Bab 8. Hampir Saja

1112 Kata
Anak kecil berusia 3 tahun berlari ke arah Arsha dengan senyum polosnya. Arsha yang melihat hal tersebut langsung berjongkok dan merentangka kedua tangannya menyambutnya. "Sayang kok di sini? Sama siapa, hem?" Arsha menggendong anak perempuan tersebut dan menghujani dengan ciuman di seluruh wajahnya. "No daddy, geli!" protes anak perempuan itu. Alina mengerutkan keningnya mendengar dan melihat interaksi arsah dengan anak kecil tersebut, nggak mungkin kalau mereka tidak saling kenal dan bahkan tidak punya hubungan erat. Dari cara anak kecil itu memanggil Arsha saja sudah menjelaskan kalau mereka ayah dan anak. “Non Kaylaa! Ya Allah sus cari kemana-mana ternyata sama daddy. Maaf Tuan saya lalai menjaga Non kayla.” Tiba-tiba seorang perempuan muda dengan baju khas pengasuh anak mendekati mereka. “Sama siapa ke sini?” tanya Arsha pada perempuan yang mungkin pengasuh anak perempuan yang dipanggil Kayla. “Kami hanya berdua, Tuan. Kebetulan tadi nyonya meminta saya untuk membeli keperluan Non Kayla yang hampir habis.” “Ya sudah, nanti pulang bareng saja. Udah selesai belanjanya?” “Sudah Tuan, tinggal pulang malah Non Kay ngilang.” “Kay sudah makan?” Arsha lagi-lagi menciumi wajah Kayla dengan gemas. “Belum.” “Kita makan dulu, oke?” “Ote.” “Al, kita makan dulu ya, lalu antar Kayla pulang.” Arsha menoleh pada Alina yang sedari tadi diam di belakangnya. “Iya Pak.” “Dad, siapa aunty ini?” Kayla menatao Alina dengan dagu yang disandarkan di bahu Arsha. “Namanya Aunty Alina, panggil Aunty Al saja ya. Dia—“ “Mommy baru Kay ya?” sambar Kayla cepat dan membuat Alina membulatkan bola matanya karena kaget. “Bukan! saya sekretaris Pak Arsha.” Alina menjawab dengan cepat juga, takut ada salah paham, apalagi pengasuh Kayla langsung menatapnya penuh curiga. “Iya, Aunty Al calon mommy Kay yang baru. Kay mau nggak punya mommy Aunty Al?” “Pak!” protes Alina melotop pada Arsha. Yang diprotes seakan tidak peduli, malah meninggalkan Alina dan pengasuh Kayla begitu saja. Mau tidak mau Alina mengikuti kemana atasanya itu pergi. Food cort jadi pilihan Arsaha untuk mengisi perutanya siang ini. Sebenarnya tadi saat metting sudah ditawari makan, tapi dirinya hanya memesan secangkir kopi juga cromboloni low fat. Alina juga tidak memesan makanan berat, hanya makan Korean sandwich. "Aunty, Kay boleh minta tolong?" "Minta tolong apa?" "Antar Kay beli itu." Kayla menunjuk konter yang menjual ayam goreng tepung dengan berbagai varian saos. Alina tidak lekas menjawab permintaan Kayla, tapi malah melihat Arsha yang sedang sibuk dengam Ipad-nya. "Aunty--" "Tolong antarkan Al, sekalian pesankan saya nasi Padang komplit di gerai dekat ayam goreng," ucap Arsha mengalihkan fokusnya dari Ipad. "Oh, baiklah. Ayo Kay." Kayla menggandeng tangan Alina, keduanya berjalan beriringan menuju gerai ayam goreng dengan diikuti oleh pengasuh Kayla. "Kayla biasanya suka bagian apa?" tanya Alina pada pengasuh Kayla. "Paha atas pakai saos keju." Alina memesan sesuai dengan yang disampaikan oleh pengasuh Kayla. Selesai dengan permintaan Kayla, Alina beralih ke gerai masakan Padang, memesan permintaan Arsha. "Sus pesan aja mau makan apa, Kayla biar sama saya,” ucap Alina pada pengasuh Kayla. “Memang nggak pa-pa kalau Non Kayla sama Nona?” tanyanya sedikit ragu. “Nggak pa-pa Sus. Sementara Sus makan, Kayla tanggung jawab saya, jadi nikmati waktu yang ada, kesempatan nggak datang dua kali.” Alina menepuk lembut pundak pengasuh Kayla. Sepeninggal pengasuh Kayla, Alina bermaksud mengajak anak perempuan yang sudah lengket padanya itu untuk mencari makanan yang sedang diinginkannya. “Al, bayarnya pakai ini saja.” Arsha tiba-tiba sudah ada di belakang Alina dan menyerahkan blackcard-nya pada Alina. “Hah? Tadi ayam gorengnya Kayla udah saya bayar, yang punya Bapak memang belum sih,” jawab Alina sedikit terkejut. “Yang buat bayar makanan Kay udah saya ganti. Pegang ini, mulai sekarang kalau saya butuh apa-apa kamu pakai kartu itu saja.” Arsha mengambil alih makanan dari tangan Alina dan menganjak Kayla kembali ke meja mereka. “Carilah makanan yang kamu mau, bayarnya juga pakai itu saja. Kay ayo sama daddy dulu, biar aunty beli makanannya dulu.” “No, Kay mau ikut aunty,” tolak Kayla. “Nggak pa-pa Kayla sama saya Pak. Ayo Kay.” “Lets go!” sahut Kayla semangat. *** “Pak saya permisi, Kayla juga sudah nyenyak,” pamit Alina pada Arsha begitu keluar dari apartement Arsha, tempat yang selalu akan mengingatkan perlakuan buruk Arsha terhadapnya malam itu. “Saya antar, sebentar saya ambil jaket dan kunci mobil.” Arsha beranjak dari sofa. “Nggak usah Pak, saya bisa naik taksi online,” tolak Alina. Arsha menatap Alina sambil menggenakan jaketnya, gadis yang mulai paham kalau atasannya sangat tidak suka dibantah. Bukan Alina namanya kalau tidak keras kepala. “Pak, kasihan Kayla kalau ditinggal sendiri.” “Ada susternya, sudah ayo!” Arsha mengandeng tangan Alina, dan pemiliknya bukannya beranjak malah menatap tajam Arsha dan beralih pada dua tangan bertaut. “Ayo Al, mau--” Arsha gegas melepaskan genggaaman tangannya begitu tersadar dengan apa yang dilakukannya. “Maaf,” ucap Arsha singkat dan melanjutkan langkahnya. Alina lantas mengekor di belakang atasannya tersebut. Mobil Arsha meninggalkan basement apartemen. Alina sesekali melihat lelaki yang fokus dengan kemudinya. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan tentang siapa sejatinya atasannya itu. Terutama tentang Kayla, rasa penasaran Alina begitu kuat. "Ada yang ingin kamu tanyakan?" Arsha memecah Keheningan di antara keduanya. "Kayla putri Bapak?" Arsha menatap Alina dalam, kebetulan traific light sedang menyala merah. Lelaki pemilik dimple menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Alina. "Kayla salah satu alasan kenapa saya menolak perjodohan dengan Hana. Saya tidak yakin kalau dia bisa menerima keberadaan Kayla dalam hidup saya." "Bapak divorce? Atau--" "Mommy Kayla meninggal selang dua hari setelah melahirkan." Arsha kembali melajukan mobilnya setelah lampu berubah hijua. "Maaf," ucap Alina singkat. "Kayla itu anak yang susah dekat dengan orang baru, tapi dengan kamu bisa langsung lengket gitu, jadi heran saya. Kamu pakai pelet apa?" Arsha terkekeh. "Pelet ibu peri baik hati dan tidak sombong," sambar Alina asal, semakin membuat Arsha tergelak. Alina menarik sedikit sudut bibirnya, baru kali ini melihat atasannya yang terkenal kaku, dingin dan jarang tersenyum ternyata bisa tertawa selepas ini. "Kulkasnya bisa mencair ternyata," ucap Alina pelan. "Kenapa Al?" "Nggak pa-pa Pak, nanti di depan belok kiri ya Pak." "Kamu lupa saya pernah ke sini?" Alina membuang napas kasar, entah kenapa dia bisa seketika lupa kalau Arsha pernah mendatangi apartemennya untuk meminta maaf dan memintanya juga kembali bekerja. Tanpa dirasa, mobil Arsha sudah berhenti di parkiran, dan lelaki itu membuka pintu mobil untuk Alina. "Terima kasih Pak, tapi seharusnya nggak perlu repot-repot begini Pak." "Saya nggak merasa direpotkan, ayo saya an--Al awas!" Arsha menarik kasar tubuh Alina karena ada mobil dengan kecepatan tinggi melintasi dan hampir mencelakai gadis itu. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN