"Sial... sial! Harusnya aku sekarang lagi sama Arsha, menikmati malam panjang berdua dengannya bukan malah menemani Tante Indah." Hana melampiaskan kemarahannya di toilet. Telapak tangannya sampai memerah karena memukul wastafel berulang kali.
Hana rupanya wanita licik, ingin mendapatkan Arsha seutuhnya dengan cara yang tidak baik. Perempuan yang mempunyai butik cukup terkenal di kalangan artis ibukota juga perempuan-perempuan sosialita dengan sengaja menaruh obat perangsang dalam minuman Arsha. Hana memang memanfaatkan kesempatan malam ini untuk meluluskan rencananya karena dia tahu kalau Arsha sepertinya engan menerima perjodohan yang direncanakan orang tua mereka.
"Bisa-bisanya aku gagal mendapatkan Arsha seutuhnya malam ini, semua gara-gara Tante Indah--"
"Tante kenapa, Han?" Indah tiba-tiba berdiri di sebelah Hana.
"Sial, aku lupa kalau tadi ke toiletnya bareng Tante Indah lagi," gerutu Hana dengan wajah yang sudah pias.
"Eh, eng--gak Te. Udah selesai? Yuk kembali ke dalam, takut om kelamaan nunggu." Hana mengapit lengan Indah dan mengajaknya kembali ke balroom.
***
Sementara itu di kamar Arsha, Alina berhasil melepaskan diri dari kungkungan atasannya yang sedang dikuasai gejolak tak semestinya. Alina menendang aset berharga Arsha menggunakan lututnya hingga membuat pemiliknya terguling ke lantai sambil memegangi pusaka yang sudah menegang sempurna itu. Rasa ngilu, nyeri bercampur jadi satu.
"Gila kamu Al, kamu bisa membunuh saya!" raung Arsha masih bergulingan di lantai.
"Salah Bapak sendiri. Saya permisi, assalamualaikum." Alina gegas meninggal apartemen Arsha dengan rasa marah dan kecewa.
Sepeninggal Alina, tubuh Arsha terasa semakin terbakar. Aliran darahnya mendidih, pikirannya kacau. Obat perangsang yang tak sengaja diminumnya merusak kendali dirinya, menjerumuskannya ke dalam jurang insting liar. Dan saat ia hampir kehilangan kendali sepenuhnya, dengan sisa kewarasan yang ada Arsha menuju ruang gym pribadinya.
Dengan berolahraga dia berusaha meredakan gejolak hasratnya gara-gara minuman sialan yang tidak sengaja diminumnya. Pikiran masih terbayang kejadian tadi, wajah Alina yang ketakutan, tubuhnya yang gemetar, suaranya yang penuh kemarahan—semua terukir jelas di benaknya. Arsha tahu, ia telah melakukan kesalahan besar terhadap sekretarisnya.
"Maafkan saya Al, semoga besok kemarahanmu sudah reda dan kita bisa membicarakan tentang kejadian tadi." Penyesalan tergambar jelas pada wajah menawan itu.
Setelah cukup lama melakukan kegiatan fisik, gejolak dalam tubuh Arsha perlahan mulai mereda. Sambil mengelap peluh yang membanjir di sekujur tubuhnya, diteggaknya air putih sampai dua tumbler ukuran 1 liter. Dirasa keringatnya sudah kering, Arsha ganti berendam dengan air dingin. Urusan pilek, flu, biar saja yang penting reaksi akibat obat sialan itu hilang dan dia bisa tidur nyenyak malam ini.
***
Tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu, Alina tidak datang ke kantor. Gadis yang cekatan, cepat belajar hal baru, dan bertanggung jawab pada pekerjaannya itu bagai hilang ditelan bumi. Tak ada suara langkahnya, tak ada catatan jadwal yang biasanya rapi di mejanya. Tidak ada suara bawelnya saat mengingatkan jam makan siang, dan Arsha merasa kehilangan, yang lebih buruk, ia tahu ini salahnya.
“Dia tidak memberi kabar?” tanya Arsha pada bagian HRD.
“Kami sudah mencoba menghubungi, tapi dia tidak menjawab,” jawab seorang staf.
Arsha menghela napas berat. Ia bisa saja mencari tahu keberadaan Alina dengan mudah, tapi apa haknya setelah apa yang ia lakukan? Biar bagaimanapun ia harus meminta maaf pada gadis itu.
Arsha memang selalu menganggap Alina gadis bar-bar, serampangan, bicaranya juga ceplas-ceplos, tapi nyatanya tanpa Alina, semuanya berantakan. Jadwal meeting kacau, proposal yang harusnya sudah dikirim masih tertunda, dan bahkan tugas-tugas kecil yang biasa Alina tangani terasa seperti gunung yang harus ia daki sendiri.
Di tengah kekacauan itu, masalah lain datang. Suara ketukan pintu mengalihkan atensinya dari tumpukan berkas yang tadi diberikan oleh Bram.
Hana tiba-tiba muncul di kantor dengan senyum yang terlalu familiar. Wanita itu masih dengan tekadnya yang pantang mundur sebelum mendapatkan Arsha seutuhnya.
“Kudengar sekretarismu menghilang? Kasihan sekali kamu, Sha.”
Arsha mengeraskan rahangnya. Hana selalu tahu bagaimana memanfaatkan situasi.
“Apa maumu, Hana?” tanyanya dingin.
“Aku hanya ingin menawarkan bantuan. Mungkin aku bisa menggantikan posisi sekretarismu... atau lebih.”
Arsha mendesah, merasa muak. “Aku tidak butuh bantuanmu. Lagian kamu pasti sibuk mengurus butikmu sendiri," tolak Arsha tanpa basa-basi.
Hana tersenyum simpul. “Atau mungkin kau hanya menunggu Alina kembali? Apa dia begitu penting bagimu?”
Arsha tak menjawab, melanjutkan pekerjaannya memeriksa berkas yang ada di hadapannya.
"Baiklah kalau kamu menolak, aku hanya menawarkan bantuan, tapi perlu kamu ingat, Sha. Orang tua kita sudah sepakat untuk menikahkan kita, jadi aku harap kamu jangan membuka hati untuk wanita manapun, apalagi sekretaris mu itu." Ucapan Hana memaksa Arsha mengangkat wajahnya dan menatap wanita dengan tampilan modis itu.
"Perasaan tidak bisa dipaksa Han, dan kamu tahu aku belum menyetujui perjodohan ini."
"Setuju atau tidak, dipaksa atau tidak nyatanya orang tua kamh yang awalnya menghendaki semua ini. Jadi tolong kerjasamanya." Hana menatapnya sejenak sebelum akhirnya pergi, meninggalkan Arsha dengan pikirannya sendiri.
***
Malam itu, Arsha akhirnya memberanikan diri mendatangi apartemen Alina. Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka sedikit.
“Kenapa Bapak kesini?” Suara Alina terdengar dingin.
“Sa--ya ingin meminta maaf,” kata Arsha lirih. Baru kali ini ia merasa grogi, tegang saat berhadapan dengan seseorang. Bahkan terasa lebih menakutkan saat berhadapan dengan ayahnya yang sedang marah.
Alina mengangkat dagunya, matanya penuh kewaspadaan. “Permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi, Pak Arsha.”
“Saya tahu,” kata Arsha. “Saya tidak akan mencari pembenaran. Saya hanya ingin kamu tahu kalau saya menyesal.”
Alina menatapnya Arsha lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, lupakan saja. Anggap kita tidak pernah saling kenal, selesai.”
"Lalu pekerjaan kamu bagaimana? Kamu masih punya tanggung jawab yang harus diselesaikan."
"Bapak mau menuntut pinalty kalau saya resign? Dari awal bekerja di One Diamond, Bapak sudah memecat saya sebelum mulai bekerja, lalu memanggil saya dan menempatkan di posisi yang tidak sesuai dengan deks job yang saya lamar. Meminta saya untuk jadi tameng ketika Bu Hana datang, jadi nambah musuh, nambah orang benci saya. Kemudian Bapak melecehkan saya, lalu apalagi yang harus saya harapkan untuk tetap bekerja di One Diamond?" Suara Alina terdengar bergetar sepertinya berusaha menahan emosinya supaya tidak meledak.
Arsha terdiam, hatinya terasa mencelos mendengar gadis di hadapannya mengeluarkan isi hatinya yang mungkin dipendam selama ia bekerja dengannya. Bukan Arsha kalau akhirnya menyerah begitu saja.
“Alina, saya berantakan tanpa kamu, kerjaan kacau. Tolong kembali bekerja, saya butuh kamu," pinta Arsha dengan penuh harap.
Alina terkekeh sinis. “Untuk bekerja? Itu saja?”
Arsha menatapnya dalam. “Ya... dan tidak. Saya memang butuh kamu di kantor, tapi lebih dari itu, saya juga butuh kamu di hidup saya.” Entah kenapa tiba-tiba Arsha bisa berkata seperti itu. Semua di luar kendalinya
Alina terdiam, jelas tak menyangka kalau atasan akan mengatakan hal itu. Apa ini sebuah ungkapan perasaan Arsha terhadap dirinya. Alina tersenyum miris.
"Maksud Bapak apa ya ngomong seperti itu?"
"E, ma--af saya tidak bermaksud apa-apa, lupakan. Tolong kembali ke kantor ya. Saya benar-benar minta maaf untuk kejadian malam itu." Arsha blingsatan karena ucapannya sendiri dan cepat-cepat mengalihkan topik pembahasan.
Alina masih terdiam dengan tatapan menusuk ke arah Arsha. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis yang selalu terlihat cantik walaupun tanpa make up itu.
“Saya janji,” lanjut Arsha, “kejadian malam itu tidak akan pernah terulang lagi. Saya akan memastikan kamu aman bersama saya.”
Lagi-lagi Alina menatapnya lama, seakan mencari kebohongan di wajahnya. Tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan dan penyesalan yang mendalam.
“Baik,” kata Alina akhirnya. “Saya akan kembali bekerja, tapi dengan syarat Bapak jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta pada saya. Dan kalau boleh jujur, saya belum sepenuhnya memaafkan Bapak."
Arsha tersenyum tipis. Itu cukup untuk sekarang. Setidaknya, Alina tidak benar-benar pergi darinya. Dan itu berarti, ia masih punya kesempatan untuk menebus kesalahannya.
"Saya janji, besok mulai masuk lagi ya."
"Lin, siapa lelaki ini?" tiba-tiba terdengar suara yang membuat Alina juga Arsha menoleh ke sumber suara.
Bersambung.