Nenek-nenek Perkasa

1033 Kata
Nalo dan aku berteriak bersamaan, terkejut setengah mati. Rasanya aku kembali ke jaman kenakalan anak-anak. Berlari dan dikejar, itu sangat memacu adrenalin. Awalnya sangat menyenangkan tapi bayangkan jika harus berlari dan terus berlari tiada henti karena yang mengejarmu adalah seorang nenek-nenek yang gagah perkasa, apalagi masih bisa bersepatu roda. Aku heran, dunia macam apa ini? Seumur hidup aku belum pernah menemukan perempuan tua seperti ini. Nenekku sendiri saja sudah sangat menakutkan dengan mulutnya yang kejam. Tapi dia masih sangat normal, sering sakit-sakitan, sering kehabisan tenaga dan lambat. Sesekali perempuan tua itu terpeleset tapi tidak lama kemudian dia bangkit lagi dan seperti tidak terjadi apa-apa, dia kembali mengejar kami. Hanya ada beberapa menit untuk berhenti ketika kami berhasil bersembunyi. Ada satu lagi keanehan, sebuah gulungan kertas jatuh dari langit dan diikuti sekotak besar kardus yang berisi dua pasang sepatu roda dan dua tongkat. “Berlarilah! Terus berlari sampai ke luar angkasa. Kuncinya adalah kekompakan. Kalian tidak kompak, habislah kalian!” Aku dan Nalo semakin bingung dengan gulungan kertas yang berisi instruksi seperti sebuah permainan game. Kami berdua sama-sama hampir tidak pernah bermain game. Kami lebih tertarik memodifikasi motor kami, selain itu hanya ada touring dan wanita sexy dalam keseharian kami. Kami bukan gamers. Tunggu, tunggu! Ada seseorang yang kukenal sangat menyukai games. Dia adalah nenekku. Bahkan di rumah ada sebuah ruangan khusus untuk memuseumkan peralatan gamenya yang sudah ketinggalan jaman. Playstation keluaran paling awal pun ada di sana. Kau pasti belum pernah menemukan nenek-nenek gamer seperti nenekku. Jika ada yang sejenis dengan nenekku, itu sebuah keajaiban dunia. Kata nenek, “Bermain game bisa mencerdaskan otak!” Kau percaya? Aku tidak, meski harus kuakui nenekku memang sangat cerdas untuk ukuran nenek-nenek. Jika kehidupan setelah mati seperti dunia game, aku harus memberitahu nenekku bahwa dia harus cepat-cepat meninggalkan dunia. Kurasa dia akan sangat betah di sini. Bagaimana nasib Nola? Meskipun semua orang menyebutku b******n tapi dalam diriku masih ada sisi manusia berperasaan. Apakah dia sudah mengandung anakku sekarang? Dadaku seperti sedang digedor dengan keras memikirkan kemungkinan itu. Nenekku memang keterlaluan. Apa pentingnya menjaga kelangsungan eksistensi penerus keluarga jika itu bisa membuat orang lain menderita. Kenapa tidak menyumbangkan saja bisnisnya ke yayasan sosial jika memang sudah tidak memiliki penerus keluarga, mudah bukan. Kembali lagi ke gulungan kertas itu, Nalo memberikannya kepadaku. Dia terlihat sedang berpikir keras. Bermain game ini memerlukan konsentrasi dan penentuan akan momentum yang baik ketika kita melompat atau bergelantungan. Di dalam kardus itu juga terdapat dua tongkat untuk menghalau tongkat perempuan tua itu. Jadi bisa digunakan sebagai alat untuk membela diri ketika akan dipukul.Tongkat tersebut juga bisa dipergunakan untuk bergelantungan di tali. Sangat diperlukan keahlian melakukan lompatan dan frontflip untuk menghindari kejaran dan medan yang tidak selalu datar. Ada peringatan untuk kehati-hatian saat mendarat dengan sepatu roda itu. Karena kalau salah posisi, kami akan terjatuh dan perempuan tua itu bisa memukuli kami dengan tongkatnya. Solidaritas dari antar pemain juga memegang peran penting, bagaimana kami akan saling membantu untuk bisa berdiri lagi dengan sepatu roda di kaki. Ada tiga apel dalam setiap level yang bisa kami kumpulkan dan makan ketika bisa melewatinya dengan selamat. Jadi, selain dikejar kami juga harus beradu kecepatan dengan perempuan tua itu dalam mendapatkan apel karena tidak ada makanan lain yang bisa digunakan untuk mengisi perut kami yang tentu akan keroncongan dalam pelarian. Selain apel, ada juga koin yang harus dikumpulkan untuk power ups yaitu helm, kulit pisang dan bola kasti. Akan ada toko yang menjual benda-benda itu ketika kami berhasil menyelesaikan level dan mengumpulkan koin. Helm akan melindungi kami ketika kami terjatuh dan berfungsi ganda sebagai celengan, jadi koin terjaga tetap aman saat kami melompat dan bergelantungan tanpa membuatnya tabur. Jadi tidak perlu repot-repot mengumpulkan koin yang terjatuh dan segera melanjutkan pelarian. Pisang berguna untuk membuat si perempuan tua itu terjatuh dan memperlambatnya. Sedangkan bola kasti berguna untuk menghancurkan dinding atau kaca yang kadang menghalangi pelarian kami. Selain tubuhnya yang perkasa, nenek itu memiliki seekor anjing dan seorang pria tua sebagai pacarnya yang akan membantunya mengejar kami ketika sang nenek harus berhenti untuk pergi ke toilet atau hal darurat lainnya. Ya, aku paham itu. Karena seperti nenekku, dan manusia lanjut usia lainnya. Mereka harus bolak-balik ke toilet karena sistem organ tubuh yang telah menua membuat kandung kemihnya tidak bisa menahan air seni dalam waktu lama. Perempuan tua itu akan menggiring kami ke 3 dunia yang berbeda dengan 12 level yang harus kami lewati. Di bagian akhir gulungan terdapat keterangan bahwa game ini mengajarkan kami tentang bagaimana menjaga kecepatan dengan cara fokus akan momentum yang ada dan bekerja sama untuk saling menjaga dari serangan perempuan tua itu. Jadi tingkat kerja sama yang baik sangat menentukan terlewatinya setiap level. Selain ketegangan yang tiada habisnya dalam menghadapi nenek-nenek dan pacar tuanya, serta tidak ketinggalan anjing setia mereka, kami akan disuguhi pemandangan sekitar yang tidak kalah menegangkan untuk bergelantungan dan frontflip. Kabar baiknya akan ada musik jazz yang akan menjadikan suasana pelarian menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Yang benar saja? Aku tidak suka musik jazz, telingaku sudah cukup bosan mendengarnya dari alat pemutar musik tua milik nenekku. Dan satu lagi, di toko yang menyediakan peralatan seperti helm, akan ada televisi model jadul yang bisa memutar level yang telah kami lalui. Di sana kami bisa mempelajari bagaimana kami bersama-sama dalam satu tim pelarian. Aku bisa mengerti mengapa nenek ini marah karena kami memakan apelnya, tapi apakah tidak ada cara lain untuk berdamai selain mengikuti permainan pelarian diri yang menjengkelkan seperti ini. Jujur aku tidak suka dikejar nenek-nenek, kalau perempuan sexy aku akan dengan senang hati. Apa tidak ada powers up yang akan mengubah perempuan tua itu menjadi wanita muda yang cantik dan menggairahkan. Pelarian ini terlalu horror dengan mata besar mengintimidasi penuh keliaran serta bibir keriput dengan gigi palsu yang putih bersinar. Aku bahkan tidak tega melempari perempuan tua itu dengan kulit pisang, itu sangat kurang ajar bukan. Aku akan senang melihat perempuan mengenakan rok mini merah menyala terjungkal untuk mengintip sedikit apa yang ada di balik roknya. Tapi untuk perempuan itu, apa nanti yang akan kami temukan? Ya ampun, jangan bilang popok untuk manula. Atau mungkin yang lebih menggelikan daripada itu seperti pakaian dalam penuh renda jadul. Ya Tuhan, ampunilah kami. Kuharap kami tidak akan pernah memakan apel itu jika akibatnya bisa seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN