"Sayang, apa yang kamu tangisi?" ucapku sambil terus mengusap punggungnya. "Masih nanya juga! Ngeselin deh Om nggak peka!" ucapnya manja masih dalam dekapanku. Aku semakin mengeratkan pelukanku gemas. Moodnya mudah sekali berubah. Kadang bisa menjadi sosok dewasa, tapi seringnya kekanak-kanakan. Haha ... "Sayang, dengarkan aku." Aku menyentuh kedua bahunya, mendongakkan dagunya pelan agar menatapku. "Janin itu bukan anak kandungku. Aku bisa membuktikannya. Percayalah, selama menikah dengannya sekalipun aku tidak pernah melakukannya. Cuma hampir saja," jelasku menatapnya lekat. "Tuh kan ...." Ia kembali menangis. Apa yang salah? Memang benar kan aku hampir melakukannya. Tapi tidak pernah terealisasi. Aku menghela napas panjang. "Besok aku akan cari bukti. Terus dukung aku, tetaplah d

