"Hanan."
Kami menoleh ke arah suara.
"Eh, Mama sudah pulang?" tanyaku gugup.
"Iya, maaf kalian lanjutin saja. Biar mama ke keluar. Lagian Mama cuma mau ngasih kue kesukaan Hanan." Jelas Mama.
Aku mendongak, berpikir beberapa saat. "Ma masuklah. Biar aku kedapur.
Hening.
Kami bertiga saling diam. Di luar dugaanku, Hanan mengangkat wajah hingga pandangan kami bertemu. Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangan menatap Mamanya. Aku begitu canggung bangkit dan mengambil obat lalu memberikan kepada Hanan.
Mama melirik dengan senyuman tertahan di bibirnya.
"Minum dulu."
Lelaki itu mengangguk setuju dan meraih gelas juga obat itu lalu meneguknya. Sekilas aku menatap suamiku itu menunduk. Juga Mama yang diam tanpa kata. "Baiklah saya permisi."
"Ya, terima kasih. Khalisa."
"Sama-sama, Ma."
Aku tahu inilah hal yang paling menyakitkan, meskipun Mama baik padaku tapi ada gurat kecewa di wajahnya. Aku hanya menginginkan pernikahan dengan tujuan membangun keluarga sakinah seperti impianku. Bukan pernikahan karena alasan lain, menyesal, tentu saja iya, tapi ada nyawa yang harus aku selamatkan yaitu Mamaku. Toh aku harus kuat menghadapinya. Tak kuhiraukan tatapan Hanan, aku berharap pria itu mengerti, begitu sakit hatiku berada dalam posisi yang sulit seperti saat ini.
"Jadi, kamu sudah sehat." Mama kembali bersuara.
"Lumayan sih, meski kadang perutku masih sedikit nyeri, Ma."
"Emm cepat sembuh ya, Sayang."
"Iya."
Sepasang anak dan Ibu itu saling bicara seolah-olah tak ada aku di antara mereka. Aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Bukankah harusnya aku tak ada di antara mereka?
Namun, ternyata aku belum sekuat itu. Hatiku seperti ditusuk dengan pisau yang tajam hingga kembali menimbulkan luka yang menganga. Bahkan sakitnya melebihi ketika Mas Adi menghianatiku. Aku kembali berjalan, ruang tamu masih sepi. Aku sengaja berjalan pelan, serasa kepalaku mau copot memikirkan bagaimana nanti pernikahan kami.
"Nak, Khalisa!"
Aku sedikit kaget mendengar suara itu. Lalu menoleh ke arah suara. "Papa."
"Bagaimana kondisi, Hanan?" tanyanya.
"Alhamdulillah semuanya normal, hanya menunggu pemulihannya saja, Pa."
"Syukurlah. Terima kasih telah merawat Hanan dengan baik."
Aku mengangguk. "Sudah tugas saya, Pa."
"Aku yakin kau bisa membawa dampak yang positif untuk Hanan, Khalisa."
Apa maksud perkataan lelaki paruh itu. Ah akupun tak tahu maksudnya. Aku hanya mengangguk ragu.
"Maksudnya, Pa."
"Istrinya meninggal saat melahirkan putrinya. Makanya ia sedikit kasar."
"Oh terus putrinya kemana, Pa?" tanyaku ragu.
"Masih ikut jalan-jalan sama neneknya lusa katanya pulangnya."
"Oh. Khalisa permisi, Pa."
"Ya, selamat malam."
Aku mengangguk menatap lelaki paruh baya itu, juga menaruh harap pada pernikahan kami. Aku bisa apa toh ini adalah kenyataannya, kenyataan yang menyakitkan. Di sisi lain, aku ingin sekali mengabaikan takdir buruk yang sedang menggerogotiku, tapi aku bertanya-bertanya tentang pasangan suami istri yang aneh ini.
Aku hanya sibuk terus memikirkan hal yang sulit aku pecahkan. Kedua pilihan itu mengacaukan jadwal tidurku. Pilihanku hanya menginginkan Mamaku bahagia. Kedua matanya yang teduh menghalau kebingungan di kepalaku. Aku harus kuat demi wanita yang selama ini berjuang untukku.
Malam ini mataku serasa berat. Setelah selesai nyeteh bersama Mbak Tun aku kembali ke kamar. Tak aku datapi Mas Hanan di sini kemana dia
Kantuk mulai menyerangku. Kutarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Udara pendingin ruangan yang dingin membuatku bergedik ngeri bersembunyi dibalik selimut yang tebal.
***
Pagi selesai aku mandi, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua dikerjakan sang art. Bahkan semua bajuku sudah rapi dalam almari plus dengan setrikaan licin. Aku bangkit menatap disebelah jika Hanan duduk di balkon dengan laptopnya, kata dokter Wahyu jika ia baik-baik saja maka pengobatannya akan dihentikan.
"Pagi, Non."
Aku tersentak. "Eh, Mbak Tun."
"Malah melamun. Ini sarapan paginya, Non Khalisa dan ini untuk Aden Hanan."
Aku tersenyum. Mendekati Mbak Tun dan memeriksa sarapan aku cepat-cepat menyelesaikan makan, setelah itu membantu Mbak Tun membereskan piring kotor.
"Mbak berapa lama kerja disini?" tanyaku bisik-bisik.
"Sudah lama, Non. Sejak sepuluh tahun terakhir."
Aku mengangguk tanpa menjawab apa pun.
"Kenapa, Non?"
"Memangnya, Mbak tahu soal Aden dan istrinya?" tanyaku canggung, tapi aku penasaran sekali.
Terlihat Mbak Tun menghela napas. "Em, ini sarapannya sudah, Non?"
"Mbak Tun."
"Iya, Non."
"Bisa-bisanya aku tanya malah mengalihkan pertanyaan, gimana sih."
"Itu, Non. Aduh gimana jelasinnya, ya."
Aku menggeleng pelan. "Ya tinggal jawab saja apa susahnya sih."
"Saya cuma kerja, disuruh tak boleh membicarakan masalah Aden sama Non."
Aku tersenyum miring. "Astagfirullah, Mbak. Kok, begitu, sih?"
Jelas ada yang ditutupi dariku namun entahlah, mana ada semuanya dirahasiakan.
"Takdir kadang emang begitu, Non. Tapi suatu saat, Non akan tahu. Dan Aden Hanan orang yang baik." Jelasnya.
Aku menganga tak percaya. Tanpa bisa kubayangkan semuanya ini.
"Oh ya, Non. Tadi Nyonya pesan untuk memeriksa, Tuan."
Aku mengangguk mengiyakan, setelahnya Mbak Tun berlalu meninggalkan kamarku.
Aku berjalan mendekatinya. Dan ternyata laki-laki itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Selamat pagi. Sudah rapi mau bekerja?" tanyaku basa-basi.
Lelaki itu kembali acuh. Dan aku tak peduli aku menunggunya sarapan, hening hanya terdegar sendok dan garfu. Selesai ia makan aku mengecek tensi darahnya juga memberikannya obat.
Aku membuang pandangan. Kugigit bibir kala ada perih yang mulai menjalar di mata. "Apakah ada hal lain yang bisa saya bantu?"
"Tidak usah. Apakah aku harus minum obat terus?" tanyanya tanpa melihat ke arahku.
"Tidak, Mas. Mungkin nanti siang adalah obat yang terakhir. Kondisi, Anda juga sudah pulih."
Aku menyerahkan obat tiga butir pil itu agar dia minum nanti saat makan siang, dia mengambil obat itu tanpa menatapku.
"Itu artinya aku terbebas darimu juga obat ini?"
Aku menarik napas dalam-dalam ketika mulai kesulitan meraih udara. "Iya."
Pelupuk mata juga terasa penuh hingga menyebabkan pandanganku memburam. Karena tidak bisa bicara disebabkan bibir yang bergetar menahan tangis, aku memilih tersenyum. Aku tahu jika ia tak ingin melihatku lagi, aku sadar diri aku hanya wanita yang tak diinginkan. Aku disini karena perjodohan.
Aku melangkah keluar dari kamar itu. Aku ikut Mbak Tun dan Mbok Darsih ke dapur, karena selama menikah baru kali ini aku ke dapur. Dapur yang begitu luas juga perabotan mahal, aku duduk melihat mereka untuk makan siang. Karena aku libur aku membantu memetik sayauran.
"Non, tak usah. Jika, Den Hanan tahu Anda disini maka kami berdua pasti akan dipecat." Jelasnya.
Aku tersenyum. "Sudahlah. Aku bosen di kamar terus. Lagian Dia juga bekerja kan dan aku juga lagi libur enggak kerja."
Mereka sama-sama memandangku lekat. Selain raut wajah takut, aku juga menemukan ekspresi cemas pada wajah keduanya. Satu hal yang justru membuatku ingin menentangnya.
"Non jangan."
"Diam. Jika tidak aku akan mogok makan." Ancamku pada keduanya.
"Astaga, Non."
"Kupastikan kalian tak akan dipecat, biar Aku saja yang dipecat."
"Non."
"Iya, iya. Makanya diam."
Kugelengkan kepala sebagai isyarat terima kasih untuk mereka mengizinkanku disini. Mereka saling tatap lalu terdiam dan kembali bekerja.
***
Saat kami terdiam ada art datang seraya berlari menghampiri kami.
"Bi, Non Luna. Kumat lagi." Jelas Art yang satunya.
"Apa, kumat lagi," jawab Mbok Darsih panik.
Aku melotot kaget kumat maksudnya apa? Apa yang mereka sembunyikan.
"Kenapa. Siapa Luna?" tanyaku penasaran.
Tidak ada sahutan, tetapi mereka langsung berlari ke arah kamar. Aku melompat berdiri dari kursi kemudian berlari mengikuti mereka. Aku bisa mendengar suara wanita berteriak. Tetapi hal itu malah membuatku semakin penasaran dan ingin mengetahuinya.
Saat sampai aku melihat wanita itu meringkuk menangis memegangi tubunya sendiri. Wanita itu seperti depresi tak pernah aku lihat gadis seperti ini. Tangisku semakin tak tertahan karenanya. Aku mendekat dan memeluknya erat.
"Tenaglah, aku akan selalu ada buat kamu, tenanglah."
"Aku takut." Katanya terbata.
Kali ini, aku tak bisa menahan tangis. Aku memeluk wanita itu dengan erat. Rasanya begitu terluka melihatnya, bahkan aku tak tahu ada gadis di dalam rumah besar ini, ada apa ini bahkan aku tak tahu soal dirinya. Selama beberapa lama gadis itu meluapkan tangis di pelukanku hingga perlahan tangisnya mereda.
Tidak lama kemudian, Mbak Tun kembali dengan beberapa botol minuman. Sementara itu, aku memberikan gadis itu minuman juga obat penenang yang diberikan si Mbok, mungkin memang gadis itu sudah mengonsumsi obat ini.
Ketakutan yang kemungkinan buruk itu terbilang tak biasa. Ini hal yang paling menyedihkan saat tangannya mencekeram tanganku dengan kuat. Kesal yang tertahan berkumpul dengan jengkel membuatku ingin menjerit. Sesaat ia tertidur, perlahan aku menidurkannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Mama meraih pundakku dan berlanjut meraih tanganku yang masih menggenggam erat tangan gadis itu.
Aku turun dari ranjang dan mengikuti Mama yang berjalan ke arah lain. Setelah pintu berhasil terbuka, aku langsung masuk kemudian menjatuhkan tubuh ke sofa panjang mengikuti Mama Berna duduk.
"Apa yang terjadi sama, Ma. Kenapa bisa seperti itu?"
Wanita paruh baya itu mengela napas panjang. "Dia adiknya Hanan. Satu tahun setelah dia mengalami kecelakaan dan membuat bayinya meninggal, membuatnya depresi, Khalisa. Suaminya juga meninggalkannya."
"Astaghfirullah."
"Dia juga ditalak oleh suaminya."
Gleg
Aku menelan Saliva yang terasa pahit.
Tentang harapan yang pernah Luna pendam itu sendirian. Sama sepertiku ditinggal dan dicampakkan.