WARNING!! Mengandung adegan dewasa, bijaklah dalam membaca. *** Tangan kekar itu masih bermain di kulit tubuh Sicilia. Meremas ke dua gunung kembar itu dengan lembut. Sicilia mulai membuka mata. Sentuhan lembut itu membuatnya meremang dan laju napasnya lebih cepat dari biasanya. “Maaf, jika abang menganggu tidurmu,” lirih Sandi tepat di depan daun telinga Sicilia. Sicilia melepaskan ke dua tangan kekar itu dari tubuhnya, ia mulai membalik badan dan kini pandangannya bertemu dengan pandangan Sandi—suaminya. Sicilia kembali meraih tangan itu dan meletakkannya di atas ke dua gunung kembar miliknya. Wanita itu pun mendekatkan wajahnya ke wajah Sandi lalu mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir Sandi. Mendapat perlakuan seperti itu, Sandi langsung bangkit dan menyuruh Sicilia duduk. Ia

