berjuta tanya tampak jelas dari kedua netranya, tetapi, aku berusaha untuk tak memperdulikan makna yang tersirat di matanya itu. Dan berusaha untuk bisa melupa.
"Aku menyayangimu."
Aku meremas kuat kedua tangan. Mencoba menahan nyeri laksana ribuan jarum menusuk di hati.
"Aku bisa membantah dan kita menikah Khalisa."
"A--apa," sahutku lemah.
"Asal kamu iya akan aku usahakan," ucapnya penuh perhatian.
Aku terdiam.
"Cobalah pahami maksud dari permintaanku tadi," sambung dokter Alan lagi.
"Den. Percayalah ... apa kata mamamu benar, semua yang kita sukai bisa jadi yang terbaik untuk kita. Pun sebaliknya hal atau jodoh yang kita sukai belum tentu juga baik untuk kita. Percayakan skenario hidup sudah ada yang mengatur."
Sesak kembali aku rasakan.
"Tapi. Akan aku buktikan ucapanku, Khalisa."
Aku menatapnya tak tega yang sejujurnya ia juga begitu sakit.
"Tidak, aku tak sanggup jika mamamu yang tidak merestui."
"Khalisa."
"Percayalah suatu saat nanti kamu akan mendapatkan gadis yang baik, dokter. Permisi."
Aku membuka pintu mobil dan pergi, meninggalkan semua kenangan pahit yang begitu melukai hati.