"Khalisa, Papa mohon. Apa menurutmu, kisah kamu dan Adi sangat baik. Sekarang turuti kata Mama dan Ayah. Menikahlah dengan pilihan Ayah dan Mama." Perkataan Ayah saat berkunjung ke rumahku.
Deg
Aku tersenyum miring dan berbalik kembali duduk. Mungkin saja langit akan tertawa mendengar ucapan Ayah saat ini.
Salah ini salah, sudah pasti ini salah, memang sudah satu tahun aku dan Mas Adi berpisah tapi tidak harus aku cepat-cepat menikah kan.
"Khalisa, Ayah mohon. Setidaknya biarkan kami melihatmu bahagia."
Aku mendapati Ayah begitu tertekan, aku melihat dan merasakan kepahitan dalam suara itu, juga sepasang netra yang meredup. Mama sesaat berkaca-kaca.
Jujur memang aku gagal dalam pernikahan. Tapi aku gagal juga menjalin hubungan dengan dokter Alan.
"Khalisa ...."
"Aku tak mau Ayah titik," kesalku.
Mama menggeleng kuat. "Tidak, Khalisa. Bukan seperti itu. Kami hanya tidak ingin kamu salah pilih lagi."
"Ma apa ini gak terlalu cepat?"
"Khalisa percaya sama, Mama ya."
Aku memegang gelas lalu meneguknya. Berharap jika Ayah dan Mama akan kembali tak menjodohkanku. Mereka masih membisu. Jika harus jujur, hatiku seperti disayat saat mendengar akan dijodohkan. Yang aku dengar dari Zaidan jika laki-laki itu keluarga kaya raya.
"Khalisa kali ini dengarkan, Mama."
Terlebih benar kata Ayah jika saat ini memang benar adanya aku begitu rapuh saat satu tahun yang lalu aku berpisah dengan Mas Adi juga kandasnya hubungan dengan dokter Alan. Kurasa aku harus banyak-banyak bersyukur, karena masih bisa bernapas hingga detik ini. Namun aku sedikit gelisah mengingat penawaran Ayah dan Mama tadi.
"Khalisa, mama mohon."
Berharap jika Ayah dan Mama bisa mengurungkan niatnya untuk menikahkan aku dengan laki-laki itu. Yang tak lain adalah anak dari sahabat Ayah.
Astaga perjodohan macam apa ini?
***
Satu jam kemudian aku sudah sampai rumah sakit, karena aku istirahat tadi izin pulang. Karena mama dan Ayah datang ke rumah.
"Khalisa. Pasien nomor 103 saatnya ganti infus." Ucapan Elsa menyadarkanku dari lamunan.
"Ohya?"
"Nenek minta, jika kamu yang harus gantiin."
Aku tersenyum. "Masa sih?"
Elia mengangguk. "Iya."
Aku mengangguk mengiyakan, membawa peralatan dan masuk ke dalam kamar inab itu. Lalu mengganti dengan infus yang baru.
"Bagaimana, Bu. Sudah membaik? Apa ada keluhan lainnya?"
Wanita paruh baya itu menggeleng. "Tidak ada. Alhamdulillah, sudah mendingan, Suster."
Aku memeriksanya lagi.
"Syukurlah, tensinya juga sudah normal. Nenek InsyaAllah jika tidak ada keluhan lagi besok boleh pulang. Tunggu kabar dari dokter Alan ya." Jelasku.
Terlihat wanita yang bernama Nenek Asti itu mendengus kesal. "Yah, kalau aku pulang enggak bisa lagi melihat suster cantik lagi dong?"
Aku tersenyum memegang tangannya. "Ya kalau kangen boleh kok menjenguk aku kesini, Nek."
Disaat orang lain senang akan pulang, Nenek Asti malah menolak dengan alasan merindukanku aneh sih ini tapi ini nyata.
"Boleh memangnya?"
"Tentu saja boleh, tapi janji Nenek akan rajin makan dan minum obat."
Nenek itu tersenyum. "Ya baiklah, nak Khalisa."
"Baiklah, saya permisi. Nenek cepat sembuh dan saya mau pulang karena jam kerja saya sudah habis."
"Terima kasih, Sus. Selama ini merawat Nenek dengan baik."
Aku melengkungkan senyum. "Sama-sama, Nenek."
Aku sangat berterima kasih karena orang tuaku membiayaiku hingga bisa lulus sebagai seorang perawat. Tak mungkin aku lupa akan jasanya hingga saat ini. Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke area parkir. Semburat senja yang menguning di ufuk kulon terbingkai indah di balik spion motorku.
Aku mengemudi dengan kecepatan pelan. Memasuki gerbang rumah, aku berpapasan dengan penghuni sebelah rumah. Mereka menyapa hangat. Aku masuk segera mandi dan merebahkan tubuhku diatas kasur ukuran mini. Rasanya aku begitu lelah dengan ujian yang kini begitu dekat denganku.
Lelah aku begitu lelah dengan semua ini, aku tidak sanggup untuk memperlihatkan keadaan ini pada orang lain. Biarlah, biarkan aku sendiri hingga sesak ini mereda. Tubuhku semakin lemah, kini aku meringkuk di pembaringan, tak lama kepalaku terasa begitu berat.
***
Pagi tampak begitu cerah, aku kembali bekerja menuntun sepeda motorku keluar dari parkir. Bersamaan Zaidan yang baru saja datang.
"Zaidan ada apa?'' tanyaku setelah melihat Zaidan datang tiba-tiba.
"Mbak mau kemana?"
"Mau kepasar sih beli belanjaan. Ada apa kenapa murung begitu?" tanyaku penasaran.
"Jadi aku kesini karena, Mama sakit Mbak."
"Mama."
Deg, ada apa dengan Mama?
Aku menunduk memegangi ujung bajuku, berharap jika mama baik- aik saja. Aku memilih diam untuk bisa melampiaskan rasa sakit yang teramat pedih ini. Air mata menggenang menutupi pandangan. Mobil Zaidan terus berjalan, segera aku menghapusnya. Sampai di rumah sakit aku berjalan menemui Mama yang sedang sakit.
"Ada apa ya, Zaidan dengan Mama?" tanyaku begitu takut akan kehilangan, Mama yang sudah begitu banyak berjuang untukku.
"Entahlah, semoga, Mama baik-baik saja, tadi Mama jatuh sih, Mbak."
Sampai di kamar paling ujung di lantai satu, aku masuk dan menemui Mama. Tubuhku merosot seiring dengan air mata yang luruh tak terkendali. Aku memukul dadaku, mencengkram baju bagian d**a yang teramat sangat sesak ini.
Ayah bilang jika Mama tak mau makan sejak kemarin dari sini.
"Kenapa, Ayah sama Mama?"
Ayah terdiam.
Mungkin itu kata yang tepat untukku yang menganggap bahwa Mama akan baik-baik saja saat aku menolak di jodohkan. Namun nyatanya aku salah.
"Khalisa."
Tangis yang kuredam, nyatanya tak mampu kutahan. Aku tersedu, mengeluarkan sakit yang teramat pedih di dalam d**a. Dan memeluk Ayah yang selama ini ada untukku.
"Sabar, Khalisa."
Aku menganggukkan kepala tanpa bicara.
"Mamamu, hanya ingin kamu menikah."
Namun, sakit itu masih tertanam dan mungkin tidak akan pernah hilang.
Apa semuanya akan puas, menjebakku dalam perjodohan. Astaga apa ini lelucon. Aku bahkan belum pernah melihat wajah lalaki itu. Tak sedikitpun Ayah dan Mama memberiku celah untuk membela diri. Aku kesal pada diriku sendiri yang telah menjadikan aku calon pengantin dadakan. Bahkan tak pernah terbesit dalam benak atau dalam mimpi sekalipun jika aku kan di jodohkan.
"Ma sadarlah."
"Khalisa kau kah itu!" Suara samar Mama terdengar.
Aku tersenyum. "Ya ini Khalisa, Ma."
"Sayang."
Aku memeluknya erat.
"Mama ngak kuat, Khalisa."
"Tidak, Mama harus sembuh. Oke Khalisa ikuti kemauan Mama. Menikahi laki-laki itu."
"Kamu serius?"
"Ya, Ma."
Senyum mengembang dari wajah ayu Mamaku. Ya aku hanya seorang anak yang harusnya patuh pada orang tua kan.
***
Satu minggu setelahnya, aku hanya diam, tak berkutik menatap cermin, ada seorang MUA yang meriasku. Dengan kebaya bruklat putih tulang telah melekat ditubuhku. Ya begitulah aku bagaikan di neraka saat ini. Menjadi pengantin yang tak semestinya.
"Kau sangat cantik, Khalisa."
"Kau tahu, Khalisa. Mama berterimakasih semoga bahagia ya, Nak."
"Ya, Ma."
Aku hanya bisa pasrah, apapun itu.
"Khalisa kenapa diam?"
"Jangan bercanda, Elia. Aku tahu kamu sedih, bagaimana sahabatmu ini akan menderita," ucapku diikuti helaan napas panjang.
Elia memalingkan wajahnya. "Tidak juga."
"Kau sedang mengejekku. Mana bisa begitu. Kau sama gil*nya dengan keluargaku."
"Tapi itu bisa membantumu, melupakan lelaki brengs*k, Adi itu, juga sipengecut dokter Alan," ejeknya.
"Kau tidak sedang bercanda, kan? Sudahlah aku muak mendengarnya."
Elia tersenyum mendengarnya. Dan memelukku, aku tahu dalam hatinya ia juga ikut sedih.
"Mmm! Kau tahu jika pilihan otang tua tak pernah gagal."
"Iya. Semoga saja. Kalau tidak ia kabur sama seperti Adi."
"Hust, gak boleh begitu, Khalisa."
Ayah dan Mama menjanjikan komitmen yang dibalut kesepakatan pernikahan. Mereka memilihian lelaki itu untukku, ah sudahlah.
Ayah dan Mama menunyunku membuat tubuhku seolah lemah. Aku berjalan dan duduk di sebelah calon mempelai lelaki itu. Mama menggenggam erat tanganku.
"Bisa kita mulai saja?" Pak penghulu bertanya dan diiyakan oleh para sanak saudara di dalam ruangan.
Aku menunduk bahkan aku belum melihat wajah lelaki itu seperti apa? Beberapa kali Mama memeberikan aku foto namun tak pernah aku lihat saat prosesi lamaran aku juga masuk kerja. Ah gil* rasanya disaksikan anggota keluarga, jika sebentar lagi pernikahan ini sah di mata hukum dan agama. Mama juga tangannya begitu dingin menatapku sejenak, kemudian mendengar prosesi akad nikah dengan hikmat.
Dan waliku adalah Ayahku sendiri.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
Aku hanya menunduk saat mencium punggung tangannya dan saat ia memasukkan cincin di jari manisku.
Mungkin ini adalah awal penderitaanku, namun demi Ayah dan Mama aku rela melakukannya. Diakhiri dengan do'a oleh Pak Ustadz dan diaminni oleh para tamu undangan yang hadir, hanya keluarga juga tetangga Ayah.
"Khalisa semoga bahagia ya. Ingat jadi istri yang patuh."
"Ya, Ayah."
"Khalisa jaga diri baik-baik, ingat kamu akan bahagia, Mama sayang kamu."
Aku mengangguk dan menangis. "Ya, Ma."
Aku sudah pernah merasakan sakit hati. Menikah dengan seseorang Aditya yang kupikir akan membahagiakanku, nyatanya apa aku yang terluka. Sekarang rasanya aku seperti bermimpi, malah terjebak di pernikahan konyol ini.
Kami sampai di rumah mewah lelaki itu, sekilas aku meliaht punggung suamiku itu menjauh masuk dan aku berjalan ditemanii oleh seorang wanita, saat aku masuk ada suara seorang wanita yang memanggilku.
"Khalisa."
Aku berhenti berjalan menatap suara itu.
"Nenek."
"Ya ini, Nenek. Selamat datang di rumah kami, Khalisa. Kamu menjadi cucuku."
Astaga apa aku tak lagi bermimpi ternyata wanita itu adalah nenek suamiku.
"Istirahatlah, kamu pasti capek."
"Ya, Nek."
Di tepi ranjang aku menatap ke arah sekitar, kamar paling mewah yang pernah aku lihat. Dengan tirai halus dan mengkilat, sofa empuk dan meja kokoh dengan ukiran dari kayu jati yang terkesan begitu elegan, dan sebuah ranjang besar berukuran king size berpelitur mengagumkan dengan warna keemasan.
Juga cermin rias yang begitu wah, lemari semua berbahan dari kayu jati. Aku duduk ditepi ranjang mengamati setiap ruangan yang begitu menakjubkan. Memang sangatlah berbeda antara aku dan Luna bagaikan langit dan bumi, Naila yang begitu kaya sedangkan aku. Astaga aku gugup saat suara derap langkah kaki mendekatiku, aku memalingkan wajah hingga terdengar suaranya pelan.
"Emm, Khalisa Mutia."
Aku terdiam dan menunduk.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya Nenek membujukmu untuk menikah denganku, tapi aku menikah hanya untuk membuat Nenek bahagia saja. Kau akan mendapatkan hak istimewa di rumah ini, tapi tidak untuk hatiku. Aku harap kau berbesar hati dan seiring berjalannya waktu kau akan memaafkanku."
Hening
Aku hanya diam dan terkejut.
"Kamu harus mengerti soal ini."
Aku terdiam.
Terdengar lelaki itu sudah berjalan meninggalkan kamar yang telah dihias dengan indahnya ini. Aku berbalik menatap punggungnya yang kian menjauh dari balik pintu.
"Rupanya pernikahan ini lebih menyeramkan dari pada di penjara."