Slamet menarik resleting tas ransel. Sebelum meninggalkan kamar, ia membereskan tempat tidur. Tanpa ia sadari di luar kamar Isna memperhatikannya dengan hati sedih. Di belakang Isna, Uday, giant, dan Sissy merasakan hal yang sama. Slamet menarik napas dalam-dalam, menyesal tidak bisa melaksanakan amanat Ustaz Amin dengan baik. Tugasnya untuk menghidupkan madrasah terhenti. Tetapi ia tak ingin berlarut dalam penyesalan. Meski merasa bersalah, tetapi ia menganggap ini pelajaran berharga, agar selalu berhati-hati setiap kali melakukan sesuatu. Ada dua kekhilafan yang membuat Slamet sadar. Pertama, ia lalai tidak menemui pengurus yayasan periode sebelumnya, sebelum mulai menghidupkan kembali madrasah. Kedua, meski berniat baik, tetapi ia tidak melakukan pertimbangan dulu sebelum bertindak.

