Rindu Tak Berujung

1721 Kata
Suara ponsel berdering membuatku tersentak kaget. Sepertinya nomor baru aku enggan menjawabnya. Tiba-tiba aku teringat oleh Mas Adi, laki-laki pertama penoreh luka di hatiku lagi dan lagi aku masih mengingat dirinya. Untuk beberapa saat suara getaran itu kembali terdengar dari ponselku. "Khalisa, kumohon izinkan aku menemuimu sekali saja. Aku mau menyampaikan sesuatu. Aku ingin menjelaskan semuanya sama kamu. Bisa kita ketemu?" tulisnya dalam sebuah chat dengan tak ada di bawahnya. Menjelaskan apa? Menjelaskan bahwa dia sudah punya anak? Semuanya sudah selesai. Aku tak akan bermain api setelahnya aku memilh meletakkan ponselku ke dalam tas. Berharap jika sore hari nanti semua kesakitan ini akan menghilang. Entah apa rencana Tuhan, tapi begitulah hidup yang bisa terjadi kapan pun Tuhan mau. Meski jujur hatiku masih belum bisa melupa saat-saat bersama Mas Adi. "Itu bagus deh, Khalisa." "Yang mana?" "Itu." Tunjuknya padaku kebaya bruklat warna merah maron. "Gak ah, coba yang itu bagus warnanya." Aku menunjuk warna gold terlihat lebih bagus dan elegan. "Ah iya, itu bagus banget. Kan apa ku bilang kamu tak pernah gagal memilihkan warna." Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul delapan, astaga ini sudah sangat larut, bagaimana jika laki-laki itu marah. Aku terhenyak, ternyata waktu sudah selarut ini aku dan Elia berburu baju dan Elia masih memilih beberapa baju. "Elia serius ini, sudah malam lo. Bisa di marahin aku nanti." "Yaelah, sejak kapan sih, lo begitu? Biasanya juga kita pulang jam sepuluh malam." Jelasnya. "Beda kali. Lelaki itu saatnya harus minum obat." "Siapa? Suami lo?" "Emm." "Astaga. Nggak seru ah." "Habisnya lama banget milihnya. Dibilang bagusan yang warna gold itu." tunjukku ke arah kebaya itu. Dia mendengus kesal. "Iya, deh aku ambil yang itu." "Nah gitu dong." Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku. Resah, gelisah, takut jika lelaki itu marah. Lupakah dia? Kenapa aku malah mikirin dia. "Tapi, kita makan dulu ya, lapar?" Aku merasa takut, jika sumaiku itu marah gimana ya? "Ya, please. Khalisa aku yang traktir deh." Aku berpikir sejenak. Entah bagaimana, tapi aku merasa harus mengabari nomor, Mbak Tun. Jika tidak aku akan kena marah lelaki itu. "Gimana ya, Elia bukannya nggak mau tapi." Gerutuku. "Sudah, ayo kita makan dulu." Aku mengangguk seraya meringis pelan. "Iya, deh." Aku sudah mengirim pesan buat Mbak Tun, jika aku akan pulang terlambat. Di kursi meja makan yang ada di mall, aku dan Elia duduk berhadapan dengan dua cup minuman juga dua porsi fried chicken hangat sudah di depan kami. Kami berdua menikmatinya seraya bercerita kesana-sini. Seperti sahabat yang lama tak berjumpa padahal tiap hari kami bertemu kecuali hari libur pun kami selalu menghabiskan waktu belanja berdua, Elia memang selalu begitu memiliki bahan cerita yang tak ada habisnya. Ini memang yang selalu kami lakukan saat libur. "Gimana suami lo, masih galak?" Aku hanya menaikkan bahuku "Bukannya biasanya pulang malam, ya, apa ia akan marah padamu, Khalisa?" Aku mengangguk, tampak tak terganggu dengan pertanyaan Elia. "Entahlah, El, kan dia juga harus minum obat." "Yakin kau bisa bertahan. Khalisa?" Aku menaikkan bahu seraya menarik napas seraya membuang pandangan sejenak. Apa yang barusan diucapkan Elia terasa bagai goresan tak kasat mata dalam dadaku. Benar, itu sangat benar. Pernikahanku yang tak ada muaranya. "Khalisa." "Hmm." "Tuh, dokter Alan." Matanya mengarah ke belakang ku. Aku melotot menoleh sebentar. Senyum lelaki itu yang selama ini jadi atasanku itu menatapku tanpa kedip. Sesederhana ini saja punya banyak sahabat yang baik perasaanku seolah bisa sebahagia ini. "Khalisa, apa kabar. Boleh duduk di sini." Elia menatapku. "Eh, maaf." jawab Elia ragu. "Sebentar saja." Aku tersenyum getir. Menatap lelaki yang pernah menghianati aku itu. "Khalisa, bisa bicara sebentar." "Aku bayar dulu ya, Khalisa." Elia hendak bangkit. "Tidak kau tetap disini, Elia." Jelasku dan aku menatap ke arah dokter Alan "Untuk apa. Bukankah dokter sudah mau menikah." "Maaf." Salah dugaanku ternyata dokter Alan yang mengirin chat tadi. Ah dia lelaki yang dulu selalu aku hapal suaranya. Lelaki yang sempat mampu membuat dadaku berdebar saat melihatnya. Dokter Alan hanya tersenyum. "Maafkan atas semua kesalahan ku." Dia memandang dengan tatapan hangat seperti biasa. Aku menoleh. Betapa ingin kuhentikan tatapan itu. Aku merasa terluka setiap kali mengingat bahwa tatapan hangat itu. Tatapan yang selama ini membuatku nyaman dan bertahan. Nyatanya semuanya telah berlalu aku sudah menikah dan lelaki itu juga akan menikah. Aku menarik napas, lalu mengangguk. "Oke, aku maafkan semuanya. Dan kami permisi, semoga bahagia ya." Dokter Alan menunduk, lalu menatapku dalam. "Iya, jaga kesehatan. Khalisa." Dialah lelaki yang mampu menciptakan kerinduan yang kembali hinggap, mendekap dalam setiap tarikan napas. Dengan segenap rasa nyeri yang mendera, aku berusaha berpikir. Bagaimana cara menghindari tatapannya, cara menghindari senyumannya. Ya Allah ini adalah ujian terberatku. Rasa rindu selama ini bagai udara yang merasuk di rongga d**a. Sebegitunya aku merindukannya. Seharusnya dia tidak lupa. Soal janjinya yang akan memperjuangkan hubungan kami. Karena pernah berjanji untuk membawaku untuk mengarungi bahtera pernikahan bersama, apa pun yang terjadi. Ternyata hanya sebuah kebohongan dan lelucon saja. Nyatanya yang ia lakukan hanyalah ingkar janji. Ia tak mampu berjuang untuk hubungan . Namun dibalik itu Sang Pencipta selalu punya cara untuk mengukur sebesar apa kesabaran dan kesanggupan umatnya. *** Mobil Elia akhirnya melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, aku merapal harap agar tak perlu bertemu dengan dokter Alan lagi, Menyakitkan aku menyeka ujung mataku yang basah. "Maaf, Khalisa. Gara-gara aku ngajak makan jadi ketemu dia deh." Aku mengangguk. "Ngak apa-apa, El." "Kau masih memiliki rasa untuknya?" Aku menggeleng. "Apa ada wanita yang sudah menikah mencintai laki-laki lain, El." Elia tertawa. "Hmm, sok puitis lo." Aku pun ikut tertawa seraya, menepuk pundaknya. Butuh waktu selama dua puluh menit untuk sampai di rumah penjara itu. Aku melirik sekitar, jalanan terlihat ramai. Setiap hela napas kerap terasa sesak jika tersadarkan, mengingat kenangan yang membekas dalam angan serupa jejak untuk kembali mengingat kisah masa silam. "Jika semesta tidak merestui kami bersama, lalu untuk apa cinta itu tercipta, Elia?" Elia menoleh ke arahku. "Kumat." Aku hanya tertawa "Nyatanya itu memang nyata kan?" "Tau, ah." "Rumah depan itu berhenti, El." Tunjukku ke arah rumah yang paling besar. "Yang mana?" tanyanya penasaran. "Itu, yang cat abu-abu." Matanya Elia tak berhenti menatap. "Eh busyet ... serius ini rumahnya, astaga sudah kayak rumah ditivi-tivi saja ya. Kayak istana, rumah Sultan." "Biasa saja deh. Makasih ya sudah dianterin, sudah aku masuk ya. Hati-hati lo." "Ya selamat istirahat, Khalisa." Aku mengangguk dan menutup pintu mobilnya lalu melambaikan tangan. Aku berjalan tergesa setelah membaca pesan dari Mbak Tun, jika Den Hanan keukeuh tak mau minum obat. Astaga apa yang lelaki itu mau. Ketika aku mau masuk melihat seseorang yang tengah berdiri di beranda rumah. Ternyata Pak satpam. "Baru pulang, Non?" "Iya, Pak." Aku berjalan masuk, membuka pintu rumah terlihat sepi. Tanpa sadar aku menggeleng membayangkan reaksi laki-laki itu saat tahu kalau aku baru pulang. "Non." "Mbak Tun, ngapain sih disitu kaget tahu." Jelasku kaget saat melihat Mbak Tun tiba-tiba mendekatiku. "Eh---Itu, Den Hanan nggak mau makan juga minum obat, Non." "Ada-ada saja, mirip anak kecil saja, sih?" tanyaku. "Betul, Non." Astaga, aku mengangguk lalu menyuruh Mbak Tun membawakan belanjaanku. Aku langsung berjalan ke arah kamar, semoga saja ia belum tidur. Aku masuk dan menoleh ke samping menatap lelaki yang kini masih duduk di depan leptopnya. "Permisi, Mas maaf saya terlambat. Tapi waktunya anda minum obat." Jelasku berdiri di sampingnya. Lelaki itu tak menghiraukanku. "Mas." Panggil ku lagi. "Aku nggak mau makan!" "Tapi, Mas harus minum obat. Gini deh kita makan martabak ini ya sama-sama, gimana? Biasanya sih saya habiskan sendiri, berhubung saya lagi berbaik hati, kita makan berdua ya." Lelaki itu menatapku aneh, aku segera membuang tatapan ke arah lain. Menghindari tatapan kami agar tidak bertemu. Lelaki yang memiliki wajah tampan, berhidung mancung dengan wajah tegas dan senyum yang manis. Tapi galaknya minta ampun. "Enggak." Aku membuka pastik dan mengambilnya lalu membuka terdapat maratabak telur dan mengambil piring lalu, mengikutinya duduk dibangku balkon kamar kami lalu aku ikut duduk di sampingnya. "Mas Hanan ini enak sekali lo, yakin enggak mau makan!" Rayuku agar ia mau makan. "Makanan apa itu! aku gak suka." "Kalau belum dicoba mana tahu." Aku mengambil satu lalu memasukkan dalam mulutku. "Ini enak sekali." Tipe lelaki itu yang gengsi dan acuh. Beda denganku yang suka perhatian dari hal kecil apapun. Setelah sekitar lima menit, laki-laki yang sedari tadi kutunggu itu menghadapku mendekat dan mentapku terus ikut mengambil martabak itu. "Yakin enak?" tanyanya seraya menelan saliva. "Coba saja. Pasti ketagihan." Dia menatapku dan aku mengangguk mengiyakan. Ia pun mulai memasukkan martabak ke mulutnya, lalu ia manggut-manggut. Orang kaya memang tak tahu jajanan enak. "Enak kan. Itu satunya martabak manis." "Oh enggak sama kah?" tanyanya. Aku tertawa dalam hati, pasti belom pernah makan jajanan pinggir jalan yang begitu memanjakan lidah. "Cobain saja." Hening "Dulu waktu kecil, Ayah selalu membawakanku martabak seusai gajian, dan itu adalah kebahagianku yang sesungguhnya. Itu hal yang aku suka martabak hingga saat ini." Lelaki itu menatapku. "Oya." "Jika aku sedih. Pasti aku makan ini akan membuat rinduku pada mereka terbayar." Dia terdiam hanya menatapku sekilas lalu kembali menatap depan. Aku menagkap sebuah wajah tersenyum hangat menatapku. Lelaki itu mungkin telah menemukan air mata di wajahku saat ini, dan aku segera menyekanya. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Sudah jangan sedih." Sepersekian detik aku tertegun. Menemukan wajah yang kerap menunduk itu kini menengadah dengan mata terpejam. Astaga lelaki itu ternyata begitu tampan. Saat ia membuka mata aku kembali menyesap teh hangat dalam cangkir. Hampir tiga puluh menit kami memakan martabak itu hingga habis, juga ditemani teh hangat yang dibawakan oleh Mbak Tun. Aku juga membelikan satu bungkus untuk Mbak Tun. Aku merasa perutku sudah penuh. Hanan ikut makan karena tak bisa menahan ludah ketika melihatku makan dengan lahapnya. "Apa, Nenek mengancammu? Tak mungkin wanita sepertimu begitu saja mau menikahiku?" Glek Aku menoleh kearahnya, ya semua harus diselesaikan bukan? Setidak ya ia sudah mau mulai membuka titik nyaman saat bersamaku. "Apa perlu aku ceritakan?" tanyaku balik. Dia mengangguk. Aku menunduk dan kembali membuka mulutku. "Apa istimewanya diriku ini. Bahkan suamiku dulu saja meninggalkanku." Sakit ini sungguh menyakitkan dari apapun. "Lalu ...?" "Lalu, entahlah yang aku tahu aku menerima perjodohan ini karena, orang tuaku." "Kamu tak kerja hari ini?" tanyanya mengalihkan perkataan. Aku menggelang. "Maaf untuk itu." Aku mengangguk. "Lihatlah bintang itu, ia seperti kamu tetap bersinar meskipun rapuh." Glek. Aku melelan saliva yang begitu pahit dan mengangguk. Kami saling pandang. Tatapannya menunjukkan misteri. Namun aku tak peduli toh aku sudah terjebak di pernikahan konyol ini. Jadi ketuker ya kak, silahkan baca yang part 17??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN