Bab 6. Ribut

1021 Kata
Arsha masih berdiri di depan pintu apartemen Alina, gadis itu memang sengaja tidak mempersilaka atasannya masuk. Bukan nita tidak sopan, hanya saja Alina bersikap waspada, masih trauma dengan perlakuan Arsha malam itu. Dan tanpa mm mereka sadari seseorang yang dulu begitu dicintai Alina sejak tadi memperhatikan mereka. "Lin, siapa lelaki ini?" tanya sambil mendekat. Alina dan Arsha menoleh ke sumber suara. Seketika Alina mememjamkan mata dan membuang napas kasar. "Mau apalagi ke sini?" “Aku hanya ingin bicara,” ucap Reza--mantan kekasih Alina, suaranya penuh harap. Alina menguatkan hatinya. “Kita sudah bicara. Tidak ada yang perlu diulang.” Namun, sebelum Reza bisa membalas, mata pria itu menatap lelaki yang masih setia berdiri di hadapan Alina "Apa karena dia kamu tidak mau memberi aku kesempatan?" Nada suara Reza langsung berubah, menyiratkan kecemburuan. Alina mendengus. “Reza, berhenti bersikap seolah-olah kamu punya hak mengatur hidupku.” Alin sudah benar-benar muak dengan sikap Reza yang playing victim, sudah jelas dia yang selingkuh, tapi sekarang seolah menyalahkan dirinya hanya karena ada Arsha “Kamu memilih dia daripada aku?” Reza mencengkeram lengan Alina sampai pemiliknya meringis kesakitan. "Jangan kasar sama perempuan! Bisakan bicara tanpa harus ada kontak fisik!" Arsha menarik paksa tangan Reza supaya melepaskan cengkeramannya. "Kamu siap berani ngatur-ngatur?" Reza memutar tubuhnya langsung berhadapan dengan Arsha, bahkan mantan kekasih Alina mendorong tubuh Arsha dengan dadanya. "Saya bertanggung jawab atas keselamatan Alina, jadi setiap orang yang berurusan dengannya otomatis akan berurusan juga dengan saya." Alina cukup kaget dengan jawaban tegas Arsha. "Lah dia ternyata bisa tegas dan nggak menye-menye, lalu kenapa ngurus satu perempuan saja nggak bisa," gerutu batin Alina. “Jadi benar? Kamu dengan dia?” Reza kembali menegaskan tentang apa yang menjadi asumsinya. "Iya!" jawab Arsha cepat. "See?" “Tidak,” jawab Alina tegas. “Tapi siapapun yang ada di hidupku sekarang, bukan urusanmu!" Reza mengepalkan tangan, lalu melangkah pergi dengan wajah kecewa. Kesempatannya untuk memperbaiki hubungan dengan Alina rupanya sudah benar-benar kandas. Dan di mata Reza, Arsha yang dianggap kekasih baru Alina lebih segalanya dari pada dirinya. menghela napas berat. "Kenapa Pak Arsha mengatakan kalau kita ada hubungan? Udah lupa dengan janji Bapak yang tidak akan pernah melibatkan perasaan di antara kita, just a professional working relationship!" protes Alina begitu sosok Reza masuk ke dalam lift. "Maaf bukan begitu maksudnya Al, saya hanya ingin lelaki itu tidak lagi mengganggumu. Kalau kehidupan pribadimu terganggu, tidak tenang pasti akan berimbas pada kinerja kamu juga." "Pokoknya besok kamu harus kembali masuk, saya benar-benar membutuhkan kamu." "Asal Bapak bisa menepati janji dan tidak melanggarnya." "Oke, deal!" Arsha mengulurkan tangan untuk menyepakati perjanjian di antara mereka. "Deal!" Alina menjabat erat tangan Arsha sebagai tanda jadi. *** Alina menepati janjinya untuk masuk kembali jadi sekretaris Arsha. Bram tersenyum menyambut kedatangan gadis yang membuat bosnya beberapa hari terakhir jadi uring-uringan. Memang jadwal kerja Arsha jadi sedikit berantakan, tapi masih ada dirinya yang sebenarnya bisa menghandel. Namun, lagi-lagi atasannya itu tetap kukuh untuk mendatangi Alina dan memintanya masuk kembali. "Selamat datang kembali Lin," sapa Bram sambil menyerahkan tab juga buku jurnal yang biasa Alina gunakan untuk mencatat scedule Arsha setiap harinya. "Iya Pak, terima kasih." "Saya sudah menyusun jadwal Pak Arsha sampai tiga hari kedepan, nanti kamu tinggal menyesuaikan kalau ada jadwal susulan atau rescedule." "Baik Pak, sekali lagi terima kasih." "Sama-sama." Bram kembali ke ruangannya, sedang Alina mulai mengerjakan tugasnya. Meneliti berkas-berkas sebelum diserahkan pada Arsha untuk dibubuhi tanda tangan atau harus dipelajari lebih lanjut oleh CEO One Diamond tersebut. Pesawat telepon yang ada di atas meja Alina berdering, mengusik fokus Alina. Segera diraihnya gagang berwarna abu-abu tersebut dan meyapa dengan suara merdunya "Iya Pak." "Ke ruangan saya sekarang!" "Baik Pak." Alina masuk ruangan Arsha setelah sebelumnya mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh atasannya itu. "Jadwal saya hari ini apa saja?" Alina dengan intonasi jelas membacakan jadwal kerj Arsha untuk hari ini. Lelaki yang lebih menawan saat menggunakan kacamata itu menyimak dengan seksama dan sesekali mengangguk. "Nanti metting di luar kamu yang ikut ya, Bram saya tugaskan ke Bali untuk melihat lokasi dan perkembangan pembebasan lahan." "Baik Pak, ada lagi yang harus saya catat atau siapkan?" "Proposal dari perusahaan Kim Company tolong kamu pelajari, lusa sepertinya Mr. Kim akan membicarakan kesepakatan selanjutnya." "Baik Pak, ada lagi?" "Sudah itu saja, kamu bisa kembali bekerja." Alina keluar setelah meminta izin undur diri. Arsha memperhatikan sekretarisnya sampai tidak tampak lagi bersamaan dengan tertutupnya pintu ruangan. *** "Mohon maaf, Ibu mau kemana?" Alina langsung berdiri saat Hana melewati mejanya. "Apa urusan kamu? Saya mau ketemu calon suami saya!" "Sudah ada janji?" Walau tahu jadwal Arsha, tapi Alina tetap bersikap profesional. "Apa perlu saya bikin janji untuk bertemu calon suami? Enggak' kan?" Hana melanjutkan niatnya dan Alina sigap menghadang. Bukan karena takut kehilangan pekerjaan seperti sekretaris sebelumnya, mencegah Hana masuk ke ruangan Arsha adalah salah satu tugas dan tanggung jawabnya. "Mohon maaf saya tidak bisa mengizinkan Bu Hana masuk. Silakan Anda keluar dan saya harap jangan pernah datang lagi untuk mengganggu Pak Arsha." Alina tegas meminta Hana pergi. "Apa hak kamu melarang-larang saya?"Hana terpancing emosinya. "Saya sudah mendapat perintah langsung dari Pak Arsha untuk tidak mengizinkan Bu Hana mengganggu Pak Arsha." "Alasan saja! Apa kamu menyukai calon suami saya? Iya begitu? Dasar perempuan murahan!" Hana tanpa diduga menarik rambut Alina yang dikunci. Mendapat serangan mendadak membuat Alina terkejut dan tidak sempat mengelak. Pekik kesakitan keluar dari mulut Alina. Sambil memegangi rambutnya, gadis pemegang sabuk hitam karate itu seketika membalikan keadaan, begitu berhasil memegang tangan Hana, segera dipelintirnya lengan wanita tersebut ke belakang punggung. Hana menjerit kesakitan bersamaan dengan Arsha yang keluar dari ruangan. "Sakit! Lepaskan!" "Ibu dulu yang menyerang saya dan mengusik ketenangan kantor ini, jadi bukan salah saya kalau saya mengambil tindakan tegas! Sudah saya sampaikan kalau Pak Arsha yang memberikan perintah langsung untuk tidak mengizinkan Bu Hana masuk dan menemui beliau, tapi Ibu nekat." "Saya calon istrinya Arsha!" "Nggak nanya, dan saya nggak peduli itu! Jadi saya mohon kerjasamanya." Arsha sengaja tidak mendekat, karena dia tahu Hana akan merajuk padanya dan playing victim. Arsha tahu juga melihat sendiri bagaimana Hana lebih dulu menyerang Alina. Kalau sekarang posisi terbalik, itu karena Alina membela diri dan menjalankan tanggung jawabnya. "Ada apa ini?" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN