Bab 7. Daddy

1003 Kata
Heru yang kebetulan baru keluar dari lift khusus jajaran petinggi perusahaan melihat Hana dipiting oleh Alin. Dengan langkah tergesa generasi kedua pemilik One Diamond itu mendekati dua wanita yang sedang berseteru. "Ada apa ini?" Hana juga Alina menoleh ke sumber suara, seketika Hana mulai cosplay jadi drama quen, karena merasa ada yang akan membelanya. "Tolong aku, Om. Wanita gila ini sudah menyerangku dan melarang bertemu dengan Arsha," rengek Hana dengan nada suara yang dibuat semelas mungkin. "Ck, playing victim," ucap Alina lirih. "Lepaskan Hana, dia bukan penjahat! Kamu tidak tahu siapa dia?" perintah Heru pada Alina yang langsung melepaskan pitingan tangannya dan sedikit agak mendorong tubuh Hana. "Saya tahu Bu Hana calon tunangan Pak. Arsha, tapi beliau juga yang meminta saya untuk tidak mengizinkan Bu Hana masuk dan bertemu beliau," terang Alina menjelaskan duduk perkara kenapa dia sampai bersikap seperti ini terhadap Hana. "Lalu kenapa kamu sampai memiting Hana?" "Bu Hana tadi yang menyerang sata terlebih dahulu. Saya hanya membela diri." Lanjut Alina tidak mau jadi tumbal ratu drama. "Bohong! Dia berbohong Om, dia yang pertama mem--" "Maaf Pak, tentu Bapak tahu kalau lorong ini terpasang lebih dari satu CCTV, jadi saya tidak perlu lagi mengulang penjelasan juga membela diri, mohon kebijaksanaan untuk melihat CCTV saja supaya semua jelas." Alina langsung memotong perkataan Hana yang akan semakin memojokkan dirinya. "Kalian berdua ikut saya ke ruangan Arsha!" Perintah Heru tidak bisa dibantah. Terpaksa Alina mengekor langkah orang nomor satu di perusahaan tempatnya bekerja. Sebaliknya Hana terlihat semringah saat berkesempatan untuk bisa menemui Arsha. Langkahnya terasa ringan di belakang Heru. Jangan ditanya kemana Arsha, lelaki itu masih berada di tempatnya, menyaksikan semua yang terjadi tanpa berniat mendekat atau menjelaskan apa terjadi pada Heru, karena ayahnya pasti akan membela Hana, maka dia lebih memilih menyiapkan bukti bagaimana kelakuan wanita pilihan orang tuanya itu. *** "Sha, kamu nggak tahu kalau Hana ribut sama sekretarismu di luar?" "Tahu Yah." "Lalu kenapa kamu diam saja? Terus apa maksudnya kamu meminta sekretarismu melarang Hana bertemu denganmu?" cecar Heru. "Ayah pasti sudah tahu alasannya kenapa aku sampai bersikap seperti ini? Dan satu hal lagi, aku tidak suka dengan orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginan." Arsha melirik tajam Hana yang sedari tadi menatapnya tanpa jeda. "Maksudmu apa Sha?" "Tanyakan saja pada Hana apa yang sudah dia perbuat padaku saat gala diner beberapa waktu lalu. Dan untuk kejadian di depan ruangan ini, Ayah bisa lihat rekaman CCTV siapa yang memancing keributan." Arsha menatap tajam Hana yang mulai gelisah. . "Mana rekaman CCTV-nya?" Arsha memutar laptop ke arah sofa, lalu mengklik tombol dan terpampanglah adegan kejadian antara Alina dan Hana, jelas sekali di layar menampilkan bagaimana Hana terlebih dahulu menyerang Alina dan benar adanya ucapan sekretaris Arsha itu kalau dia hanya membela diri. "Om, a--ku bisa jelaskan, a--" "Lalu apa lagi yang kamu lakukan saat gala diner?" Heru memotong ucapan Hana. "Nggak ada. Aku nggak melakukan apa-apa. Aku permisi." Hana gegas meninggalkan ruangan Arsha dengan rasa takut juga amarah karena Arsha mengetahui perbuatannya. "Jangan pernah kembali lagi muncul di hadapan saya atau semua bukti kejahatan kamu saya serahkan pada pihak berwajib." Ucapan Arsha sempat menghentikan langkah Hana sesaat dan setelah itu dengan cepat langsung keluar, bahkan tanpa berani menoleh sedikit pun. "Sekarang Ayah tahu' kan bagaimana kelakuan Hana? Apa Ayah dan bunda akan tetap menjodohkan aku dengan wanita kasar seperti itu?" "Ayah minta maaf, Nak. Ayah hanya mengikuti keinginan bundamu. Dan untuk kamu, Alina, saya juga minta maaf karena sempat meragukan kejujuranmu." "Tidak apa-apa Pak, saya maklum dengan hal tersebut. Kalau sudah selesai saya izin kembali melanjutkan pekerjaan saya." "Silakan." Heru mengulas senyum pada gadis berpenampilan sederhana, tapi tetap terlihat elegan itu. "Al, jangan lupa siang ini kita ada pertemuan dengan klien." "Baik Pak. Saya permisi." Alina beranjak dari ruang kerja Arsha. *** "Al, mau sampai kapan kamu mendiamkan saya seperti ini?" Arsha memecah keheningan kabin mobil saat dirinya dan Alina dalam perjalanan menuju resto tempat mereka akan bertemu dengan klien. Alina menatapnya tajam. “Sampai saya benar-benar bisa melupakan apa yang terjadi.” Arsha terdiam. Dia tahu ini bukan hal yang mudah, ditambah dengan kejadian tadi yang pasti semakin membuat gadis di sampingnya mengalami bad mood. Keheningan kembali menemani keduanya. Arsha juga seakan enggan untuk memutar lagu seperti biasa dilakukan ketika berkendara. Metting kali ini berjalan lancar. Alina mempresentasikan proposal kerja sama dengan epik, lugas dan mudah dipahami oleh klien sehingga membuahkan kesepakatan kerja sama. Arsha tersenyum puas dengan hasil akhir juga kinerja Alina. "Terima kasih." Asrha memecah keheningan saat mereka kembali ke kantor. "Untuk?" "Kamu berhasil membuat kesepakatan kerjasama dengan klien yang selama ini sangat susah untuk diyakinkan. Bahkan Bram saja sampai dua kali ditolak." "Mungkin memang baru sekarang rezekinya One Diamond bekerja sama dengan Sahid Group. Bukan karena saya, tapi memang sudah waktunya." Arsha menoleh kesamping, menatap Alina sejenak dengan rasa kagum sekaligus tidak percaya kalau gadis itu tidak menyombongkan hasil kinerjanya. Satu lagi nilai plus Alina membuat Arsha menarik sedikit ujung bibirnya menjadi senyuman tipis. "Saya perhatikan kamu jarang pakai perhiasan ya Al, kecuali jam tangan." "Ribet. Kalau jam memang sudah jadi keharusan, supaya ingat waktu, belajar disiplin." Dering ponsel Arsha menghentikan obrolan singkat dua anak manusia beda gender tersebut. Arsha memasang AirPods ke telinganya dan menerima panggilan dari ibunya. Sambil menanggapi pembicaraan ibunya, Arsha sesekali melirik Alina yang asyik memperhatikan suasana jalan melalui kaca di sampingnya. "Al, temani saya sebentar ya untuk cari kado," ajak Arsha begitu sambungan telepon berakhir. "Mau cari kado apa?" "Untuk anak-anak. Saya suka bingung milih apa." "Cewek atau cowok? Usianya berapa?" "Cewek, sekitar 3 tahun." "Oke nanti saya coba bantu memilihkan." Arsha langsung melajukan mobilnya ke sebuah mall yang kebetulan dilewatinya. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah menyusuri deretan outlet yang menjual mainan dan perlengkapan anak-anak. "Mau dikasih mainan atau baju?" tanya Alina yang fokus memilih baju-baju cantik. "Menurut kamu bagus yang mana?" "Semua bagus. Kalau mainan, pilih yang sekalian bisa untuk belajar, seperti ini." Alina mengambil puzel huruf dan angka, juga set permainan alat kedokteran. "Ambil dua-duanya, kebetulan belum punya semua." "Maaf kalau boleh tahu, ini untuk siapa?" "Untuk--" "Daddy!" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN