POV Haitam
Pelayan mendorong kursi rodaku ke ruang santai keluarga. Nenek mengangguk padaku dengan ramah tapi matanya terlihat tajam. Aku terlambat, baru setengah jam, tapi nenekku tidak mentolerir keterlambatan.
Di ruang itu sudah ada Nola dan ibunya. Beberapa wanita yang tak kukenal, kurasa mereka penjahit busana. Mereka sedang memasang beberapa pakaian pengantin pada manekin.
"Haitam," katanya. "Kenapa kau tidak menyapa calon mertua dan istrimu? Kau tidak perlu kembali ke sekolah untuk belajar sopan santun, bukan?"
Aku tidak melirik Nola, meskipun aku mengangguk dan tersenyum pada ibunya dengan sangat sopan. Rasanya aneh tiba-tiba memiliki calon istri yang asing.
Inilah yang gadis yang diharapkan nenekku. Aku baru tahu kalau dia baru sembilan belas tahun. Ia tampak nyaman dengan gaya busana wanita dewasa dan make up yang terlalu berlebihan menurutku. Seperti anak kecil yang bermain-main dengan pakaian ibunya.
Aku merasa kasihan padanya. Ia pernah menolongku, sekali. Ekspresinya tidak bisa dibaca, terlalu cerdas untuk menyembunyikannya. Gadis pintar, kurasa dia sedang mengelabui semua orang.
"Bagaimana dengan kakimu?" Tatapannya tiba-tiba terbang ke arahku.
Aku terkejut, tidak menyangka dia akan berbicara padaku. Kemudian ia melirik cepat pada ibunya yang memberinya senyuman super lebar. Sekarang jelas, ibunya pasti mengancamnya untuk berbicara padaku.
"A-aku," jawabku. "Lebih baik."
"Kurasa kau sudah bisa berdiri untuk mencoba baju rancanganku," tanya Nola dengan tersenyum.
"Tentu saja," jawabku. "Mungkin dengan sedikit bantuan."
Nola mengambil satu stel jas, jari-jarinya menyusuri dengan lambat, memperhatikan detail jahitannya. "Ini model jas seperti di film matrix. Aku suka sekali dengan film itu. Apa kau suka?"
"Aku belum pernah menontonnya," kataku. "Tapi jas itu sangat bagus." Aku berbohong.
Ya ampun, apa-apaan ini. Teman-temanku akan menjadikanku lelucon. Nalo dan adiknya sama-sama aneh.
Seorang pelayan pria membantuku memakai baju di kamar sebelah. Aku kembali ke ruangan itu dan Nola juga sudah mengenakan gaun pengantinnya.
Dia bangkit dari kursinya dan semu di wajahnya semakin jelas. Aku terus menatapnya dan tersesat dalam pikiranku sendiri. Sepertinya itu membuatnya takut.
Dia terlihat cantik dengan gaun pengantin mengembang besar seperti Cinderella, dan aku seperti sedang melakukan cosplay. Aku berharap pernikahan ini tanpa pesta nanti.
Akhirnya kegiatan membosankan menjajal beberapa pakaian usai sudah. Ketika wanita dan putrinya itu pergi, nenekku menoleh ke arahku dengan senyum yang cerah.
"Kau benar-benar seperti anjing penurut, aku tak menyangka kau bisa seperti itu. Sungguh menawan jika kelakuanmu menyenangkan seperti tadi." Nada nenek penuh dengan sarkasme.
Aku mengangkat bahu, "Gadis itu baik dan pintar," kataku "Lebih pintar dari kelihatannya dan dari yang diinginkan ibunya."
"Aku tak menyangka hal-hal seperti itu menarik bagimu. Kukira kau hanya tertarik dengan gadis seksi." Nenek mendengus. "Tapi Haitam, ingat satu hal; istri yang pintar akan menjadi aset berharga atau sebuah beban berat. Kau harus ketat mengawasinya agar tak lepas darimu."
"Aku berharap nenek yang mengawasinya. Mana mungkin aku bisa menahannya."
Nenek menampar lenganku. "Kau benar-benar payah."
Aku menghela nafas dan memejamkan mata. Wajah cantik Nola yang tidak bersalah muncul di hadapanku. Di sampingnya ada saudara laki-lakinya yang melotot.
Dendam yang tak bisa kupatahkan meski seberapa banyak aku mencoba.