Bertemu setelah Satu Minggu

1286 Kata
Satu minggu setelah pernikahan konyol ini aku masih bekerja dan masuk siang, masih sama aku belum pernah melihat lelaki itu kami hanya berpapasan aku tahu dia tidur di sofa setiap malam hari, bagaimana bisa lelaki yang telah bersetatus sebagai suamiku itu begitu angkuh. Rumah yang besar dengan banyak asisten rumah tangga membuatku sedikit bingung. Bahkan kamarku saja besarnya melebihi sepuluh kali lipat kamar rumahku. Sore itu selesai menemui Mama yang keadaannya makin membaik, aku memeriksa beberapa pasien, selesai aku kembali ke ruangan kerjaku. Elia mendekatiku seraya berbisik. "Gosipnya dokter Tria akan resign," ucap Elia padaku. "Resign kenapa?" tanyaku heran. "Katanya sih resigh gara-gara disuruh sama calon suaminya tuh, dokter Alan. Kan sebentar lagi mereka menikah, Lisa." Aku tersenyum. "Kamu kuat, dengar ini?" tanyanya. "Kenapa memangnya?" tanyaku balik. "Setahu aku sih dokter Alan itu menyukaimu deh, dan lagi ia kalah cepat karena kamu sudah menikah." "Mana ada dia menyukaiku tapi mau menikah dengan dokter Tria. Jangan ngadi-ngadi deh, El." "Beda kali tatapan dokter Alan ke kamu selama ini." "Gak jelas sudah ah gosip saja." Di tengah-tengan percakapan kami, Sesil datang, menyahut percakapan kami. "Bukan resign, El. Hanya cuti. Aku iri sungguh pasangan yang sempurna ya mereka." "Cuti?" tanya Elia tak percaya. "Iya, karena mau menikah bulan depan katanya." Deg. Elia menatapku. Gadis itu menatapku dengan sorot mata yang sulit aku tafsirkan. "Jangan pingsan ya, Lisa." Bisiknya. Aku menggeleng. "Tak ada gunaanya pingsan. Toh kami hanya atasan dan bawahan saja." Lirihku pada Elia. "Coba lihat ini, undangan pernikahannya." Sesil memperlihatkan undangan itu lengkap dengan foto prewedding membuat ulu hatiku bergedik nyeri. Aku menatapnya sekilas, sungguh pasangan yang serasi. Satunya anak dari pemilik saham rumah sakit ini dan satunya juga seorang dokter specialis THT muda yang kompeten juga. Ah bukankah itu sempurna. Apalah arti diriku yang hanya seorang suster yang bahkan sudah menikah dengan lelaki yang angkuh itu. Suamiku itu terlalu sulit untuk menjadi nyata untukku. Nyatanya aku kalah beradu dengan harapanku. Sehingga tercipta hanya sebagai ilusi yang tak henti menghantuiku. "Yah sebenarnya masih cantikan kamu sih, Khalisa." Jelas Elia. "Ya sih cantikan Khalisa, meskipun jarang pakai make up ia tetap cantik, tapi lebih beruntung, dokter Tria. Mendapatkan dokter Alan yang tampan itu." Jelas Sesil menatapku seraya tersenyum. "Sudahlah, jangan gosip terus." "Eh ngomong-ngomong kalian berdua, tak diundang?" tanyanya. Aku dan Elia saling tatap dan kemudian menatapnya lalu menggeleng bersamaan. "Kok, padahal semuanya diundang, lo." Jelas Sesil. Aku sedikit shok, akhirnya aku bisa melihat dokter Alan menikah. Bayang-bayang itu tergambar kembali dalam lembaran ingatanku, tak bisa dipungkiri jika dokter Alan selalu memperlakukan aku begitu manis. *** Siang berganti petang, saatnya aku kembali pulang di rumah penjara itu. Aku membelokkan kendaraan menuju komplek perumahan elite. Berhenti di sebuah rumah besar di sana, lalu aku masuk ke dalam. asisten rumah tangga menyambutku. Dengan segala kemewahan yang terpampang, dia masuk membawakanku makan malam. "Non, Makan dulu. Den Hannan pesan jika, Non Khalisa harus makan." Aku tersenyum miring sok perhatian. "Taruh saja disitu, Mbak." "Mau ditemani, Non?" "Tidak usah, Mbak. Biar aku mandi dulu." "Sudah saya siapkan, handuk juga air hangatnya, Non." Aku mengangguk. "Iya, Mbak, makasih." Selama seminggu ini ialah yang mengurusku, dari makanan pakaian dan semuanya. Entah mengapa aku seperti masih gadis saja, lucu sekali sebuah pernikahan yang sakral layaknya sebuah drama. Dan dalangnya orang tuaku sendiri. Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat, rasanya segar sekali. Menghilangkan penat setelah bekerja beberapa jam. Selesai aku menganti baju dan merebahkan tubuhku, tanpa menyentuh makanan itu ternyata aku sudah tertidur sampai pagi, Suara ketukan pintu membangunkanku, aku terkejut hari ini pegantianku masuk pagi. Segera aku mandi dan menganti pakaianku. "Sarapan dulu, Non. Jangan membuat saya dimarahi sama, Aden. Saya diomelin gara-gara, Non tak menyentuh makanan semalam." Jelasnya. Aku menatapnya tak tega. "Aku sudah telat, Mbak." "Non." "Ya baiklah. Aku meneguk segelas s**u dan berjalan seraya memakan roti. Sampai di bawah aku melihat Nenek yang sudah kembali dengan senyum diwajahnya." "Khalisa." "Maaf aku buru-buru, Nenek telat." Dia tersenyum. "Ya sudah hati-hati. Suruh Pak Karjo yang antar." "Nggeh, Nek." Aku hanya mengangguk, berjalan menuju parkiran dan mengambil motorku. "Nak Lisa. Mama titip sesuatu boleh?" Aku mengangguk meskipun ragu. "Apa, Ma? tanyaku balik. "File, Hannan ketinggalan sedangkan hari ini dia ada meeting, tapi kaki Mama kesleo kyaknya mau antar ke kantor" Wanita paruh baya yang masih begitu cantik itu tersenyum ke arahku. "Oh, sini aku bantu, Ma." Aku menuntun Mama mertuaku menuju kursi di dekat pintu masuk. "Tolong ya, Khalisa pastikan file nya sampai di tangan Hannan." Aku mengangguk binggung, karena aku hanya memiliki waktu setengah jam saja. "Emm ...." "Gini deh, biar cepat, Pak Karjo yang akan mengantarmu." "Tapi, Ma." "Ini filenya, Mama enggak mau tahu. Antar kalau enggak suamimu itu sama Papanya nggak bisa meetingnya nanti." Aku mengangguk pasrah. "Baiklah, Ma Aku berangkat ya. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam, Hati-hati, Nak." "Iya, Ma." *** Aku berangkat diantar sama Pak Karjo, aku sedikit binggung kenapa aku yang harus mengantarkan ada juga Pak Karjo. Bahkan Ayah berhasil menarikku dari lubang pernikahan yang gil* ini, aku tak pernah bisa berpikir dengan jernih. Berhubungan dengan lelaki kaku, sengak seperti ini bagiku sangat menyiksa. Aku hanya bisa tertawa saat pertama kali aku datang di rumah mewah ini, dan ditolak mentah-mentah oleh lelaki yang bernama Hannan Mirza itu. Mobil bergerak di depan kontar perusahaan besar. Aku turun disambut oleh Satpam yang bekerja disitu. Mereka berdua mengangguk serempak bergegas aku masuk. Lucu bukan, bahwa hidup itu hanya serangkaian perjalanan yang harus aku jalani sebelum kembali pulang. Semua yang ada pada diri ini tidak lebih hanya titipan. Mau tidak mau. Suka tidak suka, dialah suamiku. Namun, saat kembali mengingat bahwa perlakuan nya padaku sangat dingin, saat itu aku mulai belajar arti sebuah kata ikhlas. Ah aku rasa aku harus buru-buru waktuku tak banyak. Wanita yang mengantarkanku menunjuk dimana acara meeting berada, sepertinya akan segera di mulai. Aku mengetuk pintu dari ambang pintu. Semua orang menoleh ke arahku, aku hanya menunduk menunggu ada orang yang akan bertanya padaku. "Siapa?" Suara dari dalam membuat dadaku kian berdetak mau keluar. "Tuan Hanan." Hening, hanya tatapan mereka yang terus mengimidasiku, sesaat aku menunduk. "Ya, saya. Anda siapa?" tanyanya tanpa dosa. Aku mendongak menatap ke arah suara. Aku memalingkan muka, lalu tertawa. Oh itu rupanya orangnya suamiku, tapi entah kenapa mendengar langsung dari mulutnya, malah menimbulkan rasa nyeri yang sulit kumengerti. "Khalisa," jawabku terbata. Semua yang berada di dalam terlihat kebingungan, terdiam masih menatapaku. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatiku, dia menatapku tanpa kedip, demi mengalihkan debaran hati karena tatapannya, aku mengedarkan pandang ke sekeliling. "Kau Khalisa?" Aku mengangguk. Dan menyodorkan file titipan dari Mama Berna. "File Anda ketinggalan. Mama menyuruhku mengantarkan." Jelasku singkat. Dia mengambilnya dan aku tak suka dengan tatapannya. Sekejap kemudian, aku teringat akan tujuanku kemari dan harus segera berangkat bekerja. "Terima kasih." Tidak ada jawaban dariku untuk sesaat. Hanya terdengar suara napasku yang berat menahan emosi. Aku mengangguk dan berbalik melangkah pergi. Ikhlas tidak semudah yang diucapkan. Butuh perjuangan berat melakukannya. Menahan nyeri dalam hati. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya. Pasti ada hikmah dan pelajaran di setiap garis kehidupan aku rasakan. Itu pula yang terjadi pada hidupku. Mungkin selamanya hanya hidup dalam keraguan dan luka. Mungkin aku slaah satu dari sekian banyak wanita di dunia ini, yang setelah satu minggu pernikahan baru melihat suaminya sendiri. Astaga lelucon apa ini. Kuhela napas pelan. Dan memasuki mobil mewah milik keluarga Tuan Hanan ini. Aku menoleh ke arah atas sebentar. Sebelum mobil ini membawaku ke rumah sakit. "Khalisa, sudah sarapan?" tanya Elia berlari mengikuti . "Alhamdulillah belom baru minun s**u saja." "Serius." Aku mengangguk. "Iya." "Aku ada nih, Mama yang masak." Elia menyodorkan sarapan padaku. "Asyik kesukaanku ini. Masih ada waktu nggak." "Masih, ayo. Aku temani." Kami pun berjalan ke arah kerjaan, alhamdulillah masih ada sisa waktu lima menit. Itu artinya aku bisa sarapan dulu lapar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN