Slamet Ghaissan menambatkan pandangan ke langit-langit. Sorot matanya seumpama proyektor, menampilkan slide demi slide kenangan yang terjadi tujuh tahun silam. File kenangan dalam otaknya masih tersimpan dengan rapi. Peristiwa itu tidak mungkin Slamet lupakan, telah menjadi bagian penting dalam sejarah hidupnya. Durasinya kurang dari setengah jam, tetapi sangat membekas sampai sekarang. Ia masih mengingatnya secara detail adegan tersebut. Setting adegan berada di rental komputer, seberang kampus yang sudah tutup. Waktu itu hujan baru saja saja menuntaskan hajat, hanya menyisakan tetes-tetes kecil. Slamet dan Rachela duduk di bangku panjang. Mereka dipisahkan sebuah jaket kumal. “Ghaissan, pulang yuk?” Rachela menoleh ke arah Slamet. “Hujan sudah berhenti.” Slamet memandang langit. “

