Apel Hijau

1046 Kata
Seminggu lagi aku akan menikah dan wanita tua itu adalah penggemar berat segala macam tradisi. Salah satunya; pingitan. Dia percaya bahwa makhluk tak kasat mata akan sangat tertarik pada pria yang akan melepas masa lajangnya. Ada yang bisa menjelaskan kenapa itu? Benar-benar tidak masuk akal bahwa para demit akan sangat ingin menculik seorang jejaka yang akan melakukan upacara pernikahan. Ckckck … aku sekarang sudah berhasil menyelinap keluar untuk mengendarai tungganganku yang sudah merindukan pantatku. Kakiku cukup bisa berlari, aku hanya pura-pura masih tidak bisa berjalan untuk mengelabui nenekku. Kau pasti khawatir jika nanti aku akan diculik. Tidak … kau tidak perlu khawatir karena aku bukan perjaka, sudah sejak lama. Lagi pula para makhluk itu menginginkan darah perjaka bukan? Darahku sudah tidak suci. Aku sudah jujur, dan kuharap kau mengerti. Sangat sulit menjadi ketua geng motor yang tampan, para gadis melemparkan tubuh mereka dalam pelukanku dengan cuma-cuma. Jadi kuharap kau tidak menghakimiku. Berdoalah saja untukku, semoga suatu hari ban motorku akan mengarah ke jalan yang benar. Meskipun b******n seperti ini, tapi di dalam hati kecilku terkadang, meskipun tidak terlalu sering. Aku ingin menjadi pria kuno; pria yang membanting tulangnya untuk sebuah pekerjaan yang dicintainya dan menghabiskannya bersama keluarga yang dicintainya. Asal kau tahu, aku belum pernah bekerja seumur hidup. Yang membuatku sibuk adalah motor dan geng yang selalu dikutuk nenekku. Tepat pukul 10 malam dan jalanan mulai sepi, aku memacu adrenalinku yang telah lama tidur, menuju pesta untuk melepas masa lajangku yang diprakarsai gengku. Ini akan menjadi malam yang panjang. Tapi sebelum itu menjadi panjang, suara motor trail terdengar mengejarku di belakang. Aku selalu benci kata-kata nenekku. Tapi terkadang kata-katanya selalu benar, seperti sebuah kutukan. Nalo sudah memata-mataiku sampai seketat ini. Dia memintaku untuk menepi, sudah pasti dia ingin menawar pernikahan itu. Segala macam u*****n dan makian keluar dari mulut Nalo yang berusaha mensejajarkan motornya dengan motorku. Apa mungkin dia sudah hampir putus asa? Dia mulai menjejakkan kakinya ke motorku. Lalu tendangan berikutnya membuatku hampir oleng. Kau pernah melihat film action yang bertarung di atas motor. Ya, begitulah gambaran perkelahian kami. Aku tidak perlu merincinya, karena itu tidak patut untuk ditiru. Dan di sebuah tikungan yang menurun lah, kami sama-sama menabrak sebuah truk. Lampu truk yang menyilaukan mata, itu saja yang terakhir kulihat. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Hingga aku terbangun sekarang ini tergeletak di atas rerumputan hijau yang dicukur rapi. Aneh sekali, aku tidak merasakan apa-apa. Apa aku terpelanting ke halaman rumah seseorang? Di atasku sebuah pohon apel dengan buah yang lebat. Aromanya sangat segar, membuat liurku menggenang. Pohon apel? Aku memang tidak tahu banyak tentang pohon apel, tapi mataku hampir tidak pernah melihat sebuah pohon apel rindang yang tumbuh di sekitar sini. Kalau di dataran tinggi seperti Malang, mungkin aku tidak heran. Tapi sekarang pohon ini tumbuh subur di sini, di kota. Aku semakin heran. Aku berdiri dan memetik sebuah, gigitan pertama pada permukaan apel hijau yang mulus itu membuat liurku hampir menetes. Rasanya luar biasa, jauh lebih manis dan renyah daripada yang biasa ada di meja makan dengan merek nenek apa? Entah lah aku lupa. Dan ada sebuah rumah, terlihat sudah tua dengan kursi goyang di depannya. Pasti seorang nenek-nenek yang tinggal di sini. Suara teriakan semakin mendekat, dari belakang rumah Nalo berlari ke arahku sambil berteriak, “Lari!” Di belakangnya seorang nenek-nenek dengan tampilan sangat aneh. Jauh dari kata sexy seperti nenekku. Seperti perempuan tua pada umumnya, rambutnya penuh uban. Ada yang tidak biasa darinya, ia memakai sepatu roda yang sama tuanya berwarna merah. Sama merahnya dengan gaun selutut yang dia pakai. Satu lagi yang tampak nyentrik; bagian atas gaunnya yang berlengan panjang dengan warna biru, terdapat jubah seperti superman. Bagian dari nenek-nenek itu yang paling mengintimidasi adalah matanya yang super lebar dan kecepatannya dalam meluncur di atas sepatu roda. “Wuuzzz ….” Nalo melewatiku. Dan nenek itu memukulkan tongkatnya yang seperti pegangan payung ke pantatku. “Dasar bocah nakal, pencuri. Kau mencuri milikku yang berharga. Sekarang rasakan ini!” Kau ingin tahu rasanya, ini menyakitkan. Tidak kusangka dari tangannya yang kurus itu bisa menghasilkan kekuatan pukulan yang menyakitkan seperti ini. Aku berlari ke arah Nalo berlari. Dan Nenek itu sangat cepat dengan sepatu rodanya. Di sebuah tikungan pagar kayu yang tinggi, sebuah tangan menarikku dan membekap mulutku. Jari Nalo di letakkan di bibirnya, sebuah isyarat untuk diam. Kami bersembunyi di balik tanaman perdu penuh bunga di halaman rumah seseorang. Nenek Itu berbelok menukik tajam dan menabrak pagar di seberang jalan. “Brakkkk!” Kami hampir memeriksanya dan urung ketika perempuan tua itu muncul dari lubang menganga pada pagar yang barusan dia tabrak. Ya ampun … kurasa dia buka perempuan tua biasa. Dia meluncur lagi dengan sepatu rodanya, meneriakkan makian-makian paling c***l yang pernah diteriakkan seorang perempuan tua. Kepala kami melongok, melihat ke arah perginya perempuan tua itu. Jalanan menurun, tubuhnya melambung tinggi. Dengan tongkatnya ia bergelantungan di kabel listrik dan meluncur begitu cepat. Aku dan Nalo terengah, mengatur nafas kami dan tersengal. Masih bersembunyi, kami tetap waspada. Perempuan tua itu bukan nenek-nenek biasa. "Heh … b******n, kau ingat apa yang terakhir kita alami?" tanya Nalo padaku. "Lampu truk, suara keras … dan entahlah, tiba-tiba aku sudah ada di bawah pohon apel. Lalu kenapa kau juga bisa di sini, b******n tengik?" "Aku juga tidak tahu, aku terbangun di halaman belakang rumah perempuan tua itu. Aku memasuki pintu belakangnya dan memakan apel yang ada di meja makannya. Dan dia mengejarku. Kita tidak mungkin tersesat sejauh ini bukan? Tempat ini asing. Aku sangat mengenal tempat tinggal kita, ini sangat berbeda." "Apa mungkin kita sudah mati?" tanyaku. Nalo terdiam memandangku. Seperti sedang berpikir keras. "Tapi tempat ini terlalu indah untuk disebut sebagai neraka. b******n seperti kita tidak mungkin di surga bukan?" "Betul juga. Tapi mungkin ini tempat sementara sebelum kita dilempar ke neraka. Kau pernah menonton film horor? Arwah katanya akan bergentayangan sebelum mereka digiring ke neraka." Nalo mendengus, "Aku tidak suka menonton film. Tapi setidaknya aku bersyukur, kalau kau mati, itu artinya adikku tidak perlu menikah denganmu. Tidak sia-sia kita mati bersama." Aku terkekeh, "Kau tidak ingat perjanjiannya, jika aku mati, maka adikmu akan mengandung anakku. Dokter telah menyimpan benihku." "Itu lebih baik daripada harus menikah denganmu. Paling tidak tanganmu yang kotor itu tidak akan pernah menyentuh adikku." Nalo tertawa penuh kemenangan. "Brakkk!" Perempuan tua itu menjebol pagar kayu di samping kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN