Alina berjalan tergesa keluar dari apartemen Arsha, napasnya memburu bukan karena kelelahan, melainkan karena hatinya yang terasa sesak. Tuduhan yang dilontarkan Indah begitu tajam, merobek kepercayaannya dalam sekejap. Dia hanya ingin membantu, hanya ingin menjaga Arsha yang sedang sakit, tapi yang dia dapatkan justru hinaan dan pengusiran. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh saat ia masuk ke dalam taksi. Ia memeluk tasnya erat-erat, seakan itu bisa menahan luka di hatinya. "Sudah cukup. Aku tidak akan kembali ke sana lagi," ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Tekadnya bulat, besok ia akan mengajukan surat pengunduran diri. Bekerja di bawah tekanan itu sulit, tapi lebih sulit lagi saat harus bertahan dalam penghinaan tanpa alasan. Di sisi lain, di apartemen Arsha,

