Tak Diberi Pilihan

1322 Kata
Aku berbalik berjalan keluar kamar dan menutup pintu, ditemani Mbok Darsih. Mbok Darish ke dapur dan aku berjalan menuju depan rumah besar ini. Sementara Pak Karjo sudah siap di depan rumah. "Non, Biar saya yang mengantar." "Tak usah, Pak merepotkan. Anda istirahat saja biar saya naik motor." "Aduh jangan, Non. Takut dimarahi, Den Hanan berpesan harus mengantarkan, Non Khalisa sampai rumah sakit." Aku menggeleng pelan. "Oh, baiklah kalau begitu, Pak." Kulirik kamar atas kamar kami dan sudah gelap mungkin laki-laki itu sudah tertidur. Aku masuk ke dalam mobil dan Pak Karjo mengantarkanku selamat sampai depan rumah sakit. "Makasih, Pak. Pulangnya hati-hati." "Nggeh, Non." Aku melangkah menuju ruangan tempat kerjaku, langkahku terhenti saat ada seorang wanita berdiri di depanku. Aku terkejut, sesaat aku membeku saat wanita itu menatap ke arahku. Tanganku memegang erat tas yang aku pakai, berharap gugup yang aku rasakan mencair. Aku kembali berjalan, kemudian berlalu dari hadapan wanita itu. Masih sempat kutangkap binar tanya dari sorot matanya. Seperti hendak menanyakan sesuatu. "Kamu Khalisa." Aku menghentikan langkah dan terdiam. Menunggu apa aku tak salah dengar? Hentakan sepasang kaki bersepatu hak tinggi bewarna hitam mengkilap berjalan mendekatiku dan berada tepat dihadapkanku. "Kamu yang bernama, Khalisa?" tanyanya intens mengimidasi. Aku tahu siapa wanita ini. Dia adalah, dokter Tria. Calon istri dokter Alan. Ada apa wanita itu mencariku. "Ya, Saya." "Apa hubunganmu dengan, Mas Alan?" tanyanya membuatku tersentak keget. Aku menatap wajah wanita itu, seperti ada amarah yang siap meledak kapan saja. Jika aku bicara keras ia pasti emosinya akan naik satu tingkat. "Tidak ada hanya sebatas atasan dan bawahan saja." Wanita itu tersenyum sinis ke arahku. "Apa perkataanmu bisa dipercaya? Apa kamu tak ada hubungan dengan calon suami saya?" Aku menghela napas berat. "Saya hanya seorang suster, dok. Apa Anda percaya jika, dokter Alan punya hubungan denganku atau pun menyukaiku." Wanita itu menatapku tajam. "Aku ingatkan, jika kau bertingkah pekerjaanmu taruhannya." Aku menggelengkan kepala. "Apa saya mengganggu hubungan kalian?'' "Jangan karena, Mas Alan anak dari salah satu pemilik rumah sakit ini, kamu makin nggak tahu diri, ya." Ada yang teriris di dalam sini. Seolah air mataku siap meluncur bebas namun aku masih menahan. Kupejamkan mata sejenak, lalu memutuskan untuk menjawab. "Saya sudah menikah, dok. Jangan khawatir, saya bukan wanita penggoda." Aku berjalan meninggalkan wanita itu yang masih mematung dengan segudang kekecewaan. Entah ia tahu dari mana jika aku pernah dekat dengan dokter Alan. Di titik ini kemudian aku benar-benar sadar. Menjadi orang miskin memang selalu tak dihargai. Apa aku harus kecewa, tapi kecewa pada siapa? Melanjutkan hidup adalah kewajibanku sebagai seorang hamba bukan. Tapi masalahnya kenapa aku tak diinginkan oleh siapa pun? *** Setelah selesai bekerja, aku berjalan bersama Elia dan Sesil kami bertiga berjalan ke arah parkir, ternyata disana Pak Karjo sudah menungguku. "El, Khalisa aku duluan, ya. Suamiku sudah jemput." "Iya hati-hati, Sil." Aku dan Elia melambaikan tangan. "Enggak jadi nih main ke rumah aku, Lisa. Padahal Mama kangen lo katanya sama kamu." Aku tersenyum. "Aku mau puas-puasin tidur seharian, El. Capek aku." "Ya deh. Aku duluan ya." Aku mengangguk mengiyakan, dan melangkah menemui Pak Karjo. Ia membukakan pintu dan aku masuk. Sesaat mobil meninggalkan rumah sakit menuju rumah penjara itu lagi. "Pak, harusnya enggak usah jemput, saya bisa pulang dengan taksi. Kasihan Mama Berna jika mau pergi." "Tapi, Aden yang menyuruh saya buat jemput, Non." Aku kehilangan kata untuk menggambarkan sosok Aden Hanan itu. Dia cuek, angkuh, sombong. Tapi setelah di dalami seperti ruang labirin tak berujung penuh misteri. "Den Hanan?" "Iya, Non. Bahkan Den Hanan wanti-wanti harus menjemput, Non selamat sampai rumah." Ah jangan gr Khalisa ingat, mungkin karena ia membutuhkanku untuk mengganti infusnya. "Lagian tadi saya sudah antarkan, Nyonya ke Butiknya, Non." Jelasnya. "Oke deh Pak." Sampai di rumah, langkah membawaku ke kamar bergegas aku gosok gigi dan saat aku keluar kamar Mbak Tun sudah membawakan aku sarapan. "Pagi, Non wah cantik sekali kelihatan segar, meskipun wajahnya agak lelah." Aku tersenyum setelah memakai rok juga kaos putih. "Ya, aku capek, Mbak enggak sabar pengen tidur seharian sepuasnya." "Eitt ... tunggu dulu, sarapan dulu, terus periksa kondisi, Den Hanan baru tidur. Non." "Ya, iya baiklah." Selslesai sarapan kuhela napas panjang sebelum menghampiri Hanan yang berdiri menghadap cendela balkon, dia berbalik tertegun saat mendapatiku berada di hadapannya saat ini. "Sarapan dulu." Pandanganku berpaling. Dia menurut dan berjalan mendekati ranjang. "Saya suapi." Tawarku. Kedua netranya menatap ke arah Mbak Tun mungkin ia malu. Aku mencari alasan menyuruh Mbak membuatkan teh hangat untuknya. Setelah Mbak pergi ia baru mau membuka mulutnya. Kami terdiam hanya terdengar suara piring yang beradu dengan sendok. Selesai ia sarapan aku memberikan obat seperti biasa, lalu melepas infusnya, karena kata Dokter Wahyu jika keadaannya sudah membaik. Aku memakai sarung tangan, meraih tangannya yang dingin. Aku kembali menunduk membasahi plester yang menempel pada kulit dengan kapas alkohol. Lalu melepas plester dan kassa dari kulit menekan tempat tusukan jarum dengan kapas alkohol dan menarik jarum pelan-pelan. Terakir menekan kapas alkohol dengan plester. "Kenapa sakit?" Aku bertanya tepat di depan wajahnya, saat ia sempat meringis. Refleks aku menghentikan kegiatanku. "Sudah, saya nggak apa-apa! Aku tidak akan mati karena ini." Dia menatap ke arah sekeliling. "Tapi masih harus rajin minum obat." Lelaki itu hanya diam menatapku, memperhatikan setiap langkahku yang mondar mandir membereskan alat dan merapikan bekas infus. Melepas sarung tangan dan mencuci tangan di wastafel kamar mandi. "Satu jam lagi, saya akan menyuntikkan obat untuk asam lambung Anda. Jadi saya akan tunggu saja di sofa. Takut jika ke ranjang saya ketiduran." "Ya, terserah." Aku duduk di sofa memainkan ponselku, terdapat chat dari Elia, aku tersenyum membuka chat darinya. "Yakin nih ngak mau jalan bareng aku, lihatlah begitu ramainya disini." Elia mengirimkan sebuah foto tiket dirinya bersama adiknya akan menonton bioskop di sebuah mall. Aku tersenyum miring serta mengirimkan setiker sedang tertidur, sekilas aku menatap samar jika lelaki itu sedang memandangku. Karena semalam tenagaku memang terkuras habis. Pantas bila aku ingin segera terlelap dalam mimpi. *** Aku tersentak kaget saat bangun tubuhku sudah berada di ranjang besar, aku memegang kepala yang terasa begitu berat. Astaga aku ingat jika tadi aku berada di sofa kenapa berpindah ke ranjang. Aku melihat sekeliling dan aku melihat ia sedang menatap laptop aku bergegas bangkit dan berjalan mendekatinya. Ah tunggu dulu, apa Dia yang mengangkat ku ke ranjang? Aku memegangi kepala yang masih sedikit nyeri karena belum sepenuhnya sadar. "Maaf ... maaf . Semalam banyak sekali pasien. Jadi aku sangat mengantuk." Jelasku ragu. Dia menatapku sekilas. Aku menatap jam di tangan dan sudah lebih dari dua jam. "Astaga, waktunya Anda di suntik." "Sebentar lagi." Alih-alih menjawab, suamiku itu justru memalingkan wajahnya. "Just wait five minutes." "Maaf, apa Anda yang angkat saya ke ranjang?" Lelaki itu melihatku sekilas lalu kembali lagi ke arah laptop. "Mas." "Pak Karjo yang angkat." "Apa!" Lelaki itu tertawa kecil. Ah enggak lucu. Aku curiga dan berjalan ke arah sofa. Sesaat ponsel dalam saku rokku berbunyi dan ternyata panggilan dari Elia, aku begitu senang seraya menerima panggilannya. "Nanti sore bisa ya ikut aku ke mall buat beli baju untuk ke undangan, Khalisa." "Enggak ah capek, mau tiduran saja." "Yah gak seru kau. Ah bete." "Yaelah, bukannya tadi sudah healing sama adikmu. Kenapa enggak sekalian saja sih belinya?" Tanyaku tak sadar jika diperhatikan oleh laki-laki itu. "Mana mau dia diajak beli kebaya, Khalisa ayolah please. Ah nggak asyik lo." Bergegas aku membekap mulutku. "Oke nanti kutelopon lagi." "Tapi kamu setuju, kan? Kita jalan-jalan." "Ya, Oke." Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mata laki-laki itu sudah melotot ke arahku. Ia berjalan mendekati ranjang itu artinya ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Aku salah tingkah, kami saling melempar pandang dan mulai terlihat tak enak hati. "Eemm, maaf." Ia kembali terdiam. Aku mengambil alat, dan segera melakukan tugasku. Selesai aku mengemasi bekas jarum suntikan dan segera aku mencuci tanganku di wastafel. "Sudah selesai. Anda harus banyak istirahat biar cepat pulih." "Terima kasih." Pandangan kami saling bertemu. "Sama-sama." Ada rasa hangat mengalir di dalam d**a saat menyadari pandangannya terus tertuju padaku. Kakak Maaf ya Ganti judul soalnya cocoknya sama ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN