Malam minggu di Cafe Dames, Prameswari Dan Damayanti sibuk dalam posisi masing masing. Damayanti di kasir dan Prameswari dibarista dengan memakai celemek kantong. Suasana malam minggu yang rame membuat mereka tidak bisa berleha leha. Ceff tio yang di dapur pun terus berkolaborasi dengan masakan.
Prameswari yang terus menerus melayani pengunjung yang memesan minuman tidak menyadari sepasang mata elang mengawasi sejak awal dia duduk di ujung. Albert yang duduk di temani alex hanya tersenyum melihat tingkah Albert yang seperti abg jatuh cinta. Alex pun memanggil pelayan lalu memesan menu andalan malam minggu.
Setelah pesanan datang Albert dan Alex pun makan setelah tandas mereka melanjutkan ngobrol hingga jam 10 malam. Karena terlalu lelah dia pun mengajak Damayanti untuk pulang lebih dulu tapi Damayanti masih ingin menyelesaikan sampai tutup Cafe.
" yan balik yuk!!! Cape ni...!!!!". Ucap Prameswari manja kepada Damayanti.
"aku nunggu nutup dulu kamu tidur di kantor aja ntar aku bangunkan ya!!!" balas Damayanti kepada Prameswari.
" ya udah..., aku Cape banget rasanya badan pegal pegal. Aku tidur dulu ya!!!. Pusing cape bnget ntar bangunin aku ya lo mau balik" ucap Prameswari meletakkan celemek Batista nya lalu keluar stand barista melangkah masuk ke kantor.
Di dalam kantor, Prameswari masuk ketoilet membersihkan tubuh dan membuka paper bag untuk mengambil baju ganti, setelah ganti baju Prameswari pun keluar toilet dan tidur di sofa berbantal boneka doraemon yang di beli pertama kali launching cafe Dames.
Sementara diruang pengunjung nampak di meja Albert gelisah karena tidak melihat Prameswari keluar dari ruangan kantor.
"kenapa Bert kok gelisah kayak gitu?" tanya Alex.
" si wawa kemana ya!!!, kok gak balik ke barista lagi.!". Tanya Albert pada diri sendiri. Tapi masih sempat terdengar Alex.
" kata cewek kasir itu, dia ngantuk tadi ngajak pulang tapi kerjaan belum kelar. Makanya dia tidur di kantor! ". Jawab Alex.
" kok tau Lex, kmu nguping ya...!!? ". Tanya Albert.
" iya waktu dia ngobrol sama temannya tadi?" jawab Alex tak berdosa.
" tapi wawa gak sakitkan lex, dia hanya kecapean aja kan? ". Katanya cewek yang kasir sih gitu bert.
Sementara Albert dan Alex bertahan di Cafe hingga Cafe akan tutup, Albert menatap Bill pembayaran yang berada di tangan nya. Alex mengajak Albert untuk pergi dari Cafe
" kita tunggu di mobil aja bert sekalian keadaan bini lo, Bert" ucap Alex.
" iya sekalian kita antar kerumah temannya, lagian aku juga heran kenapa si dia gak mau tinggal di rumah yang jadi mahar dia si. Kan dekat sini?" tanya Albert geram sendiri.
"ya ntar kamu tanya deh biar enak, dari pada tanya aku yang gak tau perasaan bini lo yang aneh itu. Dikasih enak malah cari susah" jawab Alex asal yang di tinju dari samping sama Albert.
"gila lo main kdrt, habis kamu sih... Suruh temuin istrimu langsung gak mau malah mata mata in doi trus gerutu gak jelas ke aku mana kutau isi hati istri kamu si bert. Udah ajak baik baik bilang aku suami kamu yuk kita tinggal satu rumah.kan enak" seloroh alex bersungut sungut di sambut cengiran sama Albert.
Setelah menunggu sedikit lama terlihat dari kejauhan nampak mobil Damayanti keluar dari parkiran cafe melaju melewati depan mobil alex yang diparkir di luar cafe, setelah yakin jika Prameswari ada di dalam mobil bersama Damayanti. Alex melanjutkan mobilnya mengikuti mobil Damayanti dari jarang yang tak terlalu dekat sehingga tidak terlalu di curigai oleh mereka,mobil terus melaju membelah kemacetan kota metropolitan. Setelah mobil yang mereka ikuti memasuki garasi sebuah rumah maka merekapun berbalik kembali melanjutkan membelah kemacetan yang lagi lagi mereka lalui.
"kenapa kamu gak langsung jujur bilang sama Prameswari kalau dia istri sah kamu bert?, aku sahabatmu aku hanya kasih saran jujurlah daripada kamu tersiksa." tanya Alex masih menatap ke depan fokus menyetir.
" aku tidak mau di kira memanfaatkan keadaan nya!, aku ingin dia menerima aku apa adanya? " jawab Albert acuh mendengarkan music klasik Yang di putar alex.
" tapi minimal kasih tau atau datangi dia tunjukkan batang hidungmu, jangan bertemu dia sebagai pimpinan yang arogan. Come on dia your wife not your employee. Kenapa harus mempersulit diri si" tanya Alex lagi dengan menggeleng kan kepala tidak mengerti jalan pikiran sahabat karibnya.
"aku pasti akan temuin dia dan memberi kejutan di hari wisuda nya, aku akan menunjukkan bahwa dia tidak sendiri, dia masih punya aku yang akan melindungi dia dari orang yang berniat jahat padanya terutama ibu tirinya" jawab Albert panjang lebar.
"ya terserah kamu aja jangan sampai kamu menyesal karena dia mencintai orang lain. Kamu tau dia sangat cantik walau tidak suka bersolek dia masih alami" tanya Alex lagi memancing kecemburuan Albert.
" sit, diam. Kamu Alex!". Bentak Albert dingin, Albert marah dan cemburu mendengar kata kata alex namun dia me benar kan karena dia juga menyadari istri mungil ya adalah wanita cantik secara fisik dan hati juga mandiri.
"aku pasti akan mengatakan secepatnya dan kami akan berkumpul" monolog Albert dalam hati.
Albert benar benar merasa kecewa karena 2 tahun hanya bisa menjaga Prameswari dari kejauhan dengan mengirim orang orang kepercayaan nya untuk memantau setiap langkah dimana pun Prameswari berada. Tekad nya untuk mengungkap identitasnya sebagai suaminya telah bulat dan Albert ingin Prameswari pulang kerumah mereka rumah yang di tempati Albert selama ini, rumah yang di jadikan mahar di ijab qobul yang dia ucapkan dalam pernikahan nya dengan Prameswari.
Selama sisa perjalanan mereka tiada pembicaraan lagi diantara mereka berdua, mereka asik dengan pemikiran masing masing. Alex terus menatap ke depan dengan konsentrasi penuh membelah jalan kota metropolitan yang lumayan macet di malam minggu. Alex tidak ingin pecah konsentrasi yang akan akibat fatal bagi mereka berdua.
Sedang kan Albert yang duduk disamping alex masih mengamati temaram lampu jalanan mengingat perjalanan pernikahan yang belum ada titik temu dan keberanian dari Albert untuk menjemput pulang sang istri, padahal Albert telah menyerahkan semua mahar kepada Prameswari yang dia titipkan melalui pengacara nya dengan harapan Prameswari mau pulang atau minimal melihat rumah yang akan mereka tinggali berdua tapi ternyata 2 tahun istrinya tidak pernah tertarik dengan semua itu bahkan menanyakan tentang suaminya pun tidak pernah istrinya lakukan. Albert sungguh harus memikirkan langkahnya.