Merawatnya

1509 Kata
Aku terkejut baru saja dua langkah kakiku melangkah masuk, aku melihat dokter Wahyu berada di rumah ini ada apa? Siapa yang sakit? "Khalisa, disini?" "Eh, iya dok. Mau bertemu dengan Nenek Asti." Bohong ku. "Oh." "Siapa yang sakit, dok?" "Mas Hanan, dia lambungnya kambuh, sepertinya akhir-akhir ini beliau jarang tidur dan lupa makan." Oh bisa juga lelaki dingin itu sakit. "Bahaya enggak, dok?" tanyaku penasaran. "Sudah agak parah sih, Khalisa. Saranku sih harus tidur yang cukup. Dan Mas Hanan berpesan agar kamu yang akan merawatnya, obat juga impusnya jangan lupa ya, Lisa." Aku mengangguk mengiyakan. "Baiklah aku pulang ya, Khalisa." Sementara sebelah tangan lelaki itu menepuk pundakku. Kemudian dokter Wahyu berjalan keluar. "Baik, dok. Hati-hati." "Siap, Khalisa." Aku menggeleng pelan. Dan berjalan kembali menaiki tangga, sesaat ada seseorang yang menaggilku. "Nak Khalisa." Aku mengernyit samar. Ada yang aneh dengan perubahan mimik wajah Mama Berna. Wanita itu mendadak terdiam dengan tatap entah ke arahku. Dari sini, bisa terlihat tangannya tiba-tiba bergetar. "Mama, kenapa?" Aku bertanya cemas. "Kondisi Hanan sangat lemah, Khalisa." Aku memeluk Mama Berna. "Istirahat lah dulu, nanti tolong jagain Hanan ya, Nak." Aku mengangguk. "Baiklah, Ma." Saat aku masuk kamar lucu sekali ada ranjang kecil dalam kamar besar ini. Laki-laki itu tertidur di ranjang itu, selesai mandi aku merebahkan tubuh rasanya nyaman setelah aku istirahat tertidur beberapa jam. "Makan siang, Non." "Iya, Mbak." "Non, tadi pagi, Aden pingsan, lo." Bisik ya pelan. "Kenapa, Mbak?" tanyaku balik. "Entahlah, Non. Kulihat setiap malam, Tuan tak pernah tidur. Saat malam sekitar jam setengah tiga aku bangun mengantar Mbok Darsih ke ruangan belakang. Saya melihat, Beliau ada di balkon kamar ini, Non." "Maksudnya kamar, Aden yang ini?" "Em memangnya kamar mana lagi." Astaga ada apa ini? "Baiklah, siapkan makanan untuk, Aden biar aku yang bangunkan dia, Mbak." "Eh, Non ini Aden minta ranjang baru katanya agar, Non Khalisa tak ketularan." Aku hanya diam. "Baiklah, Non. Saya permisi." "Hu um." Aku melihat ia terbaring di atas ranjang mini itu. Begitu kuperhatikan benar, Mas Hanan memang terlihat pucat. Selama ini aku selalu melihat dia selalu tidur di sofa. Saat ini lelaki itu terdiam di tempatnya menatapku sekilas. Dia masih tampak shok atas apa yang terlihat dan terjadi di hadapannya mungkin karena melihatku. Kemudian dia perlahan memalingkan wajahnya. Ruangan bersuhu dingin ini tiba-tiba berubah memanas. Aku menunduk dengan jari jemari merem*s. Aku gelisah. Sementara Mbak Tun menaruh makanannya disamping meja ranjang. Dan Mbok Darsih mendekati Hanan. "Ikuti apa kata, Khalisa agar kamu bisa cepat pulih." Suara Mama Berna tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Hanan terdiam. "Mama harus pergi, Khalisa tolong jaga, Hanan ya. Pastikan ia minum obatnya." Aku mengangguk. "Iya, Ma." Sekali lagi lelaki itu terdiam menatap Mamanya pergi, beberapa saat kami saling beradu tatap nyaris ia tak berkedip menatapku. Hingga akhirnya ia mulai bertanya. "Aku mau muntah." Aku mendekat dan mengambil baskom, dia muntah dan aku memijit leher belakangnya dengan pelan. Tangannya mencengkeram lenganku kuat-kuat. Selesai Mbok Darsih membawa baskom itu keluar, dan aku mulai memijit pundaknya lalu kulumuri pelipisnya dengan minyak kayu putih. Kasihan juga menyaksikan dia muntah sampai kehilangan tenaga, wajahnya juga bersimbah keringat dingin. Kukira lebih baik, aku mencoba untuk menyuapinya meskipun awalnya ia berontak tak mau. Akhirnya ia menurut aku seperti menyuapai anak usia dini. Aku mengambil jarum suntik yang memang telah disediakan oleh dokter Wahyu. Kulirik matanya memejam saat jarum suntik menembus kulitnya. "Minumlah obatnya." Aku mengambilkan beberapa butir pil ke atas telapak tangannya dan mengambilkan air mineral dalam gelas. "Kenapa harus minum obat? Kan sudah disuntik tadi?" Kesalnya. "Biar Anda cepat pulih." Hanan hanya diam, mungkin mengiyakan. Ia lalu meminum obatnya lalu kembali berbaring. Matanya terpejam entah mungkin karena obat sudah beraksi. Aku menatap wajah polosnya perasaan aneh apa ini, kutekan dalam-dalam dadaku hingga terasa sesak. Aku menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke d**a. Dan membersihkan bekas makanan juga bekas sampah obat tadi. Mbak Tun masuk dan mengambil sisa makanan yang hanya berkurang separuh saja. Aku berjalan ingin keluar kamar. "Jangan pergi," cegahnya, dengan mata terpejam Aku duduk canggung di sofa. Ternyata semua tak sesulit yang kubayangkan, mengingat ini untuk kali pertama ia berbicara baik padaku. Tata bahasa manapun belum pernah mampu mencairkan hubungan kami, meski dalam kondisi terpaksa seperti sekarang. Kepalaku berat hingga tak kusadari aku sudah tertidur terlalu lama. Aku mengucek mata yang masih mengantuk, karena semalaman tak tidur. Jam menunjukkan pukul setengah lima. Sekilas aku melihat samar jika lelaki itu memandangiku membuat aku terkejut kaget. "Maaf. Saya ketiduran." Dia terdiam. Aku bangkit merasa malu bisa-bisanya aku tertidur. Aku memeriksa suhu badannya yang sudah tak demam lagi, dan menganti infus yang telah habis. Ia hanya diam dan sesekali menatapku penuh tanya. "Sampai kapan impusnya dilepas?" Lelaki itu memandangku saat aku berbicara. "Sampai, Anda benar-benar sehat." Lelaki itu mengangguk. Tanpa ada pertanyaan lagi. "Akan saya ambilkan makan." "Tak usah, makan nanti saja habis magrib." "Ya, baiklah." Aku berbalik. Tidak disadarinya bahwa wajah tampannya itu terpantul dari pintu kaca. Terlihat jelas olehku bagaimana dia mengulum senyum menatapku. *** Tak seorang pun wanita di dunia ini menginginkan status menjadi istri dadakan ataupun wanita yang tak diinginkan dalam hidupnya. Sayang, aku tak diberi pilihan. Entah karena alasan ingin terlihat seperti lelaki tangguh, aku hanya seperti wanita yang tak tersentuh terabaikan. Tak pernah mereka pikirkan soal hatiku yang hancur. Jujur, ada rasa rindu pulang ke rumah. Harapanku setelah lapas dari Mas Adi suatu hari ingin mendapatkan seorang suami yang hanya mencintaiku, lalu kami tinggal di rumah dan mempunyai banyak anak. Dalam hati aku sempat berjanji akan setia. Juga tak akan menjadi perusak hubungan suami orang. Aku ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Jadi Saat aku sedih aku hanya diam kemudian menangis sejadi-jadinya dalam kamar besar yang kedap suara ini. Aku berjalan dan akan masuk ke dalam kamar, ada seseorang yang memanggilku. Aku berbalik. "Sayang kamu kenapa?" Wanita itu bahagia sekali berlari memeluk Hanan. Kali ini aku menarik napas panjang, lalu menatapku tak percaya. Wanita itu tak nampak terkejut melihatku. "Hei siapa itu, sayang?" Aku hanya menaikkan bahu. Dan berlalu pergi Rasanya seperti ditimpa beban berat di hatiku mendengar ucapan wanita itu. Pertanyaan ini yang terus menyiksa jiwaku. Yang akhirnya justru semakin mengikis rasa sakit ini sendirian. "Siapa yang menyuruhmu kesini." Tekan Nenek menghentikan langkahku. Wanita itu mencium pipi Hanan. Ada ya begitu. Sebenarnya apa yang terjadi di rumah besar ini. Bahkan aku tak tahu apa-apa. Aku menghela napas. Lalu mendengkus pendek, dadaku sudah memanas karena emosi. Haha pernikahan macam apa ini? Dia ternyata punya kekasih. "Pergilah sebelom satpam mengusirmu." "Nenek." Hanan membela wanita itu. "Aku tidak mau wanita itu membuat masalah, Hanan. Ingat wanita tak pantas untukmu. Keluarganya juga tak menerimamu bukan." "Tidak, Nek. Aku akan berusaha meluluhkan hati Mamanya aku agar mereka setuju dengan hubungan ini." "Terlambat." "Maksudnya?" "Hanan telah menikah dengan wanita ini." "Apa-apaan ini, Mas apa ini benar?'' Mas Hanan hanya terdiam. "Mas kamu tega ya kamu keterlaluan." Astaga ada apa ini? Bahkan aku tak mengerti soal apapun. "Mas kamu hutang penjelasan padaku, tega kamu, Mas." Nenek mengajakku pergi dari kamar, entah apa yang mereka lakukan di dalam Tak pernah terpikirkan olehku kenapa aku bisa masuk dalam permainan ini. Apa Ayah dan Mama tak tahu laki-laki yang telah ia nikahkan denganku itu begitu menyakiti dan membuatku muak. *** Di malam hari, saat semua telah tertidur lelap, aku bersiap-siap untuk bekerja saat aku mau keluar kamar Mbok Darsih membawakan makanan untuk laki-laki itu. "Non, ini untuk, Den Hanan." "Iya, Mbok. Saatnya ia minum obat." "Sejak kecil Den Hanan sulit sekali minum obat lo, Non." Jelasnya "Masa sih, Mbok." "Iya, bahkan waktu disekolah. Saya selalu menemani, Aden waktu imunisasi. Karena takut sama jarum suntik." Aku tertawa kecil. "Ohya ada ya begitu, Mbok." "Iya. Jadi, Mbok suka sedih kalau, Aden sakit, Non." "Ya tenang saja, Mbok. Akan saya urus." "Siap, Non." Sebenarnya aku malas entah hatiku menjadi tak karuan. Sejenak aku mengatur napas mau pergi kerja tapi sudah kepalang tanggung, juga saatnya lelaki itu meminum obat. "Permisi." Hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar. Satu detik, dua detik hingga beberapa detik. Ia lalu membuka mata dan menatapku. "Periksalah." Aku mengangguk dan mengambilkan beberapa pil dan kapsul untuk diberikan kepadanya. Ia pun menurut meminumnya sekali teguk. "Kapan infusnya dilepas, ini sangat menganggu." Suara itu akhirnya keluar juga dari bibir lelaki itu. Aku mengembalikan minuman dan menatapnya. "Kalau Anda sudah sembuh, baru di lepas. Makanya rajin minum obat biar badannya kembali pulih." Jelasku. "Apa ini masih lama?" "Tubuh, Anda masih lemas, juga wajahmu masih agak pucat." Lelaki itu menandangku tanpa bicara. Dan berusaha untuk bangkit. "Mau aku bantu?" Lelaki itu mengangguk. Aku tahu pasti ia akan ke kamar mandi, aku mendekati lalu menuntunnya ke kamar mandi. Mbok Darsih hanya diam dan aku masih terjaga di depan pintu, setelah di buka aku membantunya kembali ke ranjang dan aku bantu untuk berbaring, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Sorot mata itu menatapku penuh tanya. "Kau masuk kerja?" "Hu um." Dia tersenyum. "Hati-hati, suruh Pak Karjo yang antar." "Saya bisa berangkat sensiri, saya permisi." Bukan hanya tatapan yang aneh, kemudian senyum tipis pun terlihat dari wajah tampannya. Seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak kumengerti malam ini. Membuatku ingin bergerak untuk cepat meninggalkan ruangan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN