Pura-pura Bahagia

1430 Kata
Sepanjang jalan menuju pulang, aku sama sekali tak berniat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tentang pernikahan ku dengan Zaidan. Aku sudah cukup memiliki mereka keluarga yang begitu menyayangiku. "Sudah sampai, Mbak." Terlalu berpikir, aku tak sadar mobil yang disewa Zaidan telah berhenti di halaman rumah. Aku mengembuskan napas. Dan masuk ke rumah. "Yakin, Mbak nggak pulang." "Aku hanya ingin istirahat sebentar, Zai." Zaidan mengangguk. "Iya, istirahatlah. Tapi Mbak Dan Mas Hanan baik-baik saja kan?" Aku semakin menunjukkan raut wajah tak suka. Bagaimana pun mereka selama ini begitu menyayangiku. Tak mungkin aku ceritakan semua itu bukan. "Tak usah dipikirkan, aku baik kok. Bagaimana skripsi kamu?" tanyaku mengalihkan pertanyaan itu. "Ya begitulah, aman, Mbak." Langkah Zaidan menuju dapur dan membuat makanan untukku. Bahkan anak itu selalu rajin memasak dari dulu harusnya jadi chef. Kami melepas rindu berbincang hingga tak terasa sudah habis magrib. Usai makan malam, aku menemani Zaidan bercerita sejenak, aku nyaris tertidur ketika Zaidan memegang punggungku. Cepat-cepat, beranjak. Zaidan mengantarku menuju rumah besar itu lagi. "Mbak, sudah sampai. Malah melamun." Zaidan mengagetkanku. Aku sibuk mencari-cari alasan sekaligus jawaban atas keresahan yang timbul tiba-tiba sampai tak sadar rupanya kami telah sampai di rumah milik keluarga besar Hanan. "Terima kasih, jaga rumah ya." "Iya beres, Mbak." "Hati-hati." Aku turun sementara Zaidan melajukan mobilnya dan aku hanya bisa menatap pasrah mobilnya yang kian menjauh. Pikiranku lelah sebab dipenuhi beragam prasangka. Entah aku harus memasuki rumah penjara ini lagi. Pelan-pelan aku masuk, mengendap-endap berharap semua orang dalam rumah besar ini sudah pada tidur, aku membuka pintu pelan. Untung ada Mbak Tun yang menungguku dibalik pintu. Karena memang hari sudah beranjak malam. "Non Khalisa, belum pulang?" tanya Hanan pada Asiaten rumah tangga yang belum aku ketahui siapa. Aku dan Mbak Tun melangkah memasuki rumah dengan pelan. Hingga jelas suara lelaki itu aku dengar. "Belum, Den." Wanita paruh baya itu sepertinya menjawab. "Menelepon rumah?" tanyanya lagi. Apa aku tahu nomor telepon rumah ini, kesalku. "Nggak juga, Den." Aku memijit kening sendiri sambil memejamkan mata. Setelah mengembuskan napas kasar, aku menatap lurus ke tengah ruangan, terlihat lelaki itu melangkah pergi juga wanita paruh baya itu. Bergegas aku dan Mbak Tun naik ke atas tangga dan segera masuk ke dalam kamar. "Non, sih. Pulangnya telat jadinya, Den marah." "Ya maaf aku masih ada urusan, Mbak." "Ya sudah makan dulu. Aku tungguin. Bisa-bisa kalau, Non ngak makan gajiku bakalan dipotong sama, Aden." Aku mengerjitkan dahi. "Hah, apa iya?" "Belum tahu saja kalau, Den Hanan marah. Non." "Kenapa?" tanyaku curiga. "Serem." Lelah berpikir dengan ocehan Mbak Tun, aku memutuskan menganti pakaian lalu makan malam. Karena Mbak Tun membuntutiku terus. Selesai aku mandi dan merebahkan tubuhku diatas ranjang. Pikiran-pikiran buruk kadang mengganggu tidurku sepanjang malam. Sementara di lain waktu, kesedihan melandaku tanpa henti. *** Fajar kekuningan diufuk timur sudah mulai terlihat, aku membuka cendela menatap jauh pegunungan di balik bangunan bertingkat. Waktu terus berjalan. Aku belajar untuk menerima semua yang terjadi dalam hidup sebagai sebuah takdir. "Non, diundang sama, Tuan Cahyo dan Nyonya Berna untuk sarapan di meja makan. Deg Aku memalingkan pandangan, menolak tapi gimana caranya? "Malas." "Cepatlah, Non. Non ngak kasihan apa kalau aku dimarahin sama Aden." Aku menelan ludah, berupaya sekuat hati agar keberanianku tak luruh karena bertatapan dengan keluarga besar ini. Dan terpaksa aku turun mengikuti Mbak Tun dibelakangnya. Saat aku tiba semua menatapku, aku sedikit gugup dan menunduk. "Khalisa, sini duduk, Nak." "Iya, Ma." Aku mendongak mencari bangku yang kosong. Ternyata di sebelah Mama Berna. Aku berjalan mendekati Mama. Kami hanya diam menikamati sarapan tanpa ada percakapan. "Kalian harus sering bertemu, agar cepat berkomunikasi satu sama lain? Agar Khalisa bisa cepat hamil." tanya Nenek pelan. Hannan tersedak dengan cepat Mama mengabilkan air minum. "Hati-hati, Hanan." Aku menggigit bibir. Sepasang mataku tiba-tiba memanas. Mama Berna mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku dibawah meja. Aku menatapnya lalu beliau mengangguk berusaha menenangkanku Hanan menggeleng. "Kenapa wajar kan, Muna akan punya seorang adik." "Nenek." Bentak Hanan Hanan menatapku malas. Aku begitu tak punya muka dihadapan semuanya. Nenek malah membuat suasana sarapan menjadi panas. Kali ini, rasa bersalah menguasai dadaku. Harusnya pernikahan ini tak aku lakukan. Rasa sakit berlahan memudar ketika hatiku mencoba ikhlas. "Nenek ...." Mama Berna mengejar Nenek. Hanan anaknya yang angkuh itu melukai hati neneknya. Aku hanya menunduk menahan malu, bagaimana bisa aku ditolak mentah-mentah oleh seorang lelaki yang telah bergelar sebagai suamiku itu. "Tidak ada yang salah, Khalisa. Sabar karena Hanan memang dingin," ucap, Mama meyakinkanku. "Tapi … saya rasa," jawabku penuh penekanan. "Khalisa, Mama akan selalu ada untukmu, jangan takut ya. Ingat hanya soal waktu saja." Wanita paruh baya itu memelukku dengan erat berusaha menengkanku. Aku tersenyum miring, wanita yang tidak pernah dicintai namun harus dia nikahi karena sebuah perjodohan. Sekali lagi aku tidak berhak kecewa, sakit hati atau menangis. Bahkan ini resikonya karena aku sendiri yang telah memutuskan menyanggupi permintaan perjodohan ini. Aku tak ubahnya sebatang pohon bukan, yang telah habis ditelanjangi oleh kemarau. Melewati hari-hati sepeti lelucon di sebuah pertunjukan. *** Seminggu sejak kejadian memalukan itu, aku siap-siap mau berangkat kerja malam. Hari ini aku bekerja di jam malam. Bersiap dengan memakai jaket dan mengambil tas juga flatshoes. Aku membuka pintu tinggi dan kokoh itu berjalan dengan pelan menuruni tangga. Terlihat Papa Cahyo dan laki-laki itu mereka sedang mengobrol, mungkin saja soal perusahaannya. Enak ya mereka duduk santai. Tidak seperti aku harus kedinginan menyongsong pergantian malam gelap bersama rintik-rintik gerimis, bersama udara malam menelisik kulitku. "Khalisa." Aku tersenyum dan berhenti dan menatap dua lelaki beda usia itu. "Mau kemana?" tanya Papa Cahyo menatapku curiga. "Emm, Khalisa masuk malam. Pa." Sekilas aku menatap Hanan yang tak menghiraukan aku, ia melihat ke arah lain. "Oh, masuk malam." Aku hanya mengangguk. "Nggeh, Pa." "Kalau begitu diantar sama, Pak Karjo saja ya." Aku menggeleng, "tidak, Pa. Biar Khalisa naik motor saja. Permisi." "Ini sudah malam, Khalisa. Nggak bagus naik motor sendiri. Biar Hannan yang antar." Deg. Hanan menegakkan wajah. Bukan membalas perkataan sang Papa, tapi pandangan Hanan langsung mengarah padaku. Aku memalingkan muka. Aku tak sanggup melawan tatapan yang menyorot tajam itu. Kepalaku berdenyut. Ada hancur dan sakit yang sulit untuk dijelaskan. "Khalisa sudah biasa. Pa. Khalisa pamit. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Khalisa." "Iya, Pa." Aku berjalan menuju teras depan mengambil motorku, namun Pak Karjo mendekatiku lalu menahanku. "Non, biar saya yang antar." "Tak usah, Pak." "Non. Jika saya tak mengantar, Non Khalisa. Tuan Hanan mengancam akan memecat saya." Aku menggeleng pelan. "Baiklah." Mobil akhirnya melaju di jalanan dengan kecepatan sedang. Tak ada yang berniat membuka suara sampai akhirnya kami tiba di tempat rumah sakit. Aku segera turun setelah itu mobil kembali melaju meninggalkanku. Pandangan Elia terpaku sejenak saat melihatku di hadapan. Senyum semringah terus terlukis indah di bibirnya. "Wah, siapa yang antar? Mobilnya bagus sekelas dengan mobil, Dokter Alan?" "Tau ah." "Khalisa." "Hm." Dia memberi jeda. Dari ujung mata, aku bisa melihat dia terus memandangiku. Menuntut penjelasanku. "Kenapa?" "Apa ada yang kau tutupi dariku?" tanyanya menghalangi langkahku. Spontan aku menoleh menatap sahabatku yang selalu ada untukku sejak kami kuliah bersama. Segera aku berhenti dan duduk di salah satu kursi dekat parkiran mobil. "Sini duduk dulu." Aku menggeser posisi duduk setengah menghadapnya. Setelah lama menunggu, kalimat itu terucap juga dari lisanku juga. Aku menceritakan semuanya pada Elia. Elia menggeleng samar diiringi air mata yang terus meluncur turun ke pipi. Dia menangis tanpa suara. "Astaghfirullah, ini serius?" Aku menatapnya dalam. Dia dengan cepat memeluk tubuhku. Aku tak boleh menangis karena kurasa aku harus kuat. Elia sontak menegakkan wajah. "Itu berarti kamu menderita selama ini." Aku mendesis malas lalu menaikkan bahuku. "Kau terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini, Lisa. Bahkan aku sempat ragu karena kebaikan Adi, ia tak akan meninggalkanmu. Tapi lepas dari lelaki penghiana* itu malah kamu masuk ke kandang srigala." Rahangku mengeras tanganku terkepal erat. "Lebih tepatnya penjara sih El." Diraihnya tanganku lalu digenggam erat. " "Kenapa begini? Kenapa kau selalu menderita, Khalisa." Suara Elia serak. Wajahnya menyiratkan luka. Luka yang sama juga terpancar dari wajahku. Kemudian ia menggenggam tanganku tanpa mengucap kata. Lalu kami segera beranjak dan melangkah ke dalam karena jam kerja telah mulai. *** Selesai pulang kerja aku di antar Pak Karjo ke rumahku, aku membawa satu kantong plastik besar, berbagai makanan juga buah. Udara dingin pagipun menghangat, Kukira inilah awal matahari kehidupanku bersinar terang benderang. "Banyak banget, Mbak. Ini bisa buat makanan aku satu bulan lo." "Aku tersenyum tak apa, hari ini aku gajian, Zaidan." "Aku mau kuliah dulu Mbak." Aku mengangguk. "Iya, Hati-hati." Sebelum ia pergi, Zaidan membawakanku secangkir teh manis. "Makanlah dulu Mbak." "Bagaimana, kabar Mama dan Papa." "Alhamdulillah, baik Mbak." "Syukurlah." "Lihatlah suami Mbak keren masuk trending hari ini, pengusaha muda." Aku hanya tersenyum. Sempurna bukan, kenapa aku bisa pura-pura bahagia seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN